Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 55 - Melamar Viona


__ADS_3

Saat tubuh Viona mulai terasa lemas, Davin langsung membantingnya di atas ranjang. Mengambil alih kendali dan menghentak kuat sang kekasih. Tubuh Viona bergerak sesuai irama hentakannya, tak terkecuali dada sintal itu. Makin membangkitkan gairah Davin.


"Aku akan mengeluarkannya di dalam."


"Jangan!" tolak Viona, dia bahkan langsung membuka matanya yang terpejam nikmat.


"Pokoknya keluar di luar," ucap Viona lagi, diantara nafanya yang terengah, karena Davin terus menggagahinya.


"Biar, biar kamu hamil dan tidak marah-marah lagi, tidak menuduhku yang bukan-bukan dan tidak berpikir untuk mengakhiri hubungan kita."


"Daviinh, jangan."


"Janji dulu jangan marah-marah, semuanya kan bisa dibicarakan."


"Kenapa kamu jadi cerewet, biasanya lebih suka aku mendesaah saja dari pada bicara."


"Ini ceritanya lain, masalah genting."


"Iya iya, aku tidak akan marah lagi."


"Bagus."


Setelahnya Davin memperkuat tempo mainnya, bahkan meremat dada besar itu hingga tumpah. Viona menggelinjang dan mencengkram kuat lengan Davin sebagai pelampiasannya atas pelepasan yang dasyat.

__ADS_1


Davin menyeringai, kini giliran dia.


"I'm coming baby," lenguh Davin, secepat kilat dia menarik diri dan menumpahkan semua laharnya diatas perut sang kekasih. Terasa hangat di perut Viona dan geli. Apalagi perut Viona masih kembang kempis, mengakhiri percintaan mereka tepat di pukul 2 dini hari.


"Tisue tisue," ucap Davin, ia turun dari atas ranjang, sementara Viona hanya diam menunggu dibersihkan.


Selesai beres-beres mereka tinggal tidur nyenyak.


Subuh datang dan lagi-lagi jadi masalah.


Agar tidak membersihkan 2 kali akhirnya mereka memutuskan untuk main di kamar mandi, dibawah guyuran air mereka memadu kasih. Desahann Viona terdengar lebih jelas daripada gemericik air itu.


"Hah! segar!" ucap Davin setelah dia dan Viona keluar dari dalam kamar mandi.


Lalu sama-sama mengganti baju, Viona menggunakan baju kantor dan Davin baju sekolah. Di apartemen ini sudah banyak berisi baju mereka berdua.


"Malam nanti aku akan menemui kedua orang tuaku," ucap Davin.


"Mau bicara apa?"


"Aku ingin menikahimu sekarang, resepsinya bisa nanti-nanti."


Viona terkejut, bahkan gerakan tangannya yang sedang menyisir pun terhenti, namun ucapan Davin itu mampu membuat hatinya berbunga pun dengan bibirnya yang tersenyum lebar.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Kenapa ingin menikahi ku buru-buru."


"Ingin membuatmu segera hamil, mengikatmu dengan tali suci pernikahan, aku tidak ingin kita jadi ragu. Aku ingin selamanya kita bersama seperti ini."


"Tapi aku tidak mau bicara dengan papa Gunawan, hubunganku dengan dia tidak baik."


"Kamu cukup diam saja, setelah aku mengatakan pada kedua orang tuaku, aku akan mengatakannya pula pada ayah Gunawan dan mama Dania. Tidak usah lamaran, langsung menikah saja."


"Sungguh?" tanya Viona dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Semakin berkaca-kaca lagi saat tiba-tiba Davin memasangkannya cincin ditangannya yang sedang memegang sisir.


Davin mencuri cincin ibunya untuk melanar Viona pagi ini. Cincin yang dia ambil sebelum malam tadi pergi ke rumah Viona.


Mereka tidak pernah bertengkar, sekalinya bertengkar Davin sangat takut Viona mengucapkan kata putus.

__ADS_1


Karena itulah, sebelum hal buruk itu terjadi, pagi ini Davin melamar Viona.


"Viona Gunawan, maukah kamu menikah denganku?"


__ADS_2