
Atas kesepakatan bersama, akhirnya Lina dinikahkan dengan Hendra. Begitu Lina keluar dari rumah sakit.
Dan pernikahan mereka berdua, tanpa di hadiri oleh Indah dan juga Jamal. Karena Indah masih harus beristirahat di rumah sakit. Dan Jamal yang sudah sehat, tidak mau meninggalkan istrinya sendirian.
Dia hanya berpesan kepada pak Hadi, jika dia memberikan hadiah pernikahan mereka berdua berupa rumah yang saat ini ditempati oleh Hendra.
Sebab rumah itu sebenarnya adalah rumahnya Jamal, yang ditempati sementara waktu oleh Hendra.
Sedangkan kasus Indah yang disabotase di dalam kamar mandi, masih dalam penyidikan polisi. Dan rumahnya Jamal, sementara ini tidak diperbolehkan untuk digunakan orang lain. Selain orang-orang yang menjadi penghuni utamanya.
Dan kamar mandi yang ada di ruang tengah, sudah ditandai dengan garis polisi. Agar tidak ada yang merubah segala sesuatu yang ada di dalam sana.
"Mas..."
Jamal menoleh ke arah istrinya, yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Ya Sayang. Kamu butuh apa?"
"Maafkan Mbak Lina ya Mas," ucap Indah, yang justru meminta maaf pada suaminya.
Jamal mengelengkan kepalanya, sambil mengengam tangan istrinya. Dia berkata, setelah menghela nafas panjang terlebih dahulu. "Mas gak apa-apa Sayang. Memang sebaiknya mereka dinikahkan sedari kemarin-kemarin. Mas saja yang bekuk bicara dengan Kamu."
Indah hanya mengangguk saja, karena dia sedang tidak diperbolehkan untuk banyak bergerak.
*****
Di saat Indah tertidur, Jamal mencoba untuk mengaktifkan sistem yang sudah dua hari tidak dia aktifkan.
[ Ding ]
[ Selamat malam Tuan ]
'Maaf. Aku tidak bisa cek in selama dua hari karena sedang sakit. Jadi tidak sadar jika tidak bisa cek in.'
[ Ding ]
Status : Off
Kekayaan : 245.752.500 poin
Kemampuan : Bertani dengan sistem
[ Ding ]
[ Untuk sementara sistem off ]
__ADS_1
'Jadi, Aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa dengan sistem?'
[ Ding ]
[ Iya Tuan ]
'Sampai kapan?'
[ Ding ]
[ Batas waktu tidak tertentu ]
'Iya. Maaf.'
[ Ding ]
[ Silahkan lakukan pencairan ]
[Ding ]
[ Sampai berjumpa lagi Tuan ]
[ Ding ]
Jamal menghela nafas panjang, karena sistem bertani miliknya, untuk sementara waktu off secara otomatis, karena kesalahan yang dilakukan oleh Jamal sendiri. Meskipun kesalahan itu tidak dia sengaja.
*****
Dua hari kemudian, polisi menemukan kebenaran soal sabotase yang dialami Indah di rumahnya sendiri. Tepatnya di dalam kamar mandi ruang tengah.
Dan temuan polisi ini, mengarah pada anak buahnya Jamal sendiri.
Jadi, di saat melakukan penyelidikan, polisi menggunakan anjing pelacak untuk melacak keberadaan tersangka.
Dari bau badan, yang dideteksi oleh anj*ng pelacak tersebut, anj*ng itu mengarah kepada salah satu karyawan yang ada di kebun jeruk miliknya jamal.
Apalagi, saat sidik jari yang ditemukan pada gagang pintu kamar mandi, identik dengan milik seorang perempuan muda. Dengan ciri-ciri yang sama seperti yang dikenali oleh anjing tersebut.
Yaitu milik Wati.
Wati adalah anak kang Wahid, yang baru saja menjadi karyawan di kebun jeruk miliknya Jamal.
Padahal selama ini, Wati diajari sendiri oleh Indah. Di saat baru-baru menjadi pekerja.
Tentu saja semua orang terkejut dengan temuan polisi kali ini. Karena selama ini, Wati dikenal sebagai seorang gadis yang sedikit pendiam dan tidak banyak bertingkah.
