Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 126 - Jangan Terlihat Kamera


__ADS_3

Dengan kasar Ghaisan membuka pintu kamarnya. Lalu melihat Dinara yang nasih duduk di meja belajarnya dan melakukan panggilan video call dengan beberapa teman.


Mendengar pintu dibuka dengan kasar pun Dinara langsung menoleh dan melihat suaminya masuk.


Dia mendadak tidak enak hati, karena tugasnya dengan teman-teman belum selesai. Padahal tadi dia sudah berjanji akan melayani suaminya saat berada di rumah ini. Di kamarnya semasa gadis.


Ghaisan menghampiri istrinya, bersandar pada meja dan menatap Dinara. Dia tidak terlihat di panggilan video call itu. Ghaisan lalu mengambil salah satu buku dan pena, dia lantas menuliskan sesuatu.


Belum selesai?


Dinara mengangguk kecil.


Masih lama?


Dinara mengangguk lagi, membuat gerakan angka 30 menggunakan jari tangan kanannya.


Dan melihat itu Ghaisan membuang nafasnya kasar, padahal dia sudah buru-buru untuk kembali namun istrinya malah masih sibuk sendiri.


Disaat Ghaisan ingin pergi dari sana, Dinara menahan tangannya. Meminta Ghaisan untuk tetap tinggal.


Lalu Dinara menuliskan sesuatu yang membuat wajah suaminya kembali bahagia.

__ADS_1


Abang boleh menyentuh ku, tapi jangan sampai terlihat di kamera.


Senyum seringai Ghaisan muncul, istrinya ini selalu saja memberinya fantasi baru dalam bercinta, membuatnya semakin mencintai dengan begitu dalam.


Dinara pun lantas mengubah posisi kameranya, hingga hanya menangkap kepalanya hingga pundak. Sementara dari dada ke bawah, semuanya tertutup dan aman untuk dijamah sang suami.


Dinara kembali melanjutkan diskusi nya dengan ketiga temannya yang lain. Sesekali pun Dinara bicara menyampaikan pendapatnya.


Sampai akhirnya dia mengigit bibir bawahnya saat Ghaisan memintanya duduk di ujung kursi itu dan membuka kakinya lebar, sementara lidah sang suami mulai berselancar dibawah sana.


Sesekali Dinara bersuara Emmh, seolah sedang berpikir, padahal dia sedang menikmati permainan lidah sang suami.


"Nara, sebaiknya besok kita temui dulu asisten dosen itu sebelum pergi untuk survey."


"Emh Iya baiklah, catat saja poin-poinnya agar kita tidak lupa." balas Dinara dengan erangan nikmat yang tertahan.


Sampai entah di menit keberapa akhirnya Dinara menegang, dia bahkan mencengkeram pinggiran meja dengan begitu kuat saat gelombang kenikmatan itu menghampiri dirinya.


Diakhiri dengan helaan nafas yang terdengar berat.


"Nara, seperti ini sudah terlalu larut malam, kita akhirnya saja hari ini."

__ADS_1


"Em iya baiklah, sampai bertemu besok," jawab Nara.


Semua teman-temannya sudah tahu jika Dinara sudah menikah dan kini hamil 3 bulan.


Dinara pun mematikan sambungan telepon itu dan menatap suaminya yang masih bersimpuh dihadapan dia.


"Abang, kok aku sampe keluar sih, kan ku pulang pegang pegang aja, nggak sampe masuk-masuk."


"Tapi enak kan?"


Dinara mencebik, perkara itu jangan ditanya, tentu saja jawabannya ita.


Ghaisan lalu bangkit, dia menggendong sang istri dan membuatnya duduk di meja belajar.


"Sekarang giliran sayang yang buat abang senang."


"As you wish baby," jawab Dinara manja, dia langsung membuka kakinya lebar memberi akses masuk senjata suaminya untuk tenggelam. Hingga akhirnya baik Dinara ataupun Ghaisan menganga merasakan nikmat bersama.


Dengan posisi berdiri itu, Ghaisan terus memompa istrinya dengan tempo pelan, tidak ingin menyakiti namun tetap memberikan kenikmatan, dia pun sedikit menunduk dan menjangkau dada yang bergerak asal. Hingga ujungnya masuk semua ke dalam mulut.


Dessah Dinara tak bisa lagi ditahan.

__ADS_1


__ADS_2