
[ Ding ]
[ Selamat pagi Tuan ]
'Aku mau cek in, dan ambil misi.'
[ Ding ]
[ Sistem sudah menyediakan misi untuk tuan ]
'Baiklah. Aku ambil.'
[ Ding ]
Misi : Menanam jagung
Waktu : 1 bulan di mulai dari sekarang
Lokasi : Di kampung sebelah
Target : Menghasilkan jagung terbaik
Hadiah : 100 poin
Bonus : Kotak box misteri dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
[ Ding ]
'Jadi, Aku harus mencari sawah atau kebun di kampung lain? bukan di desaku ini.'
[ Ding ]
[ Benar Tuan ]
'Hemmm... baiklah. Aku akan berkeliling ke kampung lainnya untuk misi kali ini.'
[ Ding ]
[ Selamat berjuang Tuan ]
Hari ini Jamal akan memulai kegiatan paginya dengan sarapan, pergi ke peternakan sapi perah, ke pengilingan padi dan berkeliling ke kampung-kampung sebelah untuk mencari tahu. Apakah ada sawah atau kebun warga sekitar yang ingin dijual.
Karena misi yang dia dapatkan mengharuskan dirinya untuk menanam jagung, tapi dengan lokasi yang berbeda. Yaitu di kampung lain, tidak di kampungnya sendiri.
Sekarang, Jamal keluar dari dalam kamar. Untuk bergabung dengan istri dan juga Ami nya di meja makan.
Mereka akan sarapan pagi bersama.
__ADS_1
"Ami. Sebenarnya cerita lamarannya Ajeng kemarin malam itu bagaimana? Kok bisa Ajeng kabur dan orang tuanya sendiri tidak tahu?" tanya Jamal, yang ingin tahu cerita sebenarnya. Sebab kemarin belum sempat cerita banyak, karena keburu malam.
"Kamu gak tanya Hendra? Dia sudah kasih tahu sendiri gitu kok kemarin, ini malah tanya sama Ami lagi." Umi tidak menjawab pertanyaan anaknya dengan gamblang. Karena memang dia tidak tahu, apa yang sebenarnya ada di pikiran Ajeng. Sehingga tidak jadi menerima lamaran Hendra yang sudah direncanakan sebelumnya.
"Siapa tahu ada yang di tutup-tutupi sama Hendra Ami. Soalnya kemarin di Bali, Jamal sempat ketemu sama Ajeng di halte bus."
Indah ikut mengangguk, membenarkan perkataan suaminya. Jika mereka ketemu Ajeng di halte yang ada di dekat bandara Bali.
"Ajeng ada di Bali?" tanya Umi kaget.
"Iya Ami. Dia duduk di halte, kayak sedih gitu. Tapi waktu Jamal tanya sama Hendra, untuk mengajak Ajeng pulang, Hendra bilang gak usah. Katanya udah gak mau sama Ajeng dia." Jamal mengatakan apa yang dia dengar dari Hendra, jika Hendra sudah tidak ada niatan untuk menikahi Ajeng lagi.
"Iya bagus. Ngapain juga mengharapkan gadis yang kabur-kaburan kayak gitu."
"Jika dia memang gak mau sama Hendra, kenapa gak sedari awal juga dia tidak mau. sini udah di iyakan, malah kabur seenaknya!"
Umi jadi mengerutu karena kesal, dengan sikap dan tindakan Ajeng yang tidak bertanggung jawab atas keputusannya sendiri, waktu diajak rundingan di saat resepsi pernikahan Jamal kemarin.
"Dulu dijodohkan sama Kamu gak mau, katanya Kamu hanya seorang petani. Sekarang sama Hendra, pacarnya sendiri kayak gitu juga. Normal gak sih di Ajeng?"
Jamal mengelengkan kepalanya, mendengar pertanyaan dan praduga Ami nya itu.
"Hemmm... iya maaf. Ami gak akan membicarakan Ajeng lagi." Umi mengerti maksudnya Jamal, karena sudah ada Indah yang menjadi istri anaknya sekarang.
Akhirnya mereka sarapan tanpa banyak bicara lagi, baik bicara tentang Ajeng ataupun yang lainnya.
Tak lama kemudian, Jamal pamit untuk pergi ke peternakan sapi perah miliknya.
"Iya Mas, hati-hati."
