
Selesai berbincang dengan Hendra, Jamal pamit untuk pergi ke desa sebelah. Karena dia ingin berjalan-jalan mencari lahan untuk misi jagungnya.
"Aku mau jalan-jalan ke kampung sebelah, tolong handle ya kerjaan yang di sini Hen."
Jamal meminta Hendra untuk mengawasi pekerjaan yang ada di penggilingan padi ini.
"Kamu mau jalan kaki? kan gak bawa motor atau mobil. Atau mau Aku antar?" tanya Hendra memberikan tawaran pada bos-nya.
"Gak apa-apa. Aku sengaja jalan kaki kok. Biar bisa ngobrol-ngobrol sama orang-orang juga. Soalnya Aku mau sekalian cari info. Mau cari lahan, siapa tahu ada yang mau jual sawah atau kebun. Jika bawa mobil atau motor, Aku akan lebih kesulitan untuk mencari informasi.
Jamal menjelaskan maksud dirinya pergi ke kampung sebelah. Karena memang itu adalah tujuan utamanya pagi ini.
"Oh... ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya! semoga sukses dan dapat lahan yang banyak. Hahaha..."
"Aamiin... Aamiin.. semoga saja segera dapat lahannya. Aku mau menanam jagung biar enggak hanya padi saja. Soalnya sekarang ini, prospek jagung juga sangat potensial untuk produksi di masyarakat. Baik skala besar untuk pembuatan snack atau buat makanan ternak. Pokoknya bagus lah itu prospek jagung kedepannya."
"Wah-wah hebat! salut aku Mal sama pemikiran Kamu yang sekarang jadi maju. Jangan-jangan... nanti juga mau melebarkan sayap untuk cari cewek-cewek juga. Hahaha..."
"Hush! Kalau soal itu gak lah, Kamu aja. Aku dukung kalau kamu mau. Hahaha..."
Keduanya justru tertawa saling meledek satu sama lain. Dengan candaan yang asal.
"Eh, kalau Aku, modal dari mana gaet cewek-cewek? kalau Kamu kan ada, modal banyak, tampang nama besar juga udah ada. Udah terkenal dengan sebutan juragan Jamal, Bis Jamal. lah Aku, pakai modal apa?"
Hendra justru menanggapi dengan serius dan tersenyum kecut, saat sadar dengan posisinya yang sekarang ini.
"Model dengkul! hahaha..."
Tapi Jamal hanya menanggapi dengan candaan lagi, sehingga Hendra mengumpat sambil tertawa juga.
"Sial_lan Kamu Mal! malu dong Aku. Lagian cewek-cewek sekarang mau yang dompetnya banyak isinya, gak soal tampang saja!" terang Hendra membeberkan fakta yang ada sekarang.
"Udah-udah, sono pergi! bikin Aku bete aja Kamu!" usir Hendra dengan wajah masam.
__ADS_1
"Iya-iya. Aku pergi. Awas aja Kamu kalau nyariin. Ogah Aku. Weee...!"
Akhirnya Jamal pergi dari penggilingan padi, dan membiarkan Hendra bekerja di sana.
Dia akan pergi ke kampung sebelah, untuk mencari lahan. Karena mungkin saja, ada warga atau penduduk yang menjual sawah mau atau kebun mereka di sana.
Jamal menyusuri jalan perkampungan dan persawahan, serta perkebunan orang-orang di kampung sebelah. Sambil menyapa atau mengobrol dengan mereka, layaknya orang kampung pada umumnya. Tanpa harus menyampaikan keinginannya untuk mencari lahan persawahan.
Sebab bisa jadi, dari obrolan mereka yang ada sangkut pokoknya dengan sawah, ada informasi terkait lahan sawah atau kebun warga sekitar yang ingin dijual.
Apalagi, masyarakat sekitar juga mengenal Jamal sebagai seorang petani yang sudah sukses dengan usahanya.
Beberapa saat kemudian, Jamal berhenti di sebuah warung di pinggir jalan. Yang terletak di antara perkampungan dan juga persawahan.
Di warung tersebut ada bapak-bapak yang mampir untuk ngopi setelah dari sawah, atau yang baru mau berangkat ke sawah.
Akhirnya, terjadilah obrolan antara mereka yang ada di warung tersebut termasuk jamal.
"Wah, tumben nih ada bos Jamal sampai ke sini. Sedang tidak ada kerjaan ya Bos?" tanya salah satu dari mereka yang mengenal Jamal.
"Lancar sih Bos, cuma itu sawahku sekarang jadi kering. Gak ada airnya, karena sungai juga mulai surut. Aku tanami padi gak panen, tak jagung Aku tak panen juga. Pengen Aku jual saja itu sawah."
Akhirnya obrolan mereka menjalar ke area persawahan dan keluhan orang tersebut tentang kondisi sawahnya.
"Oh begitu. Memangnