Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Tidak Sadar


__ADS_3

"Ada apa Ami?" tanya bu Anita, yang dipanggil-panggil oleh Umi.


"Ibu, ibu Anita ayo bantu Saya. Indah, Indah sedari tadi tidak membuka pintu kamar." Umi memberikan penjelasan detail terbata-bata, karena rada khawatir yang dia rasakan.


Bu Anita yang kaget tentu saja langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengajak ibu-ibu yang ada di sebelahnya untuk ikut membantu.


Mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama, untuk mendobrak pintu kamar Jamal.


Tapi sebelum memutuskan untuk mendobraknya, mereka menggedor-ngedor pintu terlebih dahulu. Karena bisa jadi, kali ini Indah bisa mendengarnya.


Tok tok tok!


Dorrr dorrr dorrr!


"Indah! Ndah!"


Tapi karena tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya mereka memutuskan untuk mendobrak pintu kamar tersebut.


"Ini didobrak gak apa-apa Ami?"


"Iya gak apa-apa ini Ami?"


"Iya dobrak saja. Saya khawatir dengan keadaan Indah di dalam," jawab Umi dengan wajah cemas.


Tapi karena pintu tersebut kuat dan yang mendobraknya tenaga ibu-ibu, mereka tetap tidak bisa mendobrak pintu kamarnya jamal. Sehingga mereka harus mencari bantuan laki-laki, untuk bisa membuka pintu tersebut.


"Panggil tukang proyektor atau siapa saja yang berjenis kelamin laki-laki!"


Akhirnya ada dua ibu-ibu yang keluar untuk mencari bantuan, karena mereka memang tidak bisa membuka pintunya. Meskipun sudah melakukannya dengan sekuat tenaga.


Tak lama kemudian, ada dua orang laki-laki yang datang untuk membantu mereka mendobrak pintu kamar tersebut.


Dan karena mereka berdua sudah dikasih tahu tentang keperluan mereka di panggil, mereka langsung menuju ke pintu kamar yang memang ingin di dobrak.


"Ayo sama-sama!"


"Iya. Satu, dua, tiga!"


Brukkk!


"Sekali lagi ya! Satu, dua, tiga!"


Brukkk!


Brakkk!


Dengan segera, Umi dan ibu Anita masuk ke dalam kamar, untuk mencari keberadaan anak mereka, yaitu Indah.

__ADS_1


"Indah! Ndah!"


Mereka sahut menyahut memanggil Indah. Tapi ternyata tidak ada Indah di dalam kamar tersebut.


Bahkan, kamar mandi juga kosong.


"Lho kok gak ada Ami?" tanya bu Anita bertambah khawatir.


Semua orang ikut masuk dan mencari keberadaan Indah. Tapi memang tidak ada Indah di dalam kamar.


"Ke mana dia?" tanya Umi bingung.


Dia menceritakan kepada yang lainnya bahwa, tadi Indah pamit untuk pergi ke kamar mandi. Dia pikir, Indah pergi sekalian untuk beristirahat. Tapi ternyata sekarang tidak ada.


"Lalu ke mana dia?" tanya bu Anita bingung.


"Oh ya, tadi Saya pergi ke kamar mandi dapur. Ada suara orang yang sedang meminta tolong. Tapi Saya tidak tahu, di mana. Saya justru berpikir jika itu suara makhluk halus tadi. Jadi Saya ketakutan."


Mendengar cerita dari Umi, sebagian dari ibu-ibu mengkeret ketakutan. Tapi bu Anita dan dua laki-laki tadi, berpikir jika itu adalah suara Indah yang sedang meminta tolong.


"Mungkin itu suara Indah Ami. Tapi itu suaranya dari mana Ami?" tanya bu Anita cemas.


Sekarang mereka semua pergi ke dapur dan bu Anita masuk ke dalam kamar mandi.


Tapi dia tidak mendengar suara apapun, sehingga dia keluar dari kamar mandi tersebut sambil bertanya kepada Umi, "kamar mandi ini sebelah sana apa Ami?"


"Apa mungkin..."


Bu Anita tidak meneruskan kalimatnya, kemudian langsung berlari ke arah ruang tengah. Begitu juga dengan yang lainnya, yang menyusul di belakang. Termasuk dua laki-laki yang tadi membantu mereka.


