Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Dia Lagi


__ADS_3

"Ndah..."


"Ya Ami. Apa Ami butuh sesuatu?"


Indah bertanya pada Umi, yang terbaring lemas di tempat tidur. Dan hanya ada Indah di dalam kamarnya, sebab itulah. Umi ingin meminta bantuan padanya.


Jamal sedang pergi ke apotek membeli obat. Jadi, Umi bisa bicara dengan Indah, tanpa adanya Jamal yang akan tahu perbincangan mereka berdua kali ini. Karena Umi ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.


"Apakah Kamu berpikir bahwa... emhhh... anakku, maksudnya Jamal itu tidak layak untuk dicintai?"


"Apa dia kurang tampan? jadi tidak menarik untuk seorang gadis?"


Umi bertanya pada Indah. Meminta pendapatnya tentang keadaan Jamal di mata gadis-gadis.


"Ami kenapa ngomong seperti itu? Mas Jamal itu baik. Sopan dan ramah. Pasti banyak gadis yang tertarik dengan mas Jamal. Bahkan bukan hanya sekedar seorang gadis. Tapi semua orang Ami."


Indah menjeda kalimatnya. Setelah dia menarik nafas panjang, barulah melanjutkan kalimatnya lagi.


"Hhh... Ami perhatian tidak? banyak lho para pekerja di kebun jeruk, yang sering membicarakan tentang mas Jamal."


Ami mendengarkan perkataan Indah, dengan wajah sedihnya. Meskipun hatinya menghangat, karena anaknya dipuji, tapi perasaan was-was tetap masih mendominasi.


"Ami kenapa tanya seperti itu? Terus... Ami kenapa bisa sakit seperti ini? Bukannya tadi pergi sama mas Jamal bawa jeruk baik-baik saja? Ada apa Ami?"


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Indah, membuat Umi mengeleng lemah.


"Tidak apa-apa Ndah. Ami hanya capek."


"Ehh..."


"Ami. Kenapa gak tidur? Apa masih ada yang sakit? Ini Jamal bawa obat demam!"


Indah tidak melanjutkan kalimatnya, karena ada Jamal yang tiba-tiba muncul di dalam kamar Ami nya.


"Indah. Ini, bantu Ami minum obat dulu ya!"


Indah pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan Jamal. Sekarang, mereka berdua, Jamal dan Indah, sama-sama membantu Umi untuk bisa duduk dan meminum obatnya terlebih dahulu.


Setelah beberapa saat kemudian, Umi tampak mulai mengantuk. Mungkin karena efek samping obat yang tadi dia minum.


Baru setelah Umi benar-benar tertidur, Jamal dan Indah keluar dari dalam kamar. Membiarkan Umi beristirahat dengan tenang.

__ADS_1


Tiba di luar kamar, Jamal bertanya kepada Indah, "apa Ami cerita sesuatu padamu?"


"Tidak ada Mas," jawab Indah pendek.


Tapi sebelum Jamal membuka mulutnya untuk bertanya lagi, Indah sudah bertanya terlebih dahulu padanya. "Ami kenapa tiba-tiba sakit begitu Mas? Bukannya tadi dia baik-baik saja, sewaktu berangkat."


Jamal tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Ami nya. Karena sepulang mereka berdua dari rumah Tuan Wiro, tidak ada sesuatu yang terjadi di tengah jalan.


Mereka hanya saling diam, dan Jamal meminta pada Ami nya untuk tidak bertanya-tanya. Karena dia akan menceritakan sendiri, setibanya di rumah.


"Mungkin Ami kecewa denganku."


Kening Indah mengkerut, karena bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Jamal.


"Maksud Mas Jamal... kecewa bagaimana?"


"Duduklah dulu Ndah. Apa Kamu tidak capek, bertanya dengan berdiri seperti ini? Kayak reporter TV yang sedang wawancara di suatu TKP saja Kamu ini!"


"Hehhh..."


Indah membuang nafas kasar, mendengar perkataan Jamal yang menyindirnya.


Akhirnya dia pun duduk di kursi tamu, sesuai dengan permintaan Jamal. Karena saat ini, mereka berdua memang sedang ada di ruang tamu rumahnya Jamal yang baru.


POV Jamal.


Aku tidak tahu, apakah ada yang salah dengan diriku ini. Karena setiap kali ingin menjalin suatu hubungan dengan seorang gadis, ada saja yang menjadi pihak ketiga.


