Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
Bab 19 Minum


__ADS_3

Sikap Yin Suhua sangat tegas. Orang di Kediaman Perdana Menteri merasa asing padanya.


Yin Houyan memejamkan matanya sejak Yin Suhua menebas tangan seorang pelayan.


Dia telah meremehkan putrinya ini.


Ternyata dia mewarisi sifat ketegasan ibunya.


Mo Junye bukan hanya tidak merasa Yin Suhua kejam, tapi juga merasa kagum.


Dia tidak tahu jelas bagaimana Yin Suhua yang dulu. Pokoknya Yin Suhua yang di depannya ini berwujud dan berperasaan. Apalagi wataknya cocok sebagai seseorang yang pantas berada di sisinya.


"Selir Pangeran, ampuni kami..." Para pembantu takut mati, tapi juga tidak bersedia meminum cairan kotoran.


"Kalau tidak, penggallah tangan kalian sama sepertinya. Mentang-mentang ibuku sudah tiada, kalian jadi berani menindasku sejak kecil, bahkan menganiaya Bibi Zhou seperti ini. Aku sudah cukup bermurah hati tidak segera menghabisi kalian."


Ucapannya ini seakan-akan ditujukan pada Shen Yuhu dan anak-anaknya.


Yin Tiande terus gemetaran. Perubahan adiknya ini sudah melebihi dugaan mereka sejak hari pernikahan.


Yin Suhua yang dulu selalu mereka ditindas seakan-akan hanya muncul di mimpi mereka.


"Suhua, kamu baru saja menikah, lebih baik berbuat banyak kebajikan. Ini demi kebaikanmu dan Pangeran," Shen Yuhu kembali bicara.


"Berbuat kebajikan? Nyonya membiarkan mereka melakukan hal-hal tercela, tapi malah masih berani menyuruhku berbuat kebajikan? Tidak takut akan ditertawakan jika hal ini tersebar? Memang benar wanita yang dasarnya gundik, tidak pantas muncul di luar."


Yin Suhua menyindir tanpa segan.


Ekspresinya tidak berubah saat berkata.


Yin Suhua yang sering ditindas dulu sudah mati.


Yang sekarang berdiri di hadapan mereka adalah Selir Pangeran yang tidak pernah ditindas.


Yin Houyan mendengus, tapi tidak bicara.


Yin Suhua malah tidak bertanya apa maksud Yin Houyan.


Biarkan saja dia begitu. Dia sudah menganggap ayah yang tidak bertanggung jawab ini tiada.


Setelah membawa pergi Bibi Zhou dan mahar pernikahan ibunya, Yin Suhua dan Kediaman Perdana Menteri memutuskan hubungan.


Kalau suatu hari orang dari Kediaman Perdana Menteri mendapati kesulitan, jangan harap dirinya akan membantu.


Para pembantu dan pelayan melihat pelayan yang tangannya terpotong masih menjerit dan tangan itu terendam dalam cairan kotor. Mereka ikut merasa sakit di dalam hati.


"Apa perlu kubantu? Atau kucarikan orang untuk membantu kalian?" Yin Suhua memberi peringatan.


Dia tidak punya banyak waktu untuk terus melihat mereka meminta ampun.


Pembantu tadi akhirnya bicara, "Selir Pangeran, kalau tidak ada tangan, kami mana bisa bekerja lagi di sini..."

__ADS_1


Yin Suhua seakan-akan sedang mendengar lelucon garing.


"Apa gunanya mengatakannya padaku? Bukankah seharusnya bertanya pada Nyonya kalian? Kalau dia masih bersedia mempekerjakan kalian, dia pasti akan memberikan pekerjaan yang bisa kalian lakukan. Kalau dia keberatan, dia pasti punya beribu cara untuk membuat kalian enyah."


Yin Suhua sudah kehabisan kesabaran. Adegan tadi terus berputar dalam pikirannya.


"Sudahlah, aku saja yang bantu kaluan."


Setelah itu, Yin Suhua berkata terhadap Yin Houyan, "Ayah, para bibi di sini hanya menonton saja?"


Mo Junye memberi peringatan, "Bagaimana kalau pengawalku yang membantu. Kujamin masing-masing kepala menggunakan satu pedang."


Yin Houyan tahu dia akan menepati perkataannya.


Kalaupun Raja Ning dan Kaisar tahu, mereka tidak akan menyalahkannya.


Dia akan kehilangan muka kalau hal ini sampai tersebar.


Karena tidak berdaya, Yin Houyan akhirnya memberi perintah. Dia menyuruh para pengawal dan bibi untuk masing-masing menahan satu orang, memasukkan kotoran ke mulut mereka dengan paksa.


Mereka tampaknya tidak akan berselera makan selama beberapa hari.


