
Selesai makan malam, para wanita kembali ke dalam kamar nya. Sementara para pria masih duduk di ruang tengah.
Dania ingin segera berbaring karena tubuhnya yang lelah, Viona juga ingin menyusui baby Dion, 1 bulan lagi anaknya ini memasuki usia 6 bulan. Sementara Dinara pun melakukan panggilan video call bersama teman-temannya untuk membahas materi kuliah.
Jadilah di ruang tengah ini hanya ada para pria.
"Pa, aku naik ya, aku mau menemui baby D," pamit Davin, merasa jika pembicaraan diantara mereka tidak akan asik, tidak seasik saat dia bersama dengan istrinya.
Dia bosan dan ingin segera masuk kamar.
"Heleh, menemui baby D apa menemui Viona." balas Gunawan.
"Ya dua duanya Pa, baby D dan Viona kan anak dan mommy, jelas mereka tidak akan berpisah."
"Nanti dulu, mumpung ada kakak mu disini, berkumpul lah dulu," cegah Gunawan lagi.
Ghaisan yang mendengar sedikit gusar, karena dia pun sebenarnya ingin segera kembali ke dalam kamar, namun merasa tak enak hati dengan ayah mertua.
"Ya ampun pa, emang mau ngomongin apa sih, ribet banget pake kumpul-kumpul," balas Davin, masih kukuh ingin naik ke kamar.
"Tuh lihat Adik mu Ghaisan, sudsh tambah tua, sudah punya anak, masih aja seperti anak kecil. Berkumpul sesama pria seperti ini penting, bertukar cerita, berbagi pengalaman tentang hidup ..."
__ADS_1
Gunawan terus bicara panjang lebar, cerita hidupnya hingga misa sukses dan membina rumah tangga yang rukun seperti ini.
Davin sampai menggapai cerita Itu, karena setiap ada kumpul-kumpul begini pasti itu yang diceritakan Gunawan.
"Iya Pa, paham-paham," sahut Davin, sementara Ghaisan masih mode diam. Terlihat dingin namun sebenarnya ingin segera lari menemui sang istri.
"Papa ngobrol aja sama Ghaisan berdua, aku udah nggak tahan." celetuk Davin lagi, tanpa izin papa mertuanya dia langsung pergi.
Dan Ghaisan sungguh ingin mengikuti langkah kaki adiknya itu.
"Davin Davin, seperti anak kecil," kesal Gunawan.
"Untung menantu papa bukan hanya Davin, untung ada kamu juga. Kamu adalah menantu kebanggaan papa." Seloroh Gunawan pula, menatap Ghaisan dengan bangga, tersenyum pada menantunya yang sudah jadi pendengar setia.
"Papa dengar, di perus_"
"Pa!" potong Ghaisan sebelum Gunawan kembali buka suara dan bercerita panjang kali lebar.
"Dinara pasti sudah menunggu ku. Aku harus kembali ke kamar," timpal Ghaisan lagi, meski ragu-ragu tapi dia harus bicara.
Dan Gunawan yang mendengar ucapan itu merasa tak senang, kenapa kini Ghaisan malah terlihat seperti Davin juga.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru sekali, nanti saja."
"Tapi Dinara tidak akan tidur jika tidak ada aku Pa."
"Apa iya? kalau sudsh ngantuk ya tidur tidur saja."
"Tidak bisa seperti itu Pa, dia harus dibuat lelah dulu baru tidur." Secepat kilat Ghaisan mengulum bibir nya, merasa telah salah berucap.
Dan Gunawan yang tahu kemana arah pembicaraan menantunya itu pun hanya mampu geleng-geleng kepala.
Ternyata Ghaisan dan Davin sama saja.
"Ya sudah sana pergi."
Senyum Ghaisan terkembang, dia bahkan langsung bangkit dan berlari menuju tangga ke lantai 2.
Melihat itu Gunawan makin menggelengkan kepalanya kasar. melihat betapa Ghaisan lebih bernafshu untuk bertemu dengan anak bungsunya.
"Ternyata Ghaisan lebih parah daripada Davin."
Gunawan membuang nafasnya pelan, menikmati malam ini sendiri di ruang tengah.
__ADS_1
"Menantu nggak ada akhlak," gerutunya kesal.