Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
Bab 7 Mengadu


__ADS_3

Ekspresi Yin Suhua sangat tenang.


Kebetulan dia sedang tersesat dan tidak bisa menemukan Paviliun Selir Raja. Untungnya sekarang ada yang menunjukkan jalan, bisa dibilang ini akan sangat membantu Suhua.


Nama Liu Linlang ini, agak terkesan dibuat-buat.


Sesuai dugaannya, Liu Linlang menjadi panik setelah mendengar hal ini.


Wanita yang menyebalkan ini berani-beraninya mengandalkan kecantikannya dan beromong besar.


Lihatlah sikapnya yang arogan itu. Jangan-jangan wanita ini adalah gundik baru Raja Ning?' pikir Linlang.


"Kurang ajar! Kalaupun kamu adalah gundik pamanku, kamu tetap tidak berhak berbicara arogan padaku," bentak Linlang.


"Apakah Nona Linlang merasa semua wanita cantik harus dimiliki oleh pamanmu? Kamu itu sedang menyindir kelakuan Raja Ning atau sedang menyindir cara berpikir Selir Raja?"


Suhua sangat pintar bersilat lidah, sudah pasti Linlang tidak sebanding dengannya.


Saat melihat majikannya disinggung, pelayan yang berdiri di samping hendak memberi pelajaran pada Suhua.


"Suhua merasa Linlang si Nona Besar


ini benar-benar bodoh."


Padahal Linlang hanyalah seorang tamu, tapi malah berani mengizinkan bawahannya bertindak semena-mena di Kediaman Raja. Kelihatannya Selir Raja benar-benar mengira Junye pasti akan mati. Oleh karena itu, dia tidak menghalangi keluarga dari pihaknya berbuat sesuka hati di kediaman Raja Ning.


Suhua tidak menghindari pukulan si pelayan, sebaliknya malah memegang jarum dan mengayunkannya.


Telapak tangan si pelayan tertancap jarum, dia langsung berteriak kesakitan.


Liu Linlang terkejut melihat kejadian ini, "Berani-beraninya kamu melukai seseorang."


"Seseorang? Nona Linlang, apa kamu yakin? Kamu bersikap sesuka hati karena mengandalkan kekuasaan Selir Raja, lalu bagaimana dengan dia? Pelayan kurang ajar seperti ini biasanya pasti akan kuhabisi. Tapi kali ini demi Selir Raja, aku meringankan hukumannya."


Suhua terus menyembunyikan identitasnya. Setiap ucapannya hanya menyebutkan Selir Raja, makanya Linlang sampai sekarang tidak menyadari wanita jelita di depannya adalah Selir Pangeran yang kemarin baru Pangeran nikahi.


"Beranikah kamu mengucapkan itu di hadapan Bibi?" Linlang merasa kesal.


Suhua tertawa, "Itulah yang kumau. Kebetulan aku juga mau ke sana untuk memberi salam."


Linlang menjadi semakin yakin kalau Suhua adalah gundiknya Raja Ning.


Selain itu, dia juga merasa yakin Suhua gundik yang berkedudukan rendah.


Kalau wanita yang berada di hadapan Linlang ini adalah selir kedua, namanya pasti akan tertulis di buku silsilah keluarga kerajaan, jadi jadi mana mungkin Linlang tidak tahu.


Para gundik yang berkedudukan di bawah selir kedua sejajar dengan pelayan, makanya dia bisa seyakin itu.

__ADS_1


Setelah sering melihat bagaimana majikannya menghadapi orang-orang seperti ini, Ming Rui jadi mulai terbiasa.


Misalnya kejadian mengerikan di pagi hari tadi, dia masih mengingatnya dengan jelas.


"Pangeran, Selir Pangeran bertemu dengan Nona Linlang di taman belakang."


Pengawal segera melaporkan gerak-gerik Suhua pada Junye.


Junye masih merasa kesal atas perkataan Suhua yang mengatakan dirinya lemah syahwat, makanya bermuka masam.


"Memangnya kenapa? Kamu rasa dia akan ditindas?" kata Mo Junye dengan kesal.


"Bukan begitu, Tuan. Karena kemarin Nona Linlang tidak datang, dia tidak mengenal Selir Pangeran. Dia bahkan mengira Selir Pangeran adalah Gundik Raja.


"Keluarga dari pihak Selir Raja semuanya memang tak berotak. Apa kamu masih belum terbiasa dengan kebodohan mereka itu?" Sindiran Junye tidaklah salah.


Pengawal tidak menanggapi ucapan ini, meskipun ini adalah fakta.


"Kelihatannya Selir Raja sengaja tidak mengutus orang menjemput kedatangan Selir Pangeran. Lalu, Selir Pangeran bertemu dengan Nona Linlang karena tersesat."


Junye menuang teh untuk dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak memedulikan hal ini.


"Kamu pikir, akankah seseorang yang berani memotong jari orang menghiraukan penindasan Linlang?"


