
Ghaisan mengemudikan mobilnya sendiri, sementara Dinara duduk di kursi tengah, benar-benar membuat seolah Ghaisan adalah sopir pribadinya.
Jujur saja Gaisan kembali ingin marah, namun sadar jika marah-marah hanya akan merusak hatinya, akhirnya Ghaisan memilih diam.
Dia terus memasang wajah dingin dan menatap jalanan, tidak bersuara meski hanya sedikit. Hanya terdengar deru nafasnya yang seperti banteng.
Dinara sungguh dibuatnya takut.
Padahal malam itu saat Ghaisan mengantar dia ke apartemen sang kakak, Ghaisan tidak segarang ini. Ghaisan masih mau mengajaknya bicara membicarakan tentang kuliahnya.
Namun kini mereka benar-benar seperti musuh.
Apa segitunya abang Ghaisan tidak ingin menikah denganmu? Batin Dinara.
Dia hanya terus membatin, tidak berani bersuara. Menerka-nerka sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi, lalu memutuskan semaunya.
"Kamu kuliah dimana!" tanya Ghaisan ketika mobil mereka berhenti di lampu merah. Bertanya dengan nada membentak.
Dan Dinara sungguh lupa jika Ghaisan tidak tahu di mana tempat kuliahnya.
"Ma-maaf Bang, aku kuliah Universitas Gunadarma."
Tanpa banyak bertanya lagi, saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau Ghasian segera melajukan mobilnya menuju universitas yang disebut oleh Dinara.
__ADS_1
"Dimana gedungnya?" tanya Ghaisan saat mobil mereka mulai masuk di kawanan universitas, namun belum sampai ditempat gedung belajar Dinara.
"Lurus saja Bang, nanti belok kanan terus belok kiri, maju sedikit lagi sampai."
Ghaisan mengeram kesal, Dinara benar-benar membuatnya terlihat seperti supir.
"Katakan saja gedung apa, aku tau semua!"
"Ma-maaf Bang, gedung B," jawab Dinara. Dari sini Dinara tahu jika mungkin saja dulu Gaisan juga kuliah di Universitas ini.
Setelah Dinara menyebutkan Gedung B, tidak ada perbincangan apapun di antara mereka, sampai akhirnya mobil mereka berhenti.
"Turun!" ucap Ghaisan.
Ghaisan tidak menanggapi apapun bahkan melirik Dinara pun tidak, dan saat terdengar pintu belakang ditutup Ghaisan dengan segera pergi dari sana.
"Merepotkan!" keluh Ghaisan.
meninggalkan Dinara yang bibirnya mencebik dan mengelus dada
"Abang Ghasian mengerikan Sekali, hiii aku tidak bisa membayangkan ketika sudah menjadi istrinya nanti. dia pasti akan selalu menganiaya aku." Dinara bergidik ngeri, dan ketakutannya sirna ketika mendengar teman-temannya Memanggil nama dia.
Dinara pun dengan segera menghampiri mereka.
__ADS_1
*
*
Sampai di kantor Alteza Group, Ghaisan segera memerintahkan asisten pribadinya untuk mencari semua informasi tentang Dinara Gunawan.
Mencari tahu kenapa tiba-tiba gadis itu melamar dia.
Jujur saja Frans merasa sedikit bingung dengan tugas kali ini, jika hanya mencari informasi data diri tentang Dinara Gunawan itu adalah hal yang gampang, tapi mencari tahu isi hati gadis itu pastilah tidak akan mudah.
tapi Frans tidak punya jawaban lain selain iya.
"Baik Tuan," jawab Frans patuh.
Dan saat itu juga Frans langsung mencari informasi yang diinginkan oleh sang tuan. Frans memerintahkan beberapa orang untuk mewawancarai secara terselubung teman-teman Dinara.
Tapi di antara mereka semua tidak ada yang tahu tentang hubungan Dinara dan Ghaisan. Bahkan mereka tidak mengenal siapa itu Gaisan dan Dinara pun tidak pernah menyebutnya sekalipun.
Menyadari itu membuat Frans jadi curiga dan aneh sekaligus. Bagaimana bisa seorang gadis mengatakan suka kepada pria, namun dia tidak pernah membicarakan pada siapapun apalagi teman-temannya.
"Nona Dinara mencurigakan sekali, lalu apa yang harus aku laporkan pada tuan. Ah, aku katakan saja bahwa nona Dinara benar-benar mencintai tuan Ghaisan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jo sama Ron gak genah, eh frans juga 😣