
Malam ini, rumah Lina ramai didatangi oleh para tetangga dan warga sekitar desa G.
Semua orang, terlihat sedih dengan kepergian Lina yang tidak pernah mereka sangka-sangka, karena terkesan mendadak.
Tapi, banyak juga yang membicarakan tentang kehidupan Lina, yang sudah menjadi istri keduanya Jamal.
Dan tentunya, pembicaraan mereka ada yang positif dan negatif dari segi panjang mereka masing-masing.
"Gak nyangka ya, ternyata umurnya Lina pendek. Setelah menjadi istrinya Jamal."
"Iya, padahal dia sudah tidak lagi sama seperti dulu lho!"
"Iya. Dulu kan dia itu sombong, egois dan yang jelas pokoknya gak baiklah. Tapi sejak jadi istrinya Jamal, dia sudah berubah menjadi baik."
"Apa dia berantem sama Indah ya? kok banyak luka di kepalanya."
"Bisa jadi. Nyatanya, dia tidak di bawah ke rumah sakit untuk diperiksa."
"Jangan-jangan, ada konspirasi. Harusnya diselidiki ini!"
"Eh, kalian ini! Bukannya ikut berdoa malah gosip aja!"
Orang-orang yang tadi membicarakan tentang Lina dan keluarganya, akhirnya terdiam setelah ditegur oleh seseorang.
Tapi pembicaraan mereka tadi sempat didengar oleh Tarno. Yang akhirnya ikut berpikir yang sama seperti orang tadi, yaitu mencurigai Jamal maupun Indah.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah...
Flashback di saat Lina berlari pulang, kemudian dikejar oleh Jamal dari belakang.
Jamal menemukan istrinya itu terkapar di teras rumah, dengan kepala yang berdarah di bagian belakang.
Jamal panik dan membopong tubuh istrinya itu masuk ke dalam rumahnya sendiri. Dan memberikannya di sofa ruang tamu.
Ternyata, Lina terpeleset kelereng anak-anak, yang sedang bermain di teras depan rumah. Dan pada saat dia berlari, dia tidak memperhatikan jalan, sehingga kejadian itu tidak bisa dihindari.
Jamal panik dan berteriak memanggil Indah. Melihat banyak darah yang keluar dari kepala istri keduanya itu.
"Yang! Mama! Panggil dokter cepat!"
Indah, yang tadi masih berada di dapur, keluar dengan tergesa-gesa. Karena mendengar suara teriakan suaminya.
"Ada apa Mas?"
__ADS_1
Indah kaget, saat melihat keadaan kakaknya. Dia langsung mencari ponselnya untuk menghubungi dokter yang terdekat, supaya datang ke rumahnya memeriksa keadaan kakaknya itu.
Tak lama kemudian, dokter dateng dan langsung memeriksa luka-luka Lina.
"Bawa ke rumah sakit saja ini Bos!"
Dokter memberikan saran supaya membawa Lina ke rumah sakit, untuk diperiksa lebih lanjut.
Tapi, Lina yang sempat sadar memegangi tangannya Jamal. Kemudian kata dengan lemah, "ti_dak us_sah Masss... A_ku, ti_tidak k_uat lagi. Ma_maa_af, sa_sal_lah Li_lin_na ya Mass... Da_an Dek, In_dah. Mba_ak ju_ga min_min_ta maa_af..."
Tak lama kemudian, Lina menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Jamal.
"Lina..."
"Mbak Lina..."
Sore itu, Lina pergi untuk selamanya. Setelah menyadari semua kesalahannya selama ini.
Kembali pada malam hari, di rumahnya Lina. Yang sedang ada banyak pelayat, yang datang. Untuk mendoakan dan memberikan penghormatan terakhir pada jenazah Lina.
Sebab, jenasahnya Lina, akan dikuburkan malam ini juga.
Tapi di saat jenazah tersebut diangkat untuk dibawa ke pemakaman, Tarno mencegah petugas yang menggotong keranda.
"Tunggu!"
"Apa maksudmu Tarno?" tanya Jamal bingung, dengan sikap Tarno. Yang melarang kegiatan mereka, untuk menguburkan jenazahnya Lina.
Akhirnya, Tarno mengatakan pemikirannya, dengan meminta pada semua warga untuk menahan Jamal serta Indah. Kemudian membawanya ke kantor polisi, untuk diperiksa.
Dia dan beberapa orang warga, akan membawa jenazah Lina, untuk diotopsi di rumah sakit terlebih dahulu.
"Saya curiga, jika kematian Lina ini adalah ulah dari Jamal dan Indah sendiri. Apalagi, ada luka yang cukup mengkhawatirkan. Lalu kenapa mereka tidak membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa, malah cuma memanggil dokter saja."
