
Davin mencoba tenang, kali ini dia tidak ingin terburu-buru. Ini adalah percintaan pertamanya dengan Viona dengan status mereka yang baru, sebagai suami dan istri.
Davin ingin menciptakan kenangan bercinta yang akan dia dan Viona ingat seumur hidup.
"Kenapa berhenti?" tanya Viona dengan nafasnya yang terengah, deru nafas mereka bahkan saling bersahutan merdu, jarak yang terlalu dekat membuat keduanya bisa merasakan hangatnya nafasnya itu.
"Karena aku ingin menikmati tubuhmu," ucap Davin, dan terdengar begitu nakal di telinga Viona.
Apalagi saat Davin melepas gaunya secara perlahan hingga turun dan menampakan dua gundukan sintal itu. Davin mencium belahannya, lalu menyesap hingga membuat tanda merah. Viona hanya bisa menganga, merasakan sensasi yang entah. Bukan turun, kepala Davin kembali naik dan mengecup tiap inci tubuh sang istri, tulang selangka, leher dan berhenti hingga ditengkuk. Viona meremang, permainan pelan ini membuat dia semakin mabuk.
"Ah Viin." Viona meremat lengan Davin saat suaminya itu terus menjilati tubuhnya, kembali ke dada dan mengulumnya salah satu pucuknya.
Jika terus seperti ini Viona bisa gila.
Setelah membuat Viona duduk diatas meja rias, dia pun menarik diri dan menatap lekat wajah sang wanita yang kini jadi istrinya.
"Aku sangat mencintaiku Vio, sangat."
"Me too, aku juga sangat mencintaimu sayang."
__ADS_1
Setelahnya Davin mempercepat tempo permainan. Kini dia sudah berhasil membuang semua penghalang di tubuh sang istri, Davin pun menyusu seperti bayi yang kelaparan. Sementara satu tangannya tak tinggal diam, berputar-putar di titik paling sensitif Viona, titik seperti kacang yang menantang.
Sementara Viona terus mendesah, mengeluarkan hasrat yang nyaris meledak.
"Aah Vin, faster baby, ught," rancaunya seperti jalaang š¤£
Namun semakin jalaang Viona semakin Davin menyukainya, Viona meledak, hingga ada cairan bening yang mengalir dijari tengah Davin. Ia mencabut jari itu dan menggantinya dengan yang lebih besar, Jleb! dan Viona mengaga merasakan nikmat yang tidak pernah berhenti.
Davin menggendong sang istri seperti bayi koala dengan penyatuan mereka, lalu merebahkan Viona diatas ranjang dan dia mulai mengukungnya.
"Sebelum ranjang ini ambruk, aku tidak akan berhenti."
Viona memang minta dihajar.
Ahh ahh ahh, desah Viona sesuai hentakan yang Davin berikan, kedua semangka itupun seperti bola basket yang di dribbel.
Davin sungguh menggilai dada itu.
Puas memompa tubuh Viona dari depan, kini Davin membalik tubuh istrinya dan menusuk dari belakang, menyaksikan lekukan indah tubuh sang istri dan punggung mulusnya.
__ADS_1
"Ah Vionaah," lenguh Davin.
Di menit ke 20, main kuda-kudaan itu nyaris selesai, mulut mereka sama-sama menganga menyambut pelepasan yang nyaris tiba.
"Ah Vio, ini keluar di dalam kan?"
"Iya sayang, keluarkan semua sampai rahimku penuh uh."
Gerakan Davin semakin membabi buta. Sampai akhirnya lahar itu menyembur sempurna.
Decitan ranjang pun terhenti, saat tubuh keduanya saling memeluk erat, membentuk sebuah bola yang di dalamnya meledak-ledak.
"Uhhg Vin, aku mau lagi," rengek Viona, percintaan ini benar-benar membuatnya gila. Bahkan tanpa malu dia meminta lebih.
"Sekarang biarkan aku yang melayani kamu," ucap Viona semakin nakal.
Istri Jalaang milik Davin memang tidak ada yang bisa menandingi.
Viona mendorong tubuh Davin, hingga kini berubah posisi. Dengan tubuh yang masih menyatu itu, Viona mengikat rambutnya tinggi dan mulai beraksi.
__ADS_1