
"Jadi Dinara teman sekelasnya Davin, terus Viona jadi guru BK kalian?" tanya Alteza.
Dan ketiga orang itu menganggukkan kepalanya kompak. Makan malam menang sudah usai tapi mereka semua masih duduk di tempat yang sama menikmati hidangan penutup.
"Kalau di ingat-ingat dulu itu sebenarnya Davin bukan mau sekolah disana, tapi tiba-tiba dia minta pindah sekolah," sahut Mutia.
Viona yang mendengar itupun langsung menatap Davin dengan matanya yang menyipit menatap curiga.
Jadi pertemuan mereka yang kedua itu adalah manipulasi yang dilakukan oleh Davin, pikir Viona. Menyadari itu Viona mendelik namun Davin malah mengedipkan sebelah matanya genit.
Sementara Alteza melirik Viona dan Dinara secara bergantian, dia berpikir bahwa salah satu diantara kedua gadis itu pasti ada yang diincar oleh anak nakal nya.
Dan saat melihat Viona yang menatap Davin dengan tatapan tajam dia langsung tahu jawabannya.
Benar-benar bocah nakal, jadi dia lebih suka yang matang. Batin Alteza. dia pun menggelengkan kepalanya kecil tidak habis pikir atas kelakuan sang anak.
Apa jangan-jangan Davin Jadi semangat untuk masuk ke perusahaan demi terlihat pantas bersanding dengan Viona?
Astaga!
__ADS_1
Jangan-jangan seperti itu.
Alteza terus membatin sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Tante, aku mau ke kamar mandi, kamar mandi nya dimana?" pamit Viona yang kebelet pipis.
"Di kamar tante saja, kamar mandi di bawah sedang direnovasi," jawab Mutia, dia hendak bangkit sebelum akhirnya orang karena dicagah oleh Davin.
"Tidak perlu ke kamar Mama, ke kamar ku saja, aku sekalian mau ambil ponsel. Ayo!" ajak Davin, dengan santainya dia bahkan mengambil 1 buah anggur lalu dimakan begitu saja.
Membuat semua orang tak sedikit pun menaruh curiga dan membiarkan kedua orang itu pergi naik ke lantai dua menuju kamar Davin.
Sementara yang lain kembali asik dengan obrolan mereka. Ghaisan dan Dinara pun sesekali terlibat obrolan.
setelah lepas dari tangga Davin langsung menggenggam tangan sang kekasih dan diajaknya berlari untuk menuju kamar.
"Daviin, jangan lari," ucap Viona, tapi kakinya pun sedikit berlari mengikuti langkah Davin.
sampai akhirnya mereka masuk ke dalam salah satu ruangan dan Davin mengunci pintunya.
__ADS_1
"Aah," lenguh Viona saat Davin langsung memeluknya dan meremat kasar salah satu dada.
"Eughh Vin, jangan Gila ini di rumah mu." Viona coba mengingatkan karena Davin mulai menyingkap gaunnya dan menurunkan penutup tipis itu.
"Sengaja sayang, agar saat berada di kamar ini aku selalu ingat kamu."
Davin mendorong Viona hingga sampai di meja kaca kamar itu, membuat sang gadis membungkuk dan bepegangan pada meja lalu dia menyentaknya dari belakang.
"Ahh," rancau Viona. Fantasi ini makin menggila saat mereka berdua bisa melihat dengan jelas penyatuan itu di dalam cermin. Davin terus menyentaknya kuat, dengan kedua tangan yang aktif bergerilya ditubuh Viona. Satu memutar-mutar intinya dan satu lagi meremati dada.
Hentakan dan tangan Davin bergerak cepat, hinga akhirnya mereka mencapai puncak. Permainan tercepat yang pernah mereka lakukan selama ini.
"Aduh ngiluu," keluh Viona, sementara Davin terkekeh. Memeluk tubuh wanitanya dari belakang dan menciumi pipi Viona dengan sayang.
"Pengen di ranjang tapi asik disini ya?" tanya Davin dan Viona mengangguk.
"Hooh, ada cerminnya."
Keduanya terkekeh, lalu buru-buru melepaskan diri saat terdengar pintu kamar itu diketuk.
__ADS_1
"Kamar mandi!" desis Viona lalu berlari ke arah sana. Sementara Davin membenahi celananya dan memasang wajah datar.
Lalu membuka pintu.