Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Jamal yang baru saja tersadar, segera mengenakan pakaiannya.


Begitu juga dengan Lina.


Sekarang, mereka berdua sama-sama terdiam dan duduk di ruang tamu. Menunggu kedatangan Indah yang tadi pergi bersama dengan anak-anaknya ke taman.


"Lin. Aku... Aku akan bertanggung jawab, atas apa yang Aku lakukan tadi."


Lina menatap sekilas ke arah Jamal yang berkata dengan melihatnya. Dan di saat tatapan mata mereka bertemu, Lina dengan cepat memutuskan pandangannya terlebih dahulu.


Dia tidak sanggup untuk berlama-lama menatap mata Jamal, yang terkesan tajam penuh dengan aura wibawanya.


"Lin. Kamu mau kan?" tanya Jamal lagi, karena Lina tidak juga menjawab pertanyaan yang dia ajukan.


"Aku... Aku tidak mungkin... itu, Indah akan marah Mas. Aku ini juga Mbak nya Indah. Jadi, lupakan saja yang tadi." Lina ingin Jamal tidak lagi membahas mengenai hal yang baru saja mereka lakukan.


Tapi Jamal mengeleng cepat. Dia merasa jika, apa yang terjadi antara mereka berdua tadi, memang sudah seharusnya terjadi. Karena yang sebenarnya, mereka berdua sudah sering kali melakukannya setiap malam.


"Mas. Lupakan semuanya. Aku... Aku akan diam dan tidak meminta pertanggungjawaban kepada mas Jamal. Aku akan melupakan semua kejadian yang tadi."


Mendengar perkataan Lina yang sedang merasa bersalah, membuat Jamal juga ikut merasa bersalah.


"Lin. Aku tidak mau mendengar penolakan darimu. Aku akan bicarakan hal ini pada Indah nanti." Jamal tidak mau menerima bantahan lagi. Karena dia memang ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya. Apalagi, hak itu sudah terjadi setiap malam. Meskipun Lina tidak pernah menyadarinya.


Akhirnya Lina tidak lagi bicara. Dia tidak ingin membuat Jamal menjadi marah. karena merasa diabaikan begitu saja, dengan penolakan yang dia lakukan.


Sekarang, mereka berdua menunggu kedatangan Indah.


*****


"Jadi, apa Kamu setuju jika Aku menikahi Lina besok Yang?" tanya Jamal sekali lagi. Meyakinkan jawaban yang diberikan oleh Indah padanya.


"Iya Mas. Indah tidak keberatan."


Lina cukup kaget juga, mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya. Ketika Jamal bertanya tentang rencananya yang ingin menikah lagi dengan Lina.


Tadi, disaat Indah baru saja pulang bersama anak-anaknya, dia mendapati suaminya, Jamal, yang sedang duduk berdiam diri di ruang tamu. Bersama dengan kakaknya.


Dia jadi bingung, karena keduanya sama-sama terlihat canggung. Dengan kedatangan dirinya.


Akhirnya, Indah bertanya juga kepada suami serta kakaknya.


"Mas Jamal, mbak Indah. Ada apa? apa yang terjadi di rumah ini?" tanya Indah dengan tatapan menyelidik.


Dia merasa bahwa, telah terjadi sesuatu pada keduanya. Karena tidak biasanya, mereka berdua bisa duduk di ruang tamu secara bersamaan. Dengan cara saling diam saja.

__ADS_1


Akhirnya, mau tidak mau, Jamal segera mengatakan keinginannya pada istrinya itu. Dengan keinginannya untuk menikah lagi dengan lina. Kakak dari Indah sendiri.


Lina sudah merasa takut, Katena sangat yakin jika, adiknya itu akan pasti akan marah kepadanya.


Jamal juga berpikir hal yang sama seperti itu.


Dia akan siap menerima kemarahan Indah.


Tapi ternyata dugaan keduanya salah. Sebab, Indah justru tampak tersenyum senang, mendengar pengakuan yang dilakukan oleh suaminya siang ini.


"Indah sangat mendukung keinginan dan keputusan yang diambil oleh mas Jamal."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Indah barusan, tentu saja Jamal dan juga Lina sama-sama terkejut


Mereka berdua tidak pernah menyangka jika, Indah justru mendukung keinginan suaminya. Meskipun istri baru nya nanti adalah kakaknya sendiri.