"Aroma di sini benar-benar bau. Suamiku, ayo kita kembali ke halaman depan."


Tujuan Yin Suhua sudah tercapai. Hukuman apa yang akan mereka terima nantinya tidak berkaitan lagi dengannya.


Kalaupun benar-benar diusir dari Kediaman Perdana Menteri, itu adalah akibat dari kesalahan mereka sendiri.


Kehangatan tangan Yin Suhua dalam seketika memasuki telapak tangan Mo Junye, lalu mengalir ke seluruh tubuh.


Hati sang pria tertegun. Prinsip pria dan wanita tidak boleh bersentuhan sama sekali tidak berlaku.


Para pengawal pun terkejut. Dengan mata kepala sendiri menyaksikan Pangeran mereka yang dingin digandeng oleh selirnya berjalan ke depan.


Yin Miaoxue hampir mati kesal.


Mo Junye ini memiliki segalanya. Dia bermartabat, kedudukannya pun tinggi. Meskipun memang berumur pendek, tapi malah masih bisa melindungi Yin Suhua seperti ini.


Awalnya mereka masih menyindir Yin Suhua akan jadi janda.


Tapi sekarang malah mereka sendirilah yang dipermalukan.


Mereka balik ke halaman depan dan kembali duduk.


Suasana hati semua orang sudah berubah total.


Yin Suhua sudah terkesan tegas setelah menghukum beberapa pembantu tadi.


Yin Houyan dalam hati berpikir bagaimana agar dia bisa kembali menjalin ikatan kekeluargaan dengan putrinya ini.


"Suhua, kamar yang sebelumnya kamu tempati sudah dibersihkan beberapa hari lalu. Kamu boleh tinggal di sini kapan pun ada luang."

__ADS_1


Trik semacam ini sangat sepele di mata Yin Suhua.


Perdana Menteri yang bermartabat di mata Pangeran pun juga begitu.


"Ayah khawatir aku diceraikan olehnya?"


Yin Suhua sangat berterus terang, tapi senyumannya malah sangat tulus. Seakan-akan dia hanya sedang bercanda.


Ucapan Yin Houyan terpotong dan tidak jadi dia ucapkan.


Shen Yuhu pun tidak berani menanggapi. Dirinyalah yang paling bersikap buruk terhadap Yin Suhua. Selama ini dia menganggap Yin Suhua sebagai orang yang paling dibenci.


Sekarang Yin Suhua sangat berkuasa, mana mungkin dia akan menghormati Shen Yuhu.


Sedangkan Yin Tiande hanya pernah bicara dengan Yin Suhua saat berada di gerbang. Lalu tidak berani bicara lagi ketika Mo Junye muncul.


Suasana di aula terasa canggung. Siapa pun tidak bersedia bicara duluan.


Yin Suhua dan Mo Junye sama-sama merasa senang. Mereka yang memberi tekanan ini sama sekali tidak berniat meredakan suasana.


Kembalinya Ming Rui baru membuat suasana kembali hidup.


Dua pengawal tadi pun berdiri di luar dengan tenang.


Mata Ming Rui memerah dan bengkak. Dia merangkul Bibi Zhou yang kakinya patah masuk ke ruangan dan langsung berlutut.


"Selir Pangeran, Bibi Zhou telah kubawa kembali."


Yin Suhua melihat Bibi Zhou yang berada tak jauh darinya. Dia jadi terlihat bersih setelah mandi.


Tapi rambut berantakan dan kerutan wajahnya tetap membuat Yin Suhua kasihan.


Bagaimana cara Bibi Zhou bertahan hidup selama ini?


Bibi Zhou sudah duluan mendekat sebelum dia datang menghampiri.


Meskipun kakinya patah, tapi dia tetap bersikeras berlutut di depan Yin Suhua.


Yin Suhua segera membuatnya bangun. Bibi Zhou memancarkan ekspresi yang sangat menghangatkan.


Sekeras apa pun hati Mo Junye, tetap saja tersentuh saat melihat gambaran ini.


Karena tidak bisa bicara, Bibi Zhou bicara dengan bahasa tubuh.


Yin Suhua nampak memahaminya. Lalu bertanya, "Bibi Zhou, ada barang yang ingin kamu berikan padaku?"


Di usianya yang setua ini, Bibi Zhou seharusnya dipanggil nenek.


Bibi Zhou merasa girang saat mendengar panggilan ini.


Dengan sepasang tangan yang gemetaran dia mengeluarkan suatu kantong yang sangat usang. Seakan-akan sedang mempersembahkan nyawanya sendiri.

__ADS_1


Melihat dia begitu menghargai barang ini, Yin Suhua penasaran dan bertanya, "Apa ini?"


__ADS_2