__ADS_1
Kang Wahid dan keluarganya, juga tidak percaya begitu saja, dengan sangkaan polisi bahwa, Wati adalah tersangka. Yang telah melakukan sabotase terhadap Indah.
Padahal Wati bersikap biasa saja, pasca kejadian itu muncul dan diketahui oleh orang banyak.
Namum ketidakpercayaan semua orang, akhirnya pupus. Di saat Wati mengakui semua kesalahannya bahwa, dia memang melakukan semua yang dituduhkan itu.
"Kamu jangan mengakuinya, jika bukan Kamu yang melakukannya Wati. Kamu jangan merasa tertekan."
Kang Wahid mencoba untuk menasehati anaknya, agar tidak terpengaruh dengan hasil penyelidikan polisi yang menyatakan bahwa, Wati adalah tersangka sabotase tersebut.
Kang Wahid berpikir bahwa, anaknya itu terpaksa harus mengakui kesalahan yang tidak pernah dia lakukan, hanya karena sebuah tekanan, karena sudah dituduh. Sehingga harus mengaku daripada nanti akan ditanya macam-macam.
"Maaf Pak. Kita lihat saja bagaimana anak Bapak mengakui di kantor polisi."
Polisi penasehat kang Wahid, supaya tidak mempersulit proses penahanan Wati. karena ini adalah tugas polisi untuk mengamankan tersangka.
Tentu saja, desa G ini kembali digegerkan dengan Wati, yang dijemput polisi pada siang hari ini. Karena telah dijadikan tersangka, atas kasus sabotase kamar mandi yang terjadi kepada Indah, istrinya Bos Jamal.
Kang Wahid berusaha untuk mencari bantuan kepada pak RT maupun pak Lurah. Supaya anaknya itu tidak ditahan.
Dia takut jika, Wati akan dipenjara. Karena dia merasa jika Wati itu tidak bersalah.
"Kang. Kang Wahid. Sabar ya Kang. Kita lihat porses hukum dulu. Polisi tidak mungkin asal tangkap, dan asl menghukum tanpa ada bukti yang kuat."
Pak Lurah menasehati kang Wahid, yang memohon kepadanya. Karena dia juga tidak pernah menyangka bahwa, Wati, gadis yang baru saja lulus SMA dan terlihat masih lugu telah melakukan kejahatan, yang termasuk kriminal. Karena merencanakan sesuatu yang ingin menghilangkan nyawa orang, bahkan orang tersebut sedang dalam keadaan hamil, dengan lima nyawa yang ada di dalam kandungannya.
*****
Di rumah sakit, Indah maupun Jamal juga kaget. Karena mendapatkan kabar bahwa, orang yang sudah melakukan sabotase adalah Wati.
Anaknya kang Wahid, tetangga yang sudah dianggap sebagai saudaranya oleh keluarga Jamal sendiri.
"Masa Wati Mas?" tanya Indah tidak percaya.
"Aku juga tidak tahu Sayang. Kita lihat saja, bagaimana proses penyidikan yang dilakukan oleh polisi, di saat melakukan interogasi."
Indah tidak lagi bertanya. Dia juga cukup terkejut dengan berita tersebut, dan tidak pernah menyangka bahwa, gadis muda itu telah melakukan tindak kejahatan terhadap dirinya. Dengan nekad menginginkan dirinya celaka malam itu.
*****
Di rumah, Umi juga tidak percaya karena wati itu adalah gadis yang sopan. Tidak sama seperti Lina yang sedikit arogan dan semaunya.
Tapi ternyata, semua penilaian yang dilakukan sesuai cover itu memang tidak selamanya benar.
Sama halnya seperti Lina dulu, di saat menilai jamal yang bukan siapa-siapa nyatanya aja mah sekarang bisa memiliki apa saja.
__ADS_1
Sama juga dengan Ajeng. Yang menilai jamal sebagai seorang petani yang hanya bisa berkotor-kotor dengan lumpur. Nyatanya, Ajeng justru merasa menyesal, karena telah menolak jamal pada saat dijodohkan dengannya. Setelah Ajeng tahu kebenaran tentang siapa sebenarnya jamal.
Dan kini, semua orang justru tertipu dengan penampilan Wati yang polos. Tapi pada kenyataannya, dia punya niatan jahat. Hanya karena merasa iri dengan Indah, yang merupakan isterinya Jamal.