Begitu mereka sampai di depan kamar mandi yang ada di ruang tengah, semuanya kaget karena ternyata gagang pintu dan juga kuncinya rusak sehingga tidak bisa dibuka maupun ditutup.


"Ini rusak Ami?" tanya bu Anita memastikan.


"Tidak. Kamar mandi ini baik-baik saja kok. Saya biasa meminta ART untuk membersihkan setiap hari. Apalagi mau ada acara, pasti akan digunakan juga oleh tamu-tamu. Meskipun ada kamar mandi ya g ada di ruang tamu dan dapur."


"Apa Indah ada di dalam kamar mandi ini?" tanya Bu RT, yang ikut merasa khawatir juga.


"Apa sebaiknya di dobrak saja pintu kamar mandinya ini?" tanya salah satu dari laki-laki yang tadi.


"Iya dobrak saja!"


Umi memberikan ijin kepada mereka, untuk mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Dia juga sangat khawatir dengan keadaan Indah, seandainya benar-benar ada di dalam sana.


Brukkk!


Brukkk!

__ADS_1


Dua laki-laki tadi, mulai mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Dan akhirnya...


Brakkk!


"Indah!"


"Indah..."


Umi justru terlukai lemas, melihat keadaan Indah yang tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi.


Bu Anita, menjerit memanggil nama anaknya, dengan melesat masuk ke dalam kamar mandi yang masih basah dengan air.


Dia meminta bantuan laki-laki tadi, untuk ikut membopong anaknya ke kamar tidur.


"Bawa ke rumah sakit langsung Bu Anita. Biar ditangani dokter. Saya tidak mau jika terjadi sesuatu pada Indah dan anak-anaknya."


Perkataan Umi, diangguki oleh Bu Anita dan juga yang lainnya.


Akhirnya mereka semua sibuk mencari bantuan, agar bisa membawa Indah ke rumah sakit. Sedangkan satu laki-laki tadi, mencari jamal ke lapangan. Karena ponselnya tidak bisa dihubungi.


*****


Di tempat lain.


Jamal yang sedang tidak sadarkan diri, tidak tahu keadaan sekitarnya. Begitu juga dengan orang yang tadi membawanya ke tempat ini.


"Mas, minum dulu."


Jamal hanya mengangguk saja, sambil meminum air yang diberikan oleh orang tersebut. Bahkan, orang itu juga membantu jamal untuk meminum airnya.


Tapi sayang, setelah selesai meminum air tersebut, Jamal justru tidak sadarkan diri.


"Kamu tidak bisa menolak lagi Mas," ujar orang tersebut dengan dengan mengelus pipinya Jamal dengan gerakan lembut.


Dengan berani, dia juga menciumi bibir dan lehernya Jamal tanpa perlawanan.


Dia semakin beringas, seakan-akan terpengaruh oleh sesuatu yang tadi dia konsumsi sendiri.


Sayangnya, ada seseorang yang menggagalkan rencananya, karena memang apa yang dilakukannya, sudah di ikuti sedari tadi oleh orang tersebut.


"Lina! Apa yang Kamu lakukan pada Jamal?" Hendra tidak membiarkan Lina menyentuh tubuh Jamal yang tidak bergerak sama sekali.


"Siapa Kamu?" Lina justru bertanya kepada orang. Seakan-akan dia tidak mengenalnya.


"Aku, tidak perlu Kamu tahu. Tapi lepaskan Jamal. Jika Kamu ingin kehangatan, Aku yang masih perjaka mau memuaskanmu. Dan kita lihat, apakah Kamu juga masih gadis atau sudah tidak gadis lagi!"


Orang tersebut justru menarik tubuh Lina ke dalam pelukannya. Dan dengan tersenyum miring, orang tersebut mulai melakukan apa-apa yang diinginkan oleh Lina. Dan Lina tanpa sadar, juga mengikuti tanpa perlawanan.

__ADS_1


Semua itu karena Lina juga tidak sadarkan diri, sebab apa yang tadi sempat dia minum, juga sudah di campur dengan sesuatu oleh orang tersebut.


__ADS_2