Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Obat


__ADS_3

Tuan Wiro akhirnya menyampaikan keadaan Ajeng yang sebenarnya, yaitu sikap Ajeng yang telah melarikan diri dari rumah. Untuk menghindari lamaran Hendra untuknya.


"Saya pribadi dan wakil keluarga, mohon maaf atas segala kesalahannya Ajeng, yang sudah meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan kami. Kami juga baru tahu tadi," terang Tuan Wiro memberikan penjelasan kepada Hendra, Umi dan juga pamannya Hendra.


"Saya pribadi sangat menyesal dan sedih, dengan tingkah anak gadis Saya," imbuh Tuan Wiro dengan wajah yang sedih dan menahan amarahnya, mengingat kelakuan anak gadisnya itu.


Dia tidak berani menatap wajah-wajah tamunya yang ikut terkejut saat mendengar penjelasannya.


Paman Hendra, yang berprofesi sebagai seorang polisi, mengepalkan tangannya. Dia sangat marah, karena merasa dipermainkan oleh keluarga Tuan Wiro.


"Saya sangat menyesal karena perlakuan keluarga ini. Mentang-mentang kami orang tidak punya kalian berani-beraninya permainan kami!" geram Pamannya Hendra dengan wajah merah padam.


"Sebagai pamannya Hendra, Saya pribadi tidak akan pernah memaafkan kalian semua."


"Hendra, ayo pulang! jangan pernah berharap dengan gadis seperti Ajeng itu. Lebih baik cari gadis lain aja." Pamannya Hendra marah, dan mengajak keponakannya untuk segera pergi dari rumahnya Tuan Wiro ini.


Begitu juga dengan Umi. Dia tampak lebih sedih lagi dan menahan diri untuk tidak marah-marah. Karena dia harus gagal untuk ke-dua kalinya meminang anaknya Tuan Wiro.


Mereka bertiga pulang tanpa banyak bicara, dengan membawa hantaran lamaran mereka kembali pulang.


Tuan wiro dan istrinya hanya bisa berpelukan sambil menangis


Nyonya Yenny sudah tidak bisa mengeluarkan suara atau kata-katanya,karena dadanya terasa sesak dan sulit untuk merangkai kata yang tepat dalam situasi seperti ini.


Hanya wajah yang berlinang air mata yang sedari tampak pada wajah ayu_nya. Meskipun usianya tak lagi muda.


Mereka berdua, sangat menyesali perbuatan anaknya Ajeng, yang sudah membuat mereka berdua sangat malu.


"Dasar anak tidak tahu diuntung! awas aja kalau sampai dia pulang. Tidak akan Aku biarkan Kamu mempermalukan kami lagi Ajeng. Akan ku seret Kamu ke rumahnya Umi, untuk dinikahkan dengan siapa pun yang saat itu ada di rumahnya!" Tuan Wiro berjaya dengan geramnya.


Diperjalanan, pamannya Hendra meminta mereka untuk berhenti sebentar dan bicara.


"Hendra, sudah tidak usah dipikirkan kejadian yang tadi. Lebih baik Kamu mencari gadis lain. Aku tidak suka dengan gadis yang seperti. Aku berharap Kamu mengerti apa yang Paman katakan ini."


paman hendra masih menyimpan amarahnya, dengan menatap keponakannya itu dengan wajah sedihnya.


Sedangkan Umi, hanya diam saja sambil mengelus-elus lengan teman anaknya itu.


"Iya Paman. Hendra tidak akan pernah mengambil Ajeng sebagai istri." Hendra juga mengatakan rasa kecewanya. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Kamu mau pulang bersamaku, mau menemui bapakmu?" tanya pamannya Hendra. Setelah mereka semua terdiam.


"Maaf Paman. Sepertinya Hendra mau pulang dan menenangkan diri dulu. Besok saja Hendra ke rumahnya Paman."


Pamannya Hendra mengangguk mengiyakan. Dia paham dengan kesedihan keponakannya saat ini m

__ADS_1


Akhirnya, mereka pulang dengan tujuan yang berbeda.


*****


Mobil yang dikendarai oleh Hendra sudah sampai di rumahnya Jamal lagi.


"Ami. Terima kasih ya Ami. Hendra mau pulang dulu," pamit Hendra saat Umi keluar dari dalam mobil.


"Bawa saja mobilnya Hen. Itu, sekalian bawa pulang lagi hantarannya. Jangan sedih, pasti ada wanita yang lebih baik dari Ajeng nanti."