Bukan... bukan seperti percintaan segitiga seperti yang ada di dalam kisah-kisah percintaan pada umumnya. Tapi ada satu orang, yang terlibat dalam lingkup kisah percintaan yang sedang ingin Aku jalani.


Mungkin bukan orang itu yang salah. Tapi Aku sendiri yang salah, karena waktu juga yang tidak tepat membawaku pada kisah percintaan yang rumit ini.


Pertama, kisah cintaku dengan Lina.


Aku salah, karena menyatakan rasa cintaku ini pada Lina di sebuah warung. Dan pada saat itu ada beberapa temanku yang ada di sana juga.


Alih-alih ingin melihat Lina menerima pernyataan cintaku, justru dia mengatai diriku yang dekil dan seperti tidak terawat.


Lina justru memilih temanku Hendra.


Nasib jika sial, Aku pun merasa malu. Karena mendapatkan tatapan menyedihkan dari beberapa pasang mata.

__ADS_1


Mungkin mereka merasa kasihan dengan nasibku, termasuk Hendra sendiri. Tapi dia juga tidak menolak pernyataan cinta Lina padanya. Padahal Aku lah yang tadi menembak Lina untuk menjadi pacarku.


Akhirnya Aku putus asa. Cintaku kandas, sawah yang Aku tanami padi pun gagal panen. Bahkan tidak bisa di panen!


Aku marah, kecewa dan meluapkan rasa marahku di sawah sore itu. Hingga akhirnya Aku terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Begitu bangun tidur, tenyata Aku sudah ada di dalam kamar. Dan Aku terbangun itu karena sebuah mimpi yang tidak biasa.


Aku pikir itu memang hanya sebuah mimpi. Tapi ternyata tidak.


Aku benar-benar mendapatkan sebuah sistem, yang katanya dari planet XMoon. Bahkan Aku adakah orang ke 1111, yang menerima sistem tersebut, dengan kode series XX1111.


Semua yang Aku lihat dan pelajari dari sistem tersebut, Aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai petani.


Dan sekarang, Aku bahkan bisa dikatakan sebagai satu-satunya pemuda yang berprofesi sebagai seorang petani, dengan semua kekayaan yang tidak tahu berapa jumlahnya. Sebab Aku memang tidak pernah menghitungnya.


Yang pasti, sebagian besar sawah di desa G ini, sekarang adalah milikku.


Kebun jeruk milikku ini juga sudah berhektar-hektar, dengan para pekerja yang hampir seratus orang.


Bahkan kini Aku punya rencana untuk ternak sapi perah juga.


Tapi ternyata semua keberhasilanku ini tidak dibarengi dengan keberhasilan kisah cintaku.


Meskipun pada akhirnya Aku tahu, jika Lina dan Hendra hanya bersandiwara, tapi Aku tidak bisa menerima Lina. Hatiku masih sakit, meskipun tidak lagi sesakit yang dulu.


Kini bahkan Lina yang sering mencari-cari perhatian dariku. Tapi Aku tidak peduli.


Sekarang, di saat Aku ingin membuka hati, dengan rencana Ami yang selalu Aku turuti. Ternyata tidak berjalan seperti pekerjaan yang Aku miliki.


Aku memang berusaha untuk selalu menurut dengan perkataan dan keinginan Ami.


Tapi nyatanya,rencana Ami untuk menjodohkan Aku dengan seorang gadis, anaknya Tuan Wiro dan Nyonya Yenny. Terancam Gagal juga.


Bukan karena Aku yang dekil dan kotor, sama seperti kisahku dengan Lina. Tapi karena Ajeng, gadis yang ingin dijodohkan denganku itu, sudah punya kekasih sendiri. Bahkan mereka berdua sudah melangkah jauh. Tanpa diketahui oleh Tuan Wiro dan Nyonya Yenny sendiri sebagai orang tuanya.


Dan yang lebih menyesakkan dadaku ini adalah, kekasih Ajeng adalah Hendra.


Teman, tetangga, dan juga cowok yang dulu pernah bermain peran dengan Lina, mengerjai perasan hatiku.


Apakah Aku harus menutup pintu hatiku dan hanya fokus pada pekerjaanku saja?

__ADS_1


POV Jamal and.


__ADS_2