Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Siap Bercocok Tanam


__ADS_3

Ternyata, pesona Jamal yang sudah menjadi petani sukses dengan sistem yang dia miliki sangat berpengaruh. Bukan hanya Lina saja, tapi juga Ajeng yang sudah ikut terpengaruh dengan pesona Jamal. Dia menyesal dengan keputusannya menolak perjodohan yang dulu.


Akhirnya, Ajeng mengutarakan keinginannya kepada mama dan papanya malam ini.


Dia mengatakan menolak rencana Hendra, yang ingin melamarnya bulan depan. Dia ingin menjadi istrinya Jamal, meskipun itu untuk jadi istri yang kedua m


"Kamu jangan gila Ajeng! Jamal itu sudah punya istri, bagaimana mungkin Kamu jadi istri keduanya. Jangan gitulah Kamu," tutur Nyonya Yenny pada putrinya itu.


"Kamu sendiri yang sudah menolak Jamal waktu itu!" bentak Nyonya Yenny pada Ajeng.


Nyonya Yenny sudah sangat kesal menghadapi sikap anaknya yang keterlaluan.


Tuan Wiro terdiam. Dia menyadari jika pesona Jamal memang tidak ada tandingannya. Apalagi untuk gadis-gadis muda seperti anaknya itu. Karena dia sendiri mengagumi anak muda tersebut.


Dia juga sangat menyesali keputusan Ajeng dulu, yang telah menolak perjodohannya dengan Jamal. Dan sekarang justru gotot menolak lamaran kekasihnya juga.


Bahkan Ajeng mengharapkan Jamal untuk menjadi suaminya, meskipun nantinya dijadikan istri kedua.


"Bagaimana mungkin ini terjadi pada anakku? Apa yang dimiliki Jamal, sehingga pesonanya begitu besar? Aku saja sangat kagum padanya," batin Tuan Wiro dalam hati.


"Pokoknya Ajeng mau sama mas Jamal! Mama tidak bisa memaksa Ajeng untuk menerima lamaran mas Hendra! Apalagi mas Hendra juga sudah bangkrut. Gak kerja di kota lagi. Justru jadi anak buahnya mas Jamal dia," cibir Ajeng yang menilai seseorang dengan harta yang dimiliki.


Papa dan Mamanya sudah pusing menghadapi sikap Ajeng yang kekanak-kanakan.


"Ajeng, meskipun kamu hidup bersama Hendra, kami masih akan membiayai kebutuhan hidupmu. Jangan membuat malu Mama dan Papa Ajeng! Apalagi dengan menjadi istri keduanya Jamal."


Nyonya Yenny tidak mau menanggung malu, karena anaknya menjadi pelakor dalam kehidupan Jamal dan Indah. Dia tidak mau dicap sebagai orang tua yang tidak bisa memberikan pendidikan yang baik pada anak gadisnya.


"Huwaaa..."


Ajeng justru menangis dengan keras, tanpa peduli dengan mama dan papanya yang mengelengkan kepalanya beberapa kali. Karena sudah tidak bisa melakukan apa-apa untuk bisa menasehati anaknya itu.


*****


Di rumah Jamal.


Jamal sedang bersiap-siap bersama dengan Indah, untuk keperluannya besok pagi, saat akan berangkat bulan madu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada yang menghubunginya malam ini.


Tring... tring... tring...


Dengan memberikan isyarat pada istrinya, Jamal meminta pada Indah untuk mengambilkan handphone miliknya yang ada di atas meja.


Indah yang mengerti isyarat tersebut, berdiri untuk mengambil ponsel yang masih berdering.


Ternyata yang menelepon itu adalah Hendra, yang tadi baru saja mengusir Lina yang datang ke rumahnya.

__ADS_1


..."Halo Hen, ada apa?" ...


..."Jamal, Kamu harus berhati-hati sama Lina. Dia sedang mengancam akan menghancurkan yang pernikahanmu dengan Indah tadi."...


..."Maksudnya Hen?"...


..."Dia barusan datang ke rumahku. Entah apa maunya kakak ipar mu itu. Atau sebaiknya Kamu carikan dia suami." ...


..."Hemmm..."...


..."Sebaiknya begitu Mal. Tapi Aku ragu, siapa juga yang mau dengan Lina? Dia itu cewek spikopat, aneh kayak gitu. Ada-ada saja rencananya."...


..."Lalu Aku harus bagaimana?" ...


..."Kawinin aja dia sekalian Mal. Hahaha..." ...


..."Hahaha... masa iya Aku harus menikahinya juga? Apa dia gak berfikir bahwa adiknya adalah istriku!" ...


..."Mungkin saja maunya seperti itu. Dia kan udah gak waras itu. Eh sorry ya Mal, begitu-begitu juga sekarang dia mbak ipar Kamu. Hahaha..."...


Jamal dan Hendra justru membicarakan hal-hal yang tidak lazim, karena menganggap Lina sudah tidak waras.


