
"Daddy tidak marah? tidak cemburu?" tanya Viona, kini dia dan Davin sudah masuk ke dalam mobil dan duduk dengan sempurna. Mobil juga sudah menyala hanya tinggal menunggu keluar.
"Tidak."
"Kenapa? berarti Daddy tidak mencintai Mommy kalau tidak cemburu," balas Viona dengan mengeluh, dia bahkan mencebikan bibirnya seperti anak itik. Padahal Viona ingin melihat suaminya yang cemburu, pasti akan terlihat lucu dimatanya.
Tapi jangankan cemburu, Davin kini malah tersenyum-senyum entah artinya apa.
Malah terlihat menyebalkan di mata Viona.
"Bukannya tidak cinta Mommy, tapi_"
"Tapi apa?" potong Viona cepat.
"Tapi nanti malam Mommy harus menebus semuanya, pelayanan ekslusif untuk daddy, karena mommy sudah berani bertatap-tatapan dengan mantan!"
Viona terkekeh, dan Davin pun mulai mengeluarkan mobilnya dari area parkir rumah sakit ke jalan raya.
Viona lupa bahwa membuat amarah suaminya mereda itu bukanlah hal yang sulit, cukup dia menyerahkan tubuh maka semuanya beres.
Jam 3 sore mereka sampai di apartemen.
Viona memutuskan untuk istirahat, langsung tidur tanpa melakukan apapun. Sementara Davin duduk di meja kerjanya. Meja kerja yang juga ada di kamar tidur.
Viona tidak suka saat suaminya bekerja di ruangan lain ketika berada di apartemen. karena itulah meja kerja suaminya di bawa kamar ini.
Davin membuka tablet, memeriksa satu email yang dikirimkan oleh Anton.
__ADS_1
Tentang mega proyek antara perusahaan Gunawan Grup dan Alteza Grup. Kini pembangunan wahana bermain itu sudah selesai sesui target 6 bulan. 2 minggu lagi wahana permainan itu sudah dibuka untuk umum.
Sementara peresmiannya sendiri akan dilaksanakan sehari sebelum wahana di gunakan.
Dalam file yang dikirim Anton itu ada satu poin yang tidak dimengerti oleh Davin, dia kemudian memutuskan untuk bertanya pada Ghaisan langsung.
Berniat menghubungi Ghaisan, akhirnya Davin memutuskan untuk keluar dari dalam kamar, karena tidak ingin mengganggu tidur sang istri.
Davin menuju balkon di ruang tengah, sampai di sana dan panggilan pun terjawab.
"Ada apa Vin?" tanya Ghaisan.
Kedua kakak beradik itu kemudian membicarakan bisnis mereka, panjang lebar hingga semuanya jadi jelas.
"Tidak apa-apa kan kamu yang pergi?" tanya Ghaisan.
"Iya tidak apa-apa, Viona pasti mengerti, dia kan juga paham masalah kerja begini."
Di ujung sana Ghaisan menganggukkan kepala.
Tak berapa lama kemudian panggilan itu berakhir. Davin berniat segera kembali ke kamar, namun langkahnya tidak jadi maju dan tiba-tiba terkejut saat melihat sang istri sudah berisi persis di pintu balkon, seperti hantu.
"Ya ampun Mom, kenapa datang tidak pakai suara, kan daddy jadi kaget."
"Daddy telepon siapa?"
"Ghaisan."
__ADS_1
"Mana coba lihat."
Davin memberikan ponselnya pada sang istri dan Viona pun langsung memeriksa, ternyata benar panggilan barusan adalah Gaisan.
"Kenapa telpon Ghaisan."
"Seminggu lagi daddy ke Singapura."
"Hah! ngapain?"
"Ngundang Tuan Ed, kamu tau kan? 2 minggu lagi kan GA (Gunawan×Alteza) potong pita, undangannya di kirim langsung ke rumahnya."
"Kenapa bukan Ghasian saja yang pergi?"
"Dia sedang ada urusan."
Viona mencebik.
"Aku berangkat pagi pulang malem," jelas Davin.
"Tapi nanti daddy capek, ya udah 2 hari nggak apa-apa, hari ini pergi besok pulang."
"Tapi mommy jangan marah."
"Aku marahnya sebentar kok, yang penting marah dulu."
Davin tidak bisa menjawab lagi.
__ADS_1