Kali ini pengawal terdiam. Kejadian di pagi hari ini masih teringat jelas.


Di sisi lain, Linlang membawa para bawahan serta pelayan yang tangannya ditusuk itu. Lalu di belakang, mereka diikuti oleh Suhua dan Ming Rui. Mereka telah tiba di kediaman Selir Raja.


Linlang langsung mengadu saat baru memasuki pintu, "Bibi, bantu aku mengadilinya!"


Orang dari dalam datang menyambut. Semuanya sedikit kaget melihat kedatangan mereka yang seperti ini.


Kenapa Linlang bisa datang bersama Selir Pangeran?


Apalagi kelihatannya Linlang telah ditindas oleh Selir Pangeran.


Mereka baru saja mau memberi salam, tapi malah terhalang oleh kedatangan Linlang. Dia menerobos masuk dan langsung menangis.


Selir Raja sedang duduk di tengah ruangan sambil menikmati semerbak teh. Setelah mendengar suara tangisan ini, beberapa saat kemudian baru bertanya pada wanita di samping, "Bibi Lin, Linlang sudah datang?"


Meskipun dandanan dan busana Bibi Lin juga tidak biasa, tapi ekspresinya jauh lebih bersahabat dibanding Bibi Wang dan Bibi Du.


"Selir Raja, saya rasa itu memang Nona Linlang."


"Bukankah Linlang pulang kampung untuk berziarah? Bahkan pernikahan kakak sepupunya kemarin pun tak sempat dia hadiri. Kenapa dia malah muncul sekarang?" tanya Selir Raja dengan nada ramah.


Bibi Lin tidak panik, "Mungkin dia sudah merindukan Anda, makanya bergegas pulang."

__ADS_1


"Kalau memang merindukanku, kenapa dia menangis meminta aku membantunya?" Selir Raja merasa heran.


"Mungkin dia terkena masalah di luar sana, lalu datang untuk merengek. Anda sendiri juga tahu bagaimana watak dia," kata Bibi Lin.


Selir Raja tersenyum, "Dia selalu saja gegabah. Untung saja dulu aku tidak menyetujui pernikahannya dengan Junye. Kalau tidak, masalah yang ditimbulkannya pasti akan sangat banyak."


Maksud dari ucapan Selir Raja ini sangat banyak.


Bibi Lin sangat memahaminya, tapi dia hanya tersenyum.


Saat Linlang muncul di hadapannya, dia terlihat merengus.


"Ada apa, Linlang? Apa yang membuatmu kesal?" Senyuman Selir Raja sangat ramah.


"Bibi, kebaikanmu sudah berlebihan hingga membiarkan orang murahan berbuat sesuka hati," Linlang langsung mengadu.


Selir Raja dan Bibi Lin saling bertatapan. Kelihatannya dugaan mereka tadi salah.


"Di sini? Di kediaman ini siapa yang tidak mengenalimu? Bagaimana mungkin ada orang yang berani menindasmu?" tanya Selir Raja.


"Tidak tahu. Orang itu sangat cantik, apakah dia gundik yang baru dibeli Paman?" Linlang merasa keluarganya pasti akan membelanya.


Ekspresi Selir Raja semakin buruk. Raja Ning selama ini selalu menjaga nama baiknya, sama sekali tidak memiliki gundik.


Selir keduanya yang sudah lama dinikahinya pun sangat menjaga sikap.


Apalagi mereka semua mengenal Linlang. Tidak akan ada orang yang akan membuatnya semarah ini.


"Duduklah. Bicara baik-baik. Bisa saja ini hanya salah paham."


"Tentu saja bukan. Wanita itu bermuka sangat tebal. Dia bukan hanya tidak memberi hormat saat bertemu denganku, bahkan malah melukai pelayanku."


Ekspresi Selir Raja mulai berubah. Dia melihat Bibi Lin, "Bisa-bisanya ada orang seperti ini di sini?"


"Selir Raja, seharusnya para bawahan di sini tidak akan sekurang ajar itu."


"Bagaimana mungkin tidak ada?" Linlang tetap mempermasalahkan hal ini, "Aku sudah membawanya kemari. Dia bahkan bilang padaku bahwa Selir Raja pasti tidak akan berani menghukumnya."


Mohon maaf pembaca tersayangku. Karena aku kurang sehat akhir-akhir ini sehingga tidak dapat sering update karyaku. Tapi kalian dapat terus baca karyaku gratis di Fiz///zo (Waktu cari, jangan tambah "/"). Udah update 600+ bab ya


Sebelum Selir Raja sempat menanggapi, suara laporan dari seseorang di luar duluan terdengar, "Selir Pangeran tiba!"


Suhua datang bersama Ming Rui. Dia berjalan masuk dengan gemulai seraya tersenyum.


Wajah yang jelita itu disinari cahaya mentari pagi, terlihat sangat cantik.


"Menantu datang memberi salam pada Selir Raja."

__ADS_1


__ADS_2