Penjelasan yang diberikan oleh Tarno, disetujui sebagian orang tapi juga di tentang oleh sebagian orang.
Apalagi, ada sang dokter yang juga ikut berada di antara mereka semua.
"Bukan begitu Mas Tarno."
Dokter mencoba memberikan pengertian dan penjelasan kepada semua orang, dengan apa yang dia ketahui tadi sore. Di saat dia dipanggil oleh Indah untuk datang memeriksa keadaan Lina.
Dia juga memberikan pengertian kepada semua orang bahwa, Lina sendiri yang tidak mau untuk dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Sayangnya, penjelasan yang diberikan oleh dokter tersebut tidak dipercaya oleh Tarno.
Tarno berpikir bahwa, dokter itu sudah dibayar oleh Jamal, untuk memberikan keterangan palsu. Supaya orang-orang mempercayai apa yang dia katakan.
Hal ini membuat semua orang jadi memiliki pemikiran yang berbeda pada setiap orang.
Semua orang lupa, termasuk Jamal sendiri, jika di depan rumahnya, dan rumahnya Lina, sudah terpasang cctv. Karena Jamal mengantisipasi kejadian yang tidak dia inginkan. Sama seperti waktu Indah hamil, dan di sekap oleh anaknya kang Wahid di kamar mandi.
Cctv itu di pasang, untuk keamanan anak-anaknya juga. Pada saat mereka bermain di halaman rumah. Supaya bisa melihat bagaimana keadaan mereka pada saat bermain. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman, jika ada pertikaian atau perkelahian diantara anak-anaknya itu.
Akhirnya, mereka semua memutuskan untuk menunjuk beberapa orang, untuk dijadikan perwakilan. Saat melihat rekaman cctv yang ada di rumahnya Indah.
Begitu juga dengan Tarno.
Dia ikut masuk, dan menyaksikan sendiri, bagaimana kejadian tadi sore. Di saat Lina terpeleset kelereng dan akhirnya jatuh, hingga tidak bisa tertolong lagi.
Meskipun sebenarnya tadi aada anak-anaknya Jamal yang bisa ditanyai, tapi kesaksian anak kecil di bawah umur, tentu saja tidak bisa digunakan begitu saja. Karena seorang anak kecil, pasti punya rasa ketakutan atau mendapatkan tekanan dari keadaan sekitar. Jika ia melihat bagaimana keadaan orang-orang yang sedang menatapnya dengan mengerubungi, atau sedang memberikan pertanyaan-pertanyaan.
Akhirnya, semua terkuak.
Jamal dan Indah, terbukti tidak bersalah. Sebab, semua murni karena ketidak hati-hatian Lina sendiri saat berlari.
Begitu juga saat diperlihatkan rekaman cctv yang ada di ruang tamu. Di mana ada dokter yang datang, kemudian memeriksa keadaan Lina. Dan waktu Lina sempat sadar, kemudiaan sempat berbicara dengan Jamal secara terbata-bata.
Meskipun suaranya Lina tidak ikut terekam di jejak cctv, tapi semua itu sudah memberikan jawaban dan juga bukti, atas keraguan para warga sekitar yang tadi menuduh Jamal maupun Indah.
Mereka semua, akhirnya meminta maaf pada Jamal dan juga Indah. Kemudian mengajak yang lainnya, untuk melanjutkan rencana pemakaman jenazahnya Lina yang sempat tertunda tadi.
Sekarang, semua orang kembali membicarakan tentang keadaan Lina. Yang sudah terbukti jika, semua itu memang kesalahannya Lina sendiri.
*****
Siang ini, sesuai dengan persetujuan pihak showroom, mereka mengirimkan tiga truk ke alamat rumahnya Jamal.
Kedatangan tiga truk baru ini juga membuat orang-orang kembali membicarakan Jamal.
Jadi, apapun yang dikerjakan oleh Jamal baik itu positif maupun negatif, tetap saja akan mendapatkan respon dan komentar, dari orang-orang di sekitarnya.
Sebenarnya hal itu sangat lumrah terjadi pada kehidupan ini. Dan bukan hanya Jamal saja, mungkin, para readers juga ada yang seperti itu. Hayoo ngaku...
*****
NB : Maaf ya gan, jika novel TK ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian. Semua itu karena kekurangan TK sendiri dalam membuat novel sistem 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih atas semua komentar, saran dan kritik serta masukannya.
Maaf jika TK tidak bisa membalas satu persatu komentar dari kalian mohon dimaklumi ya...