"Dek. Jika Kamu keberatan, Mbak Lina gak maksa. Ini, ini bukan keinginan Mbak Lina Dek, ini adalah..."


"Sudah Mbak gak apa-apa. Indah justru merasa senang. Karena sebenarnya, hal ini juga yang ingin Aku bicarakan sama mas Jamal beberapa hari yang lalu. Sayangnya, mas Jamal selalu memotong kalimat Indah yang belum selesai diucapkan. Dan tidak mendengarkan perkataan Indah hingga selesai."


Mereka berdua, Jamal dan Lina, sama-sama terkejut dengan penjelasan yang diberikan oleh Indah kali ini.


Mereka tidak pernah menyangka, jika pemikiran adiknya itu justru bertolak belakang dengan apa yang sudah mereka lakukan tadi. Yaitu bercinta dibelakangnya Indah.


*****


Dan Lina, juga hanya meminta pada Jamal, untuk menikahinya secara siri. Jadi, dia hanya berstatus sebagai istri sirinya Jamal.


Lina tidak mau membuat pernikahannya dengan Jamal ini resmi secara negara. Tanpa mau memberikan penjelasan dan alasan yang jelas.


Dia hanya merasa yakin, dengan berlangsungnya pernikahannya ini dalam jangka waktu yang lama.


Sedang Indah hanya bisa menuruti keinginan katanya itu.


Begitu juga dengan Jamal sendiri. Dia menyerahkan semua keputusan kepada Lina. Yang penting, antara Indah dan Lina bisa sama-sama akur. Tanpa harus berebut untuk bisa mendapatkan perhatian darinya.


*****


[ Ding ]


[ Selamat malam Tuan ]


'Malam juga.'


[ Ding ]

__ADS_1


[ Sistem mengingatkan kembali, jika besok waktunya untuk panen kentang ]


'Oh iya. Besok Aku harus segera panen kentang-kentang yang juga di jual secara online di canel Jamal Farm News!'


[ Ding ]


[ Bagaimana Tuan ]


'Ya. Aku akan ingat semua hal yang sudah ditentukan oleh sistem.'


[ Ding ]


[ Selamat bersenang-senang Tuan ]


'Ya terima kasih.'


[ Ding ]


Jamal selesai untuk beraktivitas dengan sistemnya. Kini dia harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke dalam kamarnya Indah.


Dia tidak mau jika membuat Indah merasa terabaikan. Hanya karena dirinya sudah memiliki Lina saat ini.


Tapi ternyata Indah tidak ada di dalam kamarnya. Sehingga Jamal terpaksa harus mencarinya di kamar Lina terlebih dahulu. Memastikan jika keadaan mereka berdua sama-sama dalam keadaan baik-baik saja.


Dan ternyata apa yang dipikirkan oleh Jamal tidak ada benarnya sama sekali.


Pada kenyataannya, Indah memang benar ada di dalam kamarnya Lina. Bersama-sama dengan kelima anaknya juga.


"Hai! Kalian sedang bersama-sama. Tapi melupakan Papa Sayang!" tegur Jamal pada kelima anaknya.


Tapi sebenarnya, dia sedang menyindir kedua istrinya itu.


"Sini Pa!" ajak Beta dengan melambaikan tangannya. Meminta pada Jamal, supaya segera mendekat ke tempat tidur. Di mana dirinya dan juga saudara-saudaranya yang lain, juga berada di tempat tidur tersebut.


Tapi ternyata Jamal menolak ajakan Beta, anaknya yang kedua. Dia hanya ingin melihat kedua istrinya itu dalam keadaan rukun dan tidak bersaing.


Setelah beberapa saat kemudian, Jamal mulai melihat jika anak-anaknya itu mulai mengantuk. Bahkan, Elisa, sudah menguap sedari tadi.


"Eh Yang. Aku mau ajak anak-anak untuk tidur di kamarnya sendiri ya!" pamit Jamal, pada istrinya Indah.


Lina melihat ke arah Jamal, dengan maksud untuk mengatakan bahwa, dia juga ingin dipanggil dengan sebutan yang sama seperti adiknya itu.


Adik yang pada kenyataannya justru menjadi kakak madunya.


Sebuah hubungan hati yang lumayan rumit untuk sebagian orang.Tapi pada kenyataannya, ketiganya, Jamal, Indah dan juga Lina, bisa melakukannya dengan baik dan tidak ada pertengkaran yang berarti.

__ADS_1


__ADS_2