
"Kenapa pintunya dikunci?" tanya Mutia saat pintu kamar sang anak sudah terbuka.
"Kebiasaan Ma."
"Dimana Viona?"
Mutia masuk saat Davin membuka pintu kamarnya lebar, menelisik kamar ini yang ranjang nya rapi bersih berarti Davin tidak berbuat macam-macam pada anak sahabat sosialita nya.
"Masih di kamar mandi Ma."
"Kenapa lama sekali?"
"Katanya sembelit," jawab Davin datar, dia pintar sekali jika disuruh akting seperti ini.
"Uh kasihan, mama ambilin obat sembelit dulu, kamu tanyain itu kira-kira butuh bantuan nggak."
"Oke," balas Davin.
Mutia kembali keluar dari kamar itu dan meninggalkan Davin di sana yang bernafas lega.
"Alhamdulilah, anak sholeh memang selalu dilindungi," gumamnya sambil mengelus dada.
Lalu mengetuk pintu kamar mandi dan Viona membukanya.
Davin kembali menarik pinggang kekasihnya, diambang pintu kamar mandi itu Davin kembali menyesap bibir sang kekasih dengan ganas. Dia tidak pernah bermain lembut. Semuanya selalu penuh dengan hasrat yang menggebu.
"Siapa yang datang?" tanya Viona, kini bibir basahnya sedang di bersihkan oleh si pembuat ulah. Menggunakan ibu jarinya Davin menghapus salivanya sendiri di bibir sang kekasih.
"Mama Mutia, aku bilang kamu sembelit, nanti diminum ya obatnya," jawab Davin dengan terkekeh, dia suka rela saat Viona mencubit dadanya.
__ADS_1
"Habis ini pasti pulang, aku jadi rindu lagi," ucap Davin.
"Sampai rumah langsung ku telpon."
"Viedo call?"
"Iyaa."
"Ganti bajunya aku lihat ya?"
"Nanti dimatiin lagi hp nya."
"Ya ganti baju saja, tidak usah ditambah goyang kucing nakal, hahaha."
Davin tergelak dan lagi-lagi Viona mencubit dadanya.
Pembicaraan mereka selesai, mengambil jarak dan menunggu Mutia datang.
*
*
"Lain kali gantian keluarga kamu yang datang ke rumah kami, lagipula anak kita sudah saling mengenal satu sama lain, jadi seru," ucap Dania pada Mutia.
Kini mereka semua sedang berjalan menuju keluar. Jalan dipimpin oleh Alteza dan Gunawan di depan, lalu Dania dan Mutia dan dibelakang anak-anak. Davin dan Viona mengambil posisi akhir, agar tak ada yang melihat jika mereka saling bergandengan tangan.
"Sepertinya para orang tua juga harus bertemu," bisik Mutia, hingga membuat Mutia dan Dania terkekeh pelan.
Akhirnya mereka semua sampai di halaman rumah. Pamit saling cipika-cipiki dan cium tangan untuk yang muda pun terjadi.
__ADS_1
Hingga sebuah lambaian tangan menjadi tanda perpisahan dua keluarga itu.
Tepat jam 9 malam keluarga Gunawan sampai di mansion. Viona dan Dinara langsung pamit untuk masuk ke kamar mereka masing-masing, sementara Dania dan Gunawan masih duduk di ruang tengah untuk bersantai sejenak.
"Kenapa mama senyum-senyum?" tanya Gunawan pada sang istri.
Senyum Dania semakin lebar dia Lalu memeluk lengan suaminya erat.
"Tidak ada apa-apa Pa, mama hanya merasa sangat bahagia sekali, akhirnya keluarga kita bisa merasakan hidup rukun seperti ini. dan Papa bisa melihatnya dengan jelas tidak perlu menunggu sakit-sakitan dulu."
"Hus! kamuu! doain suaminya sakit ya?"
Dania terkekeh.
"Papa juga bersyukur, setelah putus dari Dewa, Viona jadi lebih terbuka kepada kita semua, mau menerima kamu dan Dinara."
Dania mengangguk.
"Pasti ini pengaruh kekasihnya yang baru," sahut Dania lalu kembali senyum-senyum.
"Kamu bicara seperti itu seolah tahu siapa kekasih Viona yang baru."
"Tau dong."
"Siapa?"
"Rahasia ... hahahaha."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Dah 5 bab ya 😗😗😗
Sampai bertemu besok lagi, insya Allah 😗😗😗