Indah yang ikut mendengar pembicaraan mereka berdua, hanya geleng-geleng kepala. Dia tidak marah, karena memang seperti itulah kakaknya sekarang ini.


Lina sudah tidak bisa di menasehati lagi. Semuanya dan lebih egois dari pada dulu.


"Tidak apa-apa Sayang. Itu kakakmu saja yang memang tidak bisa berpikir jernih. Dia semaunya, dan tidak dewasa. Kamu pasti lebih paham dengan sikap dan sifatnya, secara Kamu adalah adiknya. Yang hidup lebih lama bersama dengannya, daripada Aku dan Hendra, yang hanya sebagai teman biasa." Jamal menanggapi permintaan maaf istrinya dengan mengusap-usap punggung tangan Indah yang tadi memegangi tangannya.


"Tapi apa masih ada rasa di hatinya mas Jamal untuk mbak Lina?" tanya Indah dengan mata berkaca-kaca.


Dia merasa takut, jika apa yang dulu dikatakan oleh kakaknya benar adanya. Jika dia hanya dijadikan Jamal sebagai pelarian dan balas dendam.


"Kenapa Kamu bertanya seperti itu Sayang?" tanya Jamal balik.


"Jika mas Jamal masih punya perasaan dengan mbak Lina, Indah tidak apa-apa jika mas Jamal mau menjadikan mbak Lina sebagai istri kedua. Indah rela berbagi dengan mbak Lina. Tapi jangan dengan wanita lainnya Mas," tutur Indah, yang tidak pernah disangka sangka oleh Jamal sendiri.


"Hai! Kamu bicara apa Sayang? Aku tidak seperti itu. Meskipun Kamu menawarkan wanita lebih banyak dan cantik, Aku tetap menolaknya. Aku mencintaimu apa adanya, bukan karena mau balas dendam, sama seperti yang dikatakan oleh Lina."


"Tapi Mas, Aku kok jadi kasihan sama mbak Lina ya. Siapa tahu dengan menjadi istrimu dia tidak seperti itu. Aku takut jika dia akan lebih parah lagi nantinya."


"Kamu bicara apa sih Sayang! Kamu gak boleh berkata seperti itu, tidak baik. Lagipula, mana ada wanita yang mau berbagi suami dengan wanita lain, meskipun itu adalah kakaknya sendiri?"


Jamal membuang nafas panjang, saat menegur istrinya yang berkata tidak-tidak.


"Aku hanya kasihan sama mbak Lina. Bagaimanapun juga di adalah kakakku satu-satunya. Aku tidak mau dia jadi kehilangan arah, dan menjadi gila karena merasa frustasi tidak bisa mendapatkan mas Jamal. Dan siapa tahu, dengan menjadi istrinya mas Jamal, dia bisa berubah menjadi lebih baik lagi." Indah menuturkan pemikirannya yang tidak bisa diterima Jamal.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mencintainya lagi Indah. Bagaimana bisa Kamu meminta Aku menikahinya juga? sudahlah tidak usah membicarakan tentang Lina lagi. Lebih baik kita bersiap-siap untuk berangkat besok."


Jamal kesal juga dengan usulan istrinya itu. Dia menganggap bahwa istrinya sudah mulai terpengaruh dengan sikap kakaknya yang tidak normal.


Tapi di dalam hatinya, Jamal merasa kagum dengan istrinya, yang ternyata tetap peduli dengan kakaknya itu. Meskipun tahu jika kakaknya itu tidak menyukainya, yang sudah menjadi istrinya saat ini.


'Aku tidak mungkin mau menuruti permintaanmu Sayang. Aku juga tidak terpengaruh dengan ucapannya kakakmu, yang suka bersandiwara. Dia bukanlah gadis yang baik-baik, secara bisa melakukan apa saja sesuai yang diinginkan. Lina adalah gadis yang egois.'


Jamal membatin dalam hati, dengan memeluk istrinya dari samping. Karena posisi mereka sedang duduk berdampingan.


Jamal tetap tidak mau jika Indah punya pikiran yang aneh-aneh.


*****


Sebelum tidur, Jamal kembali mengaktifkan sistem, yang sekarang ini lebih banyak dia aktifkan pada malam hari saja.


Dia berpikir jika pagi hari sudah tidak memerlukan banyak bimbingan dari sistem, karena sawah, kebun jeruk, peternakan sapi perah, dan pengilingan padi, sudah berjalan lancar sebagaimana mestinya.


Dia lebih fokus pada pekerjaannya sebagai seorang suami, yang harus memuaskan kebutuhan hasratnya sebagai laki-laki dan memuaskan istrinya juga.


[ Ding ]


[ Selamat malam Tuan ]


'Aku mau bekerja keras dengan sawahku malam ini. Aku tidak mau diganggu.'


[ Ding ]


[ Permintaan Tuan di proses ]


1%


10%


20%


30%


40%


50%...


Hingga menjadi 100%.


[ Ding ]

__ADS_1


[ Selamat beraktifitas Tuan ]


__ADS_2