
"Dadh lidahnya tidak usah berputar-putar seperti itu, kan geli," rengek Viona.
Kini semangka Viona sedang dinikmati oleh sang anak dan suami. Davin ikut saja jika dia sedang menyusui anaknya seperti ini.
Bikin repot, bukan karna posisinya yang susah tapi karena intinya yang juga ikut basah.
Sudah 2 bulan waktu berlalu sejak Viona melahirkan baby Dion dulu. 3 hari lagi juga Dinara dan Ghaisan akan menggelar pesta pernikahan.
Lagi-lagi hanya sebuah pernikahan sederhana karena Dinara masih kuliah. Gadis itu merasa tak enak hati jika statusnya yang menjadi istri nanti akan jadi bahan pembicaraan teman-temannya. Karena itulah pernikahan kali ini juga hanya dihadiri kedua belah pihak keluarga saja.
Mutia dan Dania sebenarnya sedikit kecewa karena mereka ingin pernikahan anak-anaknya digelar secara meriah tapi baik anak pertama atau kedua Ternyata Sama Saja.
Ya sudahlah, mereka hanya bisa pasrah. Yang penting anak-anaknya memiliki rumah tangga yang bahagia.
"Daddyhhh berhenti," lenguh Viona lagi, sungguh dia tidak tahan diperlakukan seperti ini. Bukan apa-apa, tapi dia jadi ingin lebih.
Tapi ingat sang anak, kedaran Viona segera kembali.
"Dadd, sana pergi kerja, nanti telat lagiiii," kesal Viona karena darahnya semakin mendidih. sementara dia harus tetap normal agar baby Dion merasa tidak terganggu.
Davin dan Viona kini tidak lagi tinggal di apartemen mereka sudah tinggal di mansion Gunawan.
"Jangan daddy yang disuruh berhenti Mom, minta Dion untuk segera tidur."
__ADS_1
Ha? Viona tak percaya mendengar ucapan suaminya itu, bisa-bisanya Davin lebih mementingkan dia sendiri daripada sang anak.
"Lepas nggak? kalo nggak dilepas mommy nggak mau kasih yang bawah."
"Iss mommy," kesal Davin, terpaksa dia melepaskan kulumannya dan langsung menutup sebelah dada sang istri yang tadi dia sesap. Lalu mencium bibir Viona dan pamit untuk kerja.
Setelah Davin keluar dari dalam kamarnya, barulah Dania berani untuk masuk.
2 bulan tinggal bersama anak dan menantunya membuat Dania sudah begitu menghafal kelakuan mereka, banyak suara setan keluar dari arah kamar ini.
"Sayang, sudah belum Dion nyusunya, sini mama gendong, kamu mandi," ucap Dania.
"Sebentar lagi Ma, ini dia masih mau, belum kenyang."
10 menit kemudian Dion melepaskan susunannya, dan Dania segera mengambil alih sang bayi. membiarkan Viona untuk mandi dan membersihkan tubuh, juga istirahat sejenak dan sarapan.
Selesai mandi Viona dibuat heran saat melihat sang adik yang masuk ke dalam kamarnya dengan wajah nampak cemas.
"Kamu kenapa?" tanya Viona pada Dinara.
"Mbak aku takut."
"Takut apa?"
__ADS_1
Viona duduk di kursi meja rias sementara Dinara menari kursi busa bundar mendekat.
"Semakin dekat hari pernikahan aku semakin takut."
"Takut malam pertama."
Hahahaha, Viona tergelak.
"Pertama memang takut, nanti lama-lama juga enak. Kamu ikuti saja alurnya."
"Tapi aku nggak mau buru-buru, kira-kira abang Ghaisan marah nggak ya kalo aku nolak belum siap."
"Jangan gitu, malam pertama itu nggak bisa diulang, harusnya kamu malah buat malam itu sampai nggak bisa kalian lupakan berdua."
Dinara terdiam.
"Kalau bisa malah kamu yang menggoda Ghaisan."
Dinara makin merinding.
Membayangkan dia yang seperti jadi jalaang.
"Jangan takut-takut, takutlah suamimu di ambil orang."
__ADS_1
Tawa Viona makin pecah sementara Dinara mencebik bingung.