Hendra hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Umi yang sedang menghiburnya.


*****


Di kamar hotel.


Jamal sedang mengaktifkan sistem miliknya. Karena setelah dia menikah, sistem memang dia aktifkan pada malam hari. Sekedar untuk cek in saja.


[ Ding ]


[ Selamat malam Tuan ]


'Aku mau cek in harian.'


[ Ding ]


'Terima kasih. Aku mau ingatkan lagi besok malam. Takutnya Aku lupa.'


[ Ding ]


[ Siap Tuan ]


Setelah selesai urusannya dengan sistem, Jamal mendengar Indah yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.


Jamal segera berlari ke kamar mandi, untuk melihat keadaan istrinya.


"Sayang, Sayang. Kamu kenapa?" tanya Jamal melihat keadaan Indah yang pucat pasi.


"Gak tahu nih Mas, tiba-tiba pusing dan kayak mau muntah. Apa makanannya tadi nggak nyaman di usus ku ya?"


"Kita ke klinik hotel di sini, ada kliniknya kok." ajak Jamal dengan membopong tubuh istrinya ke tempat tidur.


"Gak usah Mas. Nanti Indah istirahat saja, pasti akan kembali sehat."


"Oh ya sudah," sahut Jamal dengan menyelimuti tubuh istrinya.

__ADS_1


Setelahnya, Jamal pamit keluar sebentar untuk mencari obat dan teh hangat. Agar Indah bisa meminumnya nanti.


Indah hanya mengangguk saja kemudian memejamkan mata untuk beristirahat.


Tak lama kemudian, Jamal sudah kembali ke dalam kamar lagi. Dia membawa obat dan teh hangat untuk istrinya.


Indah yang memang belum tidur, diminta Jamal untuk minum teh hangat, kemudian meminum obat anti mual dan pusing.


Indah sempat menolak, tapi karena dia memang sedang dalam keadaan seperti ini, dia akhirnya menuruti perintah suaminya.


"Sini Aku pijat Yang!"


Indah menggeleng mendengar tawaran Jamal, tapi tangan Jamal tetap memijatnya.


Akhirnya saya Indah hanya meminta Jamal untuk memijat punggungnya saja. "Yang sini saja Mas," pinta Indah dengan mengubah posisi tidurnya dengan menelungkup.


Jamal mulai memijat punggung istrinya dengan minyak esensial yang tadi dia beli di apotek. Dia melakukannya dengan lembut sehingga Indah pun terbuai dengan pijatan suaminya itu.


Tapi Jamal justru terang_sang, setelah melihat punggung istrinya yang polos dan putih. Dengan tanda kepemilikannya di bertebaran di sana.


Pijatan Jamal merembet hingga ke depan, sehingga tangannya menyentuh anak gunung kembar istrinya.


"Masss..."


Ternyata Indah mulai terpengaruh dengan pijatan suaminya itu. Apalagi Jamal melakukannya dengan sangat lembut tapi penuh dengan tekanan. Sehingga istri itu mendesis keenakan tanpa sadar.


Jamal akhirnya tidak bisa menahan diri lagi, untuk tidak melakukan apa-apa yang lebih berani.


Tangannya tidak lagi memijit punggung istrinya, tapi mengeskpos semua tempat yang menjadi titik sensitif tubuh istrinya itu.


Dan akhirnya Indah menyerah dalam pertahanannya untuk tidak merespon apapun kelakuan suaminya. Karena pada akhirnya, Indah mengubah posisi tidurnya dengan telentang, sesuai dengan arahan tangan suaminya.


Tangannya Indah justru mengarahkan tangan suaminya itu untuk melakukan hal lebih pada bagian intinya, sehingga dia mendesis keenakan dengan nafas yang memburu.


"Masss... Jamallll.... sss... hhh..."


Jamal akhirnya tidak tahan lagi, kemudian segera naik ke atas tubuh istrinya itu, untuk memberikan pengobatan yang lebih baik dan mujarab tentunya.


Setelah beberapa saat kemudian, keduanya sama-sama berbaring saling berhadapan dalam posisi miring. Dengan keringat yang membasahi tubuh mereka berdua.


Wajah Indah juga sudah tidak pucat lagi seperti tadi.


"Terima kasih Mas."


Cup!

__ADS_1


"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Jamal setelah mengecup bibir istrinya singkat.


Indah hanya mengangguk saja, kemudian keduanya sama-sama memejamkan mata untuk beristirahat setelah kegiatan mereka barusan.


__ADS_2