"Kamu kalau masih capek, tidur aja, gak usah ke perkebunan jeruk." Jamal mengingatkan istrinya.
Indah mengangguk dan tersenyum saja, diperingatkan oleh suaminya. Sehingga dia kembali masuk ke dalam kamar, setelah Jamal pergi ke peternakan.
hoax dikit lumayan akhirnya indah pun muntah-muntah kembali
*****
Hari ini Jamal pergi tidak menggunakan sepeda motornya. Dia juga tidak mengunakan mobil, tapi berjalan kaki. Sekalian berolahraga, berjalan-jalan menghirup udara segar di pagi hari kampungnya ini.
Di jalan, dia berpapasan dengan anak-anak yang mau berangkat sekolah.
Ada yang berjalan kaki, naik sepeda, dan ada juga yang naik sepeda motor. Dan saat berpapasan dengannya, mereka menyapanya.
"Pagi mas Jamal."
"Pagi om Jamal."
__ADS_1
"Pagi Tuan Jamal "
Tapi yang sudah pada besar, justru membicarakan tentang dirinya.
"Beruntung sekali ya Mbak Indah. Bisa dapat mas Jamal yang kaya raya itu."
"Aku juga mau lah kalau ada kayak gitu. Ahhh... pasti seneng!"
Mereka justru berandai-andai. Jika bisa mendapatkan seorang suami yang seperti Jamal. Meskipun petani tapi kaya raya.
"Tapi dulu, katanya mas Jamal gak sekaya sekarang ini ya?"
"Iya. Katanya dulu sih, rumahnya yang asli itu yang depan itu. Yang sekarang jadi gudang."
"Kalau udah kaya sih, biasa cowok banyak yang deketin ya! secara cewek-cewek pasti suka dengan kekayaan mas Jamal."
"Katanya dulu mbak Lina, mbak nya mbak Indah, juga suka dengan mas Jamal. Tapi gak tahu kenapa yang dijadikan istri malah Mbak Indah gitu."
"Mau juga dong jadi istrinya mas Jamal..."
"Woi sadar! Itu udah punya istri."
Cowok-cowok yang mendengar perbincangan mereka yang cewek-cewek, hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Dasar cewek-cewek matre. Giliran kena tipu, katanya semua cowok sama. Padahal merekalah yang membuat cowok-cowok harus berpenampilan menarik dan seperti orang kaya. Biar ada cewek yang mau. Hadehhh..."
Jamal yang tidak tahu telah dibicarakan anak-anak sekolah tadi, sudah sampai di peternakan sapi perah miliknya.
Dia melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukan, dan begitu selesai, dia baru pergi ke sawah
Setelahnya selesai dengan pekerjaannya di sawah, dia pergi ke penggilingan padi. Di sana dia bertemu dengan Hendra, yang baru saja datang.
"Bagaimana Hen? apa bisa tidur nyenyak semalam?" tanya Jamal pada Hendra.
"Yahhh... bagaimana lagi. Buat apa juga Aku pikirin, nanti juga ada cewek yang mau sama Aku." Hendra mengendikkan kedua bahunya, tanda jika dia sudah tidak peduli lagi.
"Sudah Aku bilang kan kemarin, Kamu sama Lina aja. Gak apa-apa, nanti kita jadi ipar. Hahaha..."
"Sial_lan Kamu Mal! Tapi kalau dipikir-pikir boleh juga sih. Daripada Aku sama si Ajeng. Ya gak apa-apalah. Hehehe..."
Hendra menanggapi candaan Jamal dengan terkekeh sendiri.
"Nah, bagus kan itu. Boleh-boleh, nanti Aku yang akan bicara sama bapak mertuaku."
"Jangan dulu Mal. Aku mau menenangkan diri dulu. Nanti orang-orang akan berpikir bahwa Aku langsung melamar Lina karena gagal sama Ajeng." Jamal mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Hendra.
"Baiklah, Aku tidak akan bicara dulu dengan bapak mertuaku. Kamu tenangkan diri dulu, jika sudah siap, bilang sama Aku ya!"
__ADS_1
Hendra mengangguk mengiyakan permintaan Jamal, karena dia memang tidak ingin tergesa-gesa untuk memutuskan masa depannya ini.
Apalagi kemarin, Lina sempat terlihat sangat kecewa. Di saat tahu bahwa dia akan melamar Ajeng.