
Saat itu juga Viona menghubungi Dinara sedangkan Davin menghubungi Ghaisan.
Tapi Ghaisan tidak bisa dihubungi masih sibuk dengan urusannya sendiri.
Jadilah Davin kembali menguping pembicaraan sang istri dengan adik ipar.
"Dinara, katakan pada Mbak apa yang sebenarnya terjadi? kenapa tiba-tiba kamu mau minta di jodohkan dengan Ghaisan?" tanya Viona, langsung tanpa basa basi. Viona memang tidak suka yang bertele-tele.
Dinara diujung sana langsung menegang saat mendengar pertanyaan sang kakak. Mendadak gugup, bahkan langsung ada keringat dingin di dahi dan langsung dia hapus sendiri.
"Anu mbak, aku anu_"
"Yang jelas bicaranya, jangan anu-anu."
Davin mengulum senyum, istrinya ini benar-benar barbar. Ingin tertawa takut Dinara tahu jika dia sedang menguping. Takut Dinara jadi segan untuk bercerita semuanya dengan Viona.
"Ayo cepat katakan, jangan buat mama cemas, apa Ghaisan mengganggumu? apa semalam Ghaisan melecehkan mu saat dia antar kamu ke apartemen?"
"Tidak mbak!" sahut Dinara cepat cepat. Tidak ingin ada salah paham diantara mereka.
Sementara Viona langsung diam, kini dia menunggu apa yang akan diucapkan oleh sang adik selanjutnya.
"Se-sebenarnya aku menyukai abang Ghaisan, tidak tahu bagaimana cara mengatakannya, karena itulah aku meminta mama untuk mengatur perjodohan," jawab Dinara, suaranya terdengar bergetar saking takutnya. Takut jika Viona tahu jika dia sedang berbohong.
"Jangan bohong, kenapa kamu menyukai Ghaisan? kalian tidak pernah bertemu, dan Ghaisan itu pria yang kaku, bagaimana bisa dia membuatku jatuh cinta."
__ADS_1
"Ti-tidak tahu mbak, pokoknya aku suka saja."
Viona membuang nafasnya pelan.
"Coba pikirkan baik-baik dulu, benar kamu mau dijodohkan dengan Ghaisan?"
"Iya mbak, aku sangat mau!"
Viona dan Davin saling pandang, kini suara Dinara terdengar sangat bersemangat.
Dari sana Davin dan Viona sadar jika Dinara bersungguh-sungguh.
Panggilan itu putus.
Di ujung sana Dinara langsung menghembuskan nafasnya lega, memegangi dadanya yang masih bergemuruh hebat, saking gugupnya.
"Bagaimana jika abang Ghaisan sudah memilki kekasih? ah tidak mungkin, selama ini tiap kumpul keluarga abang Ghaisan tidak pernah membawa wanita, jangankan membawa, membicarakannya pun tidak."
"Iya, abang Ghaisan pasti masih sendiri." Yakin Dinara.
*
*
Alteza Grup.
__ADS_1
Ghaisan mengusap telinga kirinya yang berdengung. Dari tadi pagi telinganya terus terasa panas.
"Kenapa Tuan? sepertinya dari tadi anda tidak merasa nyaman dengan telinga anda," ucap Frans, asisten pribadi Ghaisan.
"Tidak apa-apa, mana proposal barunya."
Frans memberikan beberapa proposal baru yang masuk ke perusahaan ini. Bukan proposal proyek, namun proposal meminta bantuan dari berbagai yayasan.
"Setujui saja semua, yang sudah mengajukan beberapa kali segera selidiki, mereka benar-benar menggunakan uangnya dengan baik atu tidak."
"Baik Tuan."
"Persiapan peresmian Wahanyanya bagaimana? apa ada kendala?"
"Hanya masalah kecil Tuan, karena untuk hari pertama semua wahana gratis, bisa dipastikan nanti pengunjungnya akan membludak, kita masih kekurangan tim keamanan."
"Bekerja saja dengan pihak kepolisian, kalau polisi yang bertindak pasti semuanya aman."
"Baik Tuan."
Merasa tidak nyaman dengan hatinya, seolah memiliki firasat buruk. Akhirnya hari ini Ghaisan pulang lebih dulu. Makan siang ini dia sudah berada di rumahnya.
Mutia menatap heran sang anak, tumben-tumbeban Ghaisan pulang cepat, wajahnya pun nampak tak baik.
"Kamu sakit?" tanya Mutia dan Ghaisan menggeleng.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Alteza.
"Entahlah, aku merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi entah apa."