
"Aku tidur disini juga, sudah terlalu malam," ucap Ghaisan mengalihkan pembicaraan antara Dinara dan Davin.
Sampai akhirnya mereka sampai di ruang tengah dan bertemu dengan Viona.
"Terserah abang, tapi tidur di sofa, kamarnya kan cuma ada 2."
"Hem." jawab Ghaisan singkat.
Dinara salim pada sang kakak, berbincang sebentar baru masuk ke kamar masing-masing, tinggal Ghaisan disana, karena dia akan tidur di sofa.
Televisi tetap menyala sebagai temannya.
Davin pun memberikan bantal dan selimut untuk sang kakak.
"Volume tv nya agak dikencangkan nggak papa Bang, dari pada dengar suara setan," ucap Davin lalu terkekeh, Ghaisan yang paham kemana arah pembicaraan Davin hanya diam, tetap memasang wajah datar seolah tudak terpengaruh.
Dan Davin yang melihat wajah kaku itu jadi kesal sendiri, jadi semakin ingin menunjukkan suara errotisnya dia dan sang istri ketika memadu kasih.
Tanpa banyak kata lagi Davin segera pergi, kembali masuk ke dalam kamarnya dan menemui sang istri.
Melihat Viona yang sudah menyambutnya dengan kedua kaki terbuka lebar.
__ADS_1
"Dadd," panggil Viona nakal dan makin bergairahlah Davin di dibuatnya, apalagi masuk di usia 9 bulan kedua dada kesukaannya semakin padat berisi, membuatnya selalu puas ketika sudah menyusu.
"Aku datang sayaang," jawab Davin, menghampiri seraya menanggalkan semua pakaiannya dan menyergap kedua dada yang sudah menggantung tanpa penutup.
Bunyi dekapan mulut Davin bahkan terdengar jelas ketika dia memakan buah semangka itu, belum lagi Viona yang terus mendesah nikmat. Pemanasan yang membuat liang Viona basah dan memudahkan jalan Davin masuk.
Dengan tempo yang pas Davin pun menggerakkan tubuhnya, membangun jalan lahir untuk sang anak.
******* mereka bersahutan indah, uh ah daaddyy teruas seperti itu untuk menjemput kepuasan mereka.
Dan siapnya suara laknaat itu tetap mampu Ghasian dengar meski sudah dihalangi oleh suara TV.
Celananya pun sesak butuh pelampiasan pula, dan kamar Dinara yang sedikit terbuka membuatnya segera masuk ke dalam sana.
Ghaisan bahkan mendengar dengkuran halus Dinara.
"Dia enak-enakan tidur sementara aku disiksa oleh adik laknaat itu."
Ghaisan duduk ditepi ranjang, persis di sebelah Dinara. Melihat dada Dinara yang sedikit terbuka hingga memperlihatkan tanda merah yang tadi dia buat.
"Dinara," panggil Ghaisan.
__ADS_1
"Nara," ulangnya lagi, namun Dinara hanya menggeliat dan tidak membuka mata.
Ghaisan lantas bangkit, mematikan lampu utama kamar ini dan mengubahnya menjadi kamar remang-remang, lalu naik ke atas ranjang dan tidur menindih snag gadis.
Ghaisan menyingkap baju tidur itu dan menemukan dada Dinara yang tidak ditutup apa apa.
Pria matang ini tersenyum, berarti Dinara tidur memang tidak pernah menggunakan Bra, memudahkan aksinya.
Satu per satu dia kulum itu, membuat Dinara menggeliat meski matanya terpejam.
Di kampus tadi begitu banyak tugas hingga membuatnya lelah, malam ini dia tertidur pulas sekali, karena ciuman panasnya dengan Ghaisan di dalam mobil membuatnya terbayang hingga sampai ke mimpi.
"Uh," lenguh Dinara dan Ghaisan terus melanjutkan aksinya. Mulutnya terus mengulum pucuk dada dan tangan kanannya bersemayam di bawah sana.
Menikmati lembah yang lembab hingga jadi basah.
"Ahh shiit! aku ingin memasukinya." umpat Ghaisan.
Namun pikirannya masih kacau, masa iya melakukan ini disaat Dinara hanya menganggapnya sebagai mimpi.
*
__ADS_1
*
masukin nggak guys? wkwkwk