
Gara-gara telepon dari Sassy, Davin jadi kembali murung. Padahal tadi dia sudah sangat bersemangat untuk kembali ke kamar dan menemui sang istri.
Tapi kini malah bibirnya sama seperti saat dia pergi, sama-sama mengerucut dan masuk ke dalam kamar dengan lunglai.
Viona sampai mengeryit bingung melihat tingkah suaminya itu yang seperri zombie.
"Daddy kenapa?" tanya Viona.
Davin tidak langsung menjawab, dia langsung bergelayut manja di tubuh sang istri yang sedang duduk bersandar diatas ranjang. Menyembunyikan wajahnya diantara kedua gundukan sintal sang istri, mencari kenyamanan. Karena hanya disinilah dia bisa menemukan ketenangan.
Viona pun mengelus dengan sayang kepala sang suami, bahkan mengosok-gosok pula punggungnya.
Sementara baby Dion sudah tertidur pulas, puas karena tadi saat menyusu sang ayah tidak mengganggu.
"Mom ..." rengek Davin.
"Apa!" Viona menjawab dengan ketus.
"Teman-teman ku dari LN mau kesini, tapi aku tidak mau menemui mereka, tapi mereka memaksa, aku harus bagaimana?"
Viona makin mengerutkan dahi, kenapa pula suaminya ini tidak ingin menemui teman-temannya, bukannya bagus kalau menyambut kedatangan teman dari negeri nan jauh disana?
__ADS_1
"Kenapa Daddy tidak ingin bertemu?"
"Karena mereka usil, aku tidak ingin membuat mu tidak nyaman."
"Takut membuat ku tidak nyaman atau daddy malu mengenalkan aku sebagai istri?"
Viona langsung mengangkat wajah, menjauh dari dada istrinya dan menatap Viona tajam.
"Potong pisang ku Mom kalau aku sampai macam-macam seperti itu, masih tidak percaya juga pada daddy?" balas Davin dua rius.
Viona bahkan sampai terkekeh mendengarnya.
"Percaya Dad, mommy cuma bercanda."
"Iya maaf." Viona mengecup sekilas bibir suaminya, namun Davin tidak terima kecupan sebentar itu. Dia langsung menahan tengkuk sang istri dan memperdalam ciuman diantara mereka. Hingga lidah ikut bermain dan bibir sampai basah, Viona pun sampai mendesah. Barulah Davin puas dan berhenti.
"Aku tidak akan menemui mereka diluar, aku akan meminta mereka datang ke mansion ini saja, bagaimana?" tanya Davin dan Viona mengangguk.
"Iya Dad, memangnya berapa orang yang datang?"
"4, dua wanita 2 pria, Sassy, Lola, Dave dan Jacob."
__ADS_1
"Supir saja yang menjemput mereka di bandara, menginap di mansion ini saja, kan banyak kamar kosong di lantai 1."
"Tidak usah, kita sambut saja disini, menginapnya biar di hotel saja."
"Daddy yang bayarin ya hotelnya, sekali-kali Dad."
"Mommy mengizinkan?"
"Iya, mommy tidak masalah. Asalkan daddy jujur seperti ini, mommy sudah merasa tenang dan bahagia."
Davin tidak menjawab lagi, dia kembali mencium bibir Viona dan meremaat salah satu dadanya.
Beginilah enaknya punya istri wanita dewasa, tidak suka drama berlebihan dan lebih bisa mengerti dan memahami Davin.
Malam itu mereka tidur saling memeluk, sama seperti malam-malam kemarin. Tapi malam ini Davin tidak boleh memainkan dada istrinya. Kedua gundukan sintal itu sudah benar-benar milik Dion.
Pagi datang.
Davin pun mengatakan tentang rencana kedatangan teman-temannya pada Gunawan dan Dania. Dia juga meminta izin untuk menyambut ke empat temannya itu disini.
Gunawan dan Dania pun mengizinkan, bahkan Dania langsung memesankan catering makanan khas negara mereka untuk teman-teman Davin itu.
__ADS_1
Jika sesuai rencana maka besok pagi teman-teman Davin akan sampai disini, setelah menempuh perjalanan selama 24 jam.