
Selesai upacara bendera, Davin langsung berlari menuju ruang UKS.
Sampai disana dia melihat Viona yang berdiri memperhatikan tim kesehatan sekolah memeriksa keadaan siswi itu.
Sayang! panggil Davin dari dalam hati, namun Viona tidak menoleh ke arahnya.
"Sst!" panggil Davin dengan desis ular.
"Sstt!" panggilnya sekali lagi dan akhirnya Viona menoleh.
Dengan cepat Viona menggerakkan tangan kanannya seperti menahan, memberi isyarat agar Davin tidak masuk, karena pemeriksaan ini membuat tim kesehatan harus membuka baju sang siswi.
Jadi, Viona lah yang menghampiri Davin.
Mereka berdua berdiri diambang pintu dengan jarak aman, karena banyak pula murid yang sedang berseliweran.
"Kenapa?" tanya Davin dengan pelan, nyaris berbisik namun gerak bibirnya dapat dibaca jelas oleh Viona.
"Sepertinya sakit lambung, sana ke kelas, sebentar kan lagi masuk," titah Viona pula.
Tapi Davin gemas sendiri jika hanya pisah-pisah saja, tidak ada ciuman, tidak ada belaian, tidak ada remasaan.
Ah! dia tidak suka perpisahan seperti itu, tidak hangat.
__ADS_1
Davin bahkan mengerucutkan bibirnya kecewa, sementara Viona hanya tersenyum menahan tawa.
"Nanti sore bertemu di apartemen, aku akan menunggu mu di sana," desis Viona pula, agar tak ada yang mendengar.
"Menunggu dengan memakai lingerie," desis Davin dan Viona mengangguk.
"Lingerie merah."
"Iyaaa," desis Viona dengan kedua matanya yang mendelik.
Dengan terkekeh Davin berlari menjauh, mereka benar-benar berpisah. Viona kembali masuk ke UKS sementara Davin masuk ke dalam kelasnya.
Sepulang sekolah.
Jadi sebelum mulai bekerja, Ghaisan meminta Davin untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa si Bang? aku sibuk sekarang," keluh Davin, seraya menjatuhkan tubuhnya diatas sofa empuk ruangan itu. Ruangan Direktur Utama yang paling mewah dan besar, nyaman sekali.
Davin bahkan membayangkan jika ini ruangannya dia akan membawa Viona datang kemari.
Ghaisan tidak langsung menjawab, dia lebih dulu duduk di hadapan sang adik.
"Katakan, katakan alasan sebenarnya kenapa kamu ingin bekerja?" tanya Ghaisan.
__ADS_1
Davin yang ditanya seperti itu pun langsung duduk dengan tegap, mode serius.
"Aku punya alasan ku sendiri, Abang tidak perlu tahu."
"Jabatanmu sekarang membuat mu punya banyak pekerjaan. Belum lagi sebentar lagi kamu ujian nasional. Apa bisa menyeimbangkan keduanya?"
Davin terdiam, karena mulai berpikir jika itu mungkin akan sulit. Sementara dia pun ingin mendapatkan nilai ujian nasional yang tinggi, hingga bisa mendaftar di Universitas ternama, agar jalannya menuju menikah semakin di depan mata.
Kini Davin jadi ragu, mengatakan yang sejujurnya pada Ghaisan atau tidak. Tapi dia dan Viona sudah sepakat untuk menyembunyikan hubungan ini hingga dia lulus nanti, hingga tak akan ada skandal di sekolah SMA Tunas Bangsa.
"Katakan apa alasan mu? jika itu alasan yang penting aku bisa saja meminta pada ayah untuk mengangkat mu jadi wakil direktur utama sekarang juga, meski tanggung jawabmu akan besar, setidaknya tidak perlu datang ke kantor setiap hari."
Davin masih terdiam, sejujurnya dia ingin sekali mengatakan semuanya kepada Ghaisan, tapi seidikit ragu takut Viona akan kecewa padanya jika dia memberi tahu orang lain tentang hubungan ini tanpa kesepakatan.
"Vin! malah melamun."
"Katakan," tuntut Ghaisan sekali lagi.
"Sebenarnya ... aku ...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kasih tau nggak ya? ah Davin bingung, gimana dong? 😭
__ADS_1
Mana vote nya biar daku semangat 45 😗😗😗