Menggoda Wanita Dewasa

Menggoda Wanita Dewasa
BAB 61 - Wanita Dewasa Lebih Menggoda


__ADS_3

Jam 5 sore Davin keluar dari dalam kamarnya, tujuannya langsung ke ruang tengah. Biasanya sore-sore begini ayah dan ibunya duduk disana.


Tapi ternyata bukan Mutia dan Alteza yang dia temui, melainkan Ghaisan.


Kakaknya itu duduk sendiri di ruang tengah, TV menyala namun dia menatap tablet yang dia pegang di tangan kiri. Sementara tangan kanannya mencatat entah apa disebuah buku kecil, buku catatan.


Davin geleng kepala, benar-benar pria yang hanya fokus bekerja.


"Bang!" panggil Davin dengan suaranya yang tinggi. Tapi Ghaisan tidak kaget, tetap fokus menatap tablet.


"Hem," sahut Ghaisan singkat, padat dan tidak jelas.


Membuat Davin berdecih, namun teringat besok dia akan menikah senyum Davin kembali terbit.


"Kamu mau minta apa? sebagai PE-LANG-KAH-HAN," ucap Davin dengan sangat jelas, disertai seringai kecil sebagai tanda merendahkan, akhirnya untuk pertama kali Davin merasa menang dari kakaknya itu, karena akhirnya Davin yang akan menikah lebih dulu.


Dan bagi Ghaisan pertanyaan itu sangat mengusik pendengarannya. Kata Pelangkahan itu mampu membuat perhatiannya pada tablet teralihkan, ganti menatap tajam sang adik.


"Aku tidak minta apa-apa."


"Baguslah, jadi tidak merepotkan aku, karena besok aku menikah jadi tidak punya waktu untuk mengurus keinginan mu."

__ADS_1


"Benar kamu ingin menikah?"


"Tentu saja, kenapa masih dipertanyakan?"


"Kenapa harus Viona?"


"Kenapa memangnya? apa kamu menyukai Viona juga?"


Hening, sejenak mereka saling tatap dengan tatapan yang entah. Davin menatap tajam dengan dadanya yang bergemuruh, sementara Ghaisan menatap dingin dengan wajahnya yang datar.


"Viona memang wanita yang menarik, tapi aku tidak punya kesempatan untuk menyukai dia, putus dari Dewa dia langsung bertemu denganmu," jawab Ghaisan, panjang lebar.


"Aku tahu, kamu tidak segila itu untuk menyukai adik iparmu sendiri," balas Davin pula.


"Kenapa harus Viona? memangnya tidak ada teman sebaya mu yang menarik."


"Wanita dewasa lebih menggoda," balas Davin dengan senyum yang semakin lebar.


Untuk pertama kalinya Davin dan Ghaisan bicara banyak seperti ini. Biasanya mereka hanya saling melewati jika bertemu.


"Semoga pernikahan mu bahagia, juga jadi pernikahan pertama dan terakhir mu," ucap Ghaisan, mengakhiri pembicaraan mereka sore itu.

__ADS_1


Hari berlalu.


Hingga tiba hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Alteza dan keluarga Gunawan.


Jam 9 pagi ini akad akan di gelar di mansion pengantin wanita.


Viona pun sudah bersiap, seluruh keluarga Gunawan menggunakan baju senada berwarna cream, dan keluarga Alteza yang seluruhnya menggunakan baju berwarna peach, sementara Davin menggunakan setelan tuxedo berwarna hitam. Jadi dipernikahan ini didominasi dengan dua warna, cantik sekali.


Jam setengah 9 semua keluarga Davin sudah sampai di mansion Gunawan. Davin bahkan sudah dipersilahkan duduk di meja ijab kabul.


Dan menunggu pengantin wanitanya turun.


Saat di rumah tadi Davin begitu percaya diri, dia tidak gugup sedikitpun. Namun ketika sudah duduk di sini, entah kenapa kepercayaan dirinya seperti hilang. Jantungnya bahkan berdebar, merasa gugup.


Belum lagi saat pembawa acara dalam pernikahannya mengatakan jika pengantin wanita akan segera turun.


Semua mata langsung tertuju ke arah tangga, tangga yang sudah dihiasi dengan banyak bunga mawar putih di kedua sisinya.


Davin, dibuat terpana saat melihat Viona turun dari atas sana.


Istriku.

__ADS_1


__ADS_2