Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Jangan Marah


__ADS_3

Jamal langsung pulang ke rumah, setelah selesai mampir ke sebuah toko. Membelikan beberapa oleh-oleh untuk anak-anaknya.


Tidak lupa, dia juga membelikan sesuatu untuk kedua istrinya, untuk dijadikan buah tangan sesampainya di rumah nanti.


Dan sekarang ini, dia baru saja tiba di rumah. Setelah pukul 05.00 sore.


"Papa..."


"Papa!"


Anak-anak, menyambut kedatangan Jamal dengan riang gembira. Apalagi melihat oleh-oleh yang dibawa Jamal, yang dengan sengaja melambai-lambaikan oleh-oleh tersebut. Untuk menarik perhatian mereka semua.


Akhirnya, Jamal membagi rata oleh-oleh tersebut. Untuk kelima anaknya. Setelahnya, dia meminta kepada anak-anaknya itu, untuk kembali pada aktifitas mereka sebelumnya.


Sekarang, dia menemui istri pertamanya terlebih dahulu, untuk memberikan buah tangan yang sudah dia persiapkan.


"Halo Yang..." sapa Jamal, dengan memeluk istrinya itu dari arah belakang. Sebab Indah sedang mencuci piring di dapur.


"Sudah pulang Mas? Kok gak ada suara motor berhenti tadi," tanya Indah heran.


Indah tidak mendengar suara sepeda motor suaminya, yang berhenti di depan rumah. Sama seperti biasanya.


"Hehehe... anak-anak rame di depan. Jadi, suara mereka berlima yang lebih keras terdengar, dibandingkan suara motor." Terang Jamal, dengan memberikan bungkusan kepada Indah.


"Apa ini Mas?" tanya Indah penasaran, dengan apa yang diberikan oleh suaminya kali ini.


"Buka saja Yang," pinta Jamal, yang ini terlihat wajah istrinya itu. Yang nantinya akan terkejut, di saat melihat surprise yang dia bawakan sore ini.


Dan bener saja, Indah membelalakkan matanya. Melihat isi bungkusan yang dia terima dari Jamal.


Sebuah tas wanita, dengan merk yang terkenal. Dan tentunya disukai oleh semua wanita. Termasuk Indah juga.


Tapi Indah langsung terlihat sedih, di saat dia teringat dengan kakaknya Lina. Sebab, jika dia dibelikan tas mahal oleh Jamal, bisa dipastikan bahwa, kakaknya itu akan kembali marah dengannya. Sebab merasa tidak diperlakukan secara adil sebagai seorang istri, oleh Jamal sendiri.


"Kok sedih Yang? gak suka ya sama model ras nya?" tanya Jamal, yang merasa heran dengan perubahan wajah istrinya.


"Gak, bukan begitu Mas. Indah, Indah gak enak hati sama Mbak Lina. Ini, tasnya buat Mbak Lina aja deh. Tapi, mas Jamal yang kasih ya, biar mbak Lina gak marah dan ngambek-ngambek lagi."

__ADS_1


Jamal tersenyum mendengar perkataan istrinya. Dia mencubit pucuk hidung Indah, karena merasa cemas dengan istri pertamanya ini.


"Ihsss... Indah serius Mas!" Indah merajuk, karena merasa jika jamal tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


"Buat Lina ada juga kok, sama seperti ini. Tapi beda warna gak apa-apa kan?"


"Oh... Indah pikir mas Jamal gak beli buat mbak Lina juga. Jika sama modelnya, sebaiknya mas Jamal tanya sama mbak Lina. Dia mau yang warna apa. Takutnya, mbak Lina merasa tidak puas, jika mas Jamal yang menentukan warnanya. Dia nanti berpikir jika lebih bagus untukku, dan memberikan dia yang tidak Indah suka."


Penjelasan yang diberikan oleh Indah, membuat Jamal semakin kagum pada istri bersamanya ini.


Dia tidak pernah menyangka, jika istrinya itu selalu ingin mengalah pada kakaknya, yang merupakan adik madunya sendiri.


Padahal, bisa saja Indah lebih bersikap otoriter atau menguasai Jamal, karena dialah istri pertama Jamal, yang menjadi istri satu-satunya yang sah.


Tapi ternyata tidak.


Indah tetap menjaga perasaan kakaknya itu, meskipun Lina lebih sering egois dan mau menang sendiri.


Mungkin Indah sudah terbiasa mengalah sejak kecil pada Lina, sebab Lina memang terlalu dimanjakan oleh kedua orang tua mereka di masa lalu. Sehingga membuat karakter lina seperti itu.


"Tapi, jika ternyata Lina mau dua-duanya bagaimana?" tanya Jamal, yang tidak ingin, jika Indah terus mengalah kepada Lina.


Mereka berdua, malah saling bergurau di dapur, dan tidak memperhatikan, jika sudah ada Lina di depan pintu dapur.


Sebenarnya, tadi Lina datang ke rumah ini, karena ingin menemui Jamal, dan meminta maaf atas perlakuannya tadi pagi.


Tapi melihat kemesraan suami dan adiknya itu, dia kembali merasa sangat kecewa dan jengkel. Sebab dia merasa jika tidak diperhatikan dan diabaikan oleh suaminya itu.


Dengan jengkelnya, Lina menghentakkan kakinya ke lantai. Kemudian berbalik arah untuk pulang ke rumahnya sendiri.


Dia merasa kecewa, karena niatnya untuk bertemu dan meminta maaf pada Jamal, justru mendapatkan pemandangan yang tidak menyenangkan untuknya.


"Jika sama Aku saja, mas Jamal tidak bisa seperti tadi. Apa Aku memang tidak pernah ada di dalam hatinya mas Jamal?"


Kini, Lina berlari-lari pulang ke rumahnya sendiri, sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh dengan sendirinya.


Dia benar-benar merasa kecewa dan marah pada nasibnya yang malang, dan tidak seberuntung adiknya.

__ADS_1


Di dalam dapur.


Indah yang melihat keberadaan kakaknya, Lina, meminta pada suaminya itu untuk mengejarnya pulang.


"Mas, itu tadi mbak Lina. Mas kejar gih! Nanti dia salah paham lagi lho!"


"Kenapa?


Jamal yang tidak memperhatikan perubahan wajah istri keduanya tadi, justru merasa heran, dengan permintaan Indah kali ini.


Dia merasa tidak melakukan apa-apa dengan Indah, yang bisa membuat Lina cemburu.


"Sudah Mas. Pokoknya, mas Jamal susul Mbak Lina pulang! ini, ini bawa juga tas nya Dan yang satunya juga bawa ya Mas!"


Indah mendorong punggung suaminya, supaya segera pergi ke rumahnya Lina.


*****


Di gudang bekas pengilingan padi miliknya Jamal. Yang sekarang ini kosong, karena semua mesin-mesin yang dulu beroperasi untuk penggilingan dan pengering padi sudah rusak semua. Sedang ada bersih-bersih.


Beberapa orang yang diminta jamal untuk membersihkannya baru saja selesai.


Katanya, Jamal punya rencana, untuk membuat pangkalan truk di tempat ini. Sebab, ada bekas gudang padi, yang masih bagus dan bisa digunakan.


Sama halnya seperti saat ada bencana alam, tempat ini juga digunakan sebagai tempat pengungsian.


Tapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan diperbaiki oleh Jamal juga. Supaya tempat ini tetap aman untuk para pekerjanya nanti.


Itulah sebabnya, dia meminta beberapa orang untuk membersihkannya. Supaya besok bisa dibangun untuk diperbaiki, mana saja yang perlu diperbaiki.


Dan ternyata, Jamal juga udah merekrut beberapa pemuda yang ada di desa G ini, untuk dijadikan supir truk besok. Di saat truknya sudah tiba di rumah.


Para warga yang mendengar rencana Jamal ini, akhirnya kembali membicarakan tentang Jamal. Sama seperti dulu, pada saat Jamal sudah sukses, dengan segala usaha yang dilakukannya.


Banyak para wanita muda, gadis-gadis maupun janda, yang tertarik dan menaruh simpati serta kagum pada sosok Jamal. Yang ternyata tidak pernah putus asa dalam melakukan semua usahanya. Meskipun pernah ada dalam titik yang sangat lemah. Pasca bencana, maupun sebelum bencana datang. Karena Jamal pernah sempat koma, dan tidak bisa diketahui nasib kedepannya.


itulah sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Sebab kita tidak boleh merasa putus asa maupun terpuruk, jika ada pada posisi yang tidak baik. Karena segala sesuatu, saja terjadi di depan sana.

__ADS_1


Yang penting, kita tetap mau berusaha dan memanfaatkan segala hal yang bisa kita lakukan. Demi kemajuan dan perkembangan diri kita sendiri, serta orang-orang terdekat kita juga.


Jadikan contoh yang baik, dan jauhkan sesuatu yang buruk. Agar kita bisa melakukan apa-apa dengan fokus, dan memetik hasilnya dengan baik juga.


__ADS_2