Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 41 - Abang Ghaisan


__ADS_3

Flashback tadi siang.


"Sebenarnya ... aku ..."


"Sebenarnya apa?" potong Ghaisan yang sudah tidak sabar, apalagi saat melihat Davin yang nampak ragu untuk mengatakan alasannya.


"Ya sudah kalau tidak mau memberi tahuku, kamu akan semakin lama berada di posisi ini," timpal Ghaisan dengan suaranya yang dingin, dia bangkit dari duduknya dan pindah duduk di kursi kebesaran. Ghaisan memiliki sikap yang lebih dingin dibandingkan Davin. Terlahir sebagai anak pertama di keluarga Alteza membuat Gaisan ingin terlihat sempurna, Dia tidak memiliki waktu bermain seperti Davin.


"Aku bukan tidak ingin memberi tahu mu, tapi masih ragu."


"Seorang pria mana boleh ragu, apapun keputusannya nanti akan tetap jadi tanggung jawabmu."


"Baiklah, berhenti menceramahi aku, aku akan mengatakan alasannya."


Ghaisan diam, dengan menatap dalam sang adik dia menunggu Davin bicara.


"Aku ingin menikahi Viona."


Hahahaha, tiba-tiba Ghaisan tertawa keras, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama ini, mengingat statusnya yang menyandang pria dingin.


"Menikahi Viona? Viona Gunawan? jangan bercanda!" ucap Ghaisan, susah payah dia menghentikan tawanya.


"Jangan menertawakan aku, aku bahkan sudah menanam saham."


Dan mendengar itu, tawa Ghaisan langsung berhenti.

__ADS_1


Adiknya ini benar-benar pria berengsekk.


"Jangan mempermainkan wanita, Viona itu wanita baik-baik."


"Aku tau, kami melakukannya tanpa sengaja, karena itulah aku ingin bertanggung jawab."


Ghaisan tak bisa berkata apa-apa lagi, apalagi saat Melihat kesungguhan yang terpancar di wajah Davin ketika membicarakan tentang Viona.


Dihatinya dia merasa ada perasaan yang entah, namun coba untuk Ghaisan singkirkan.


Flashback end.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu tidak marah?"


"Aku percaya padamu, pasti kamu memiliki alasan kenapa sampai harus memberi tahu Ghaisan."


Davin tersenyum, dia kembali mengangkat wajahnya dan menjangkau bibir sang kekasih, mengecupnya sekilas dan kembali bersandar di sofa.


"Ghaisan terkejut, dia tidak bisa berkata apa-apa. Aku mengatakan kepadanya untuk merahasiakan ini dari papa dan mama, karena aku ingin, aku sendiri yang akan mengatakannya secara langsung."


"Memangnya kenapa kamu harus memberi tahu Ghaisan?"


Davin menjelaskan semuanya kepada Viona tanpa ada satupun yang ditutup-tutupi. Tentang Ghaisan yang akan mengangkatnya menjadi wakil direktur utama dalam waktu dekat, tentu itu untuk kebaikannya sendiri, belum lagi ketika mengingat ujian nasional yang akan segera datang.

__ADS_1


Viona menganggukkan kepalanya tanda paham.


Hari berlalu, 2 minggu sudah terlewati.


Dan semenjak Gaisan mengetahui hubungan antara Davin dan Viona, kini kedua orang itu tak lagi canggung ketika bersama dengan Ghaisan.


Bahkan beberapa kali Viona sempat mengunjungi perusahaan Altezza Grup untuk menemui sang kekasih.


Sudah menjadi wakil direktur utama Davin memiliki ruangan yang cukup besar, membuatnya lebih leluasa ketika Viona datang kemari.


Seperti hari ini.


Viona melangkahkan kakinya masuk ke Alteza Group. Tanpa sengaja dia bertemu dengan calon kakak ipar di depan pintu lift.


"Ghaisan!" panggil Viona, sedikit mempercepat langkahnya hingga berdiri tepat disebelah Ghaisan. Lama menjalin hubungan dengan Davin membuat Viona Kini lebih terlihat seperti anak kecil, berlari-lari di perusahaan. Dan sayangnya itu terlihat menggemaskan di mata semua orang, termasuk Ghaisan.


"Viona," sapa Ghaisan. Mereka tidak hanya berdua, ada pula asisten pribadi Ghaisan di sana.


"Boleh aku ikut menunggu?"


Ghaisan mengangguk, "Mau ke ruangan Davin?"


"Iya."


Bagi Viona ini biasa saja, tapi bagi Ghaisan tetap terasa canggung.

__ADS_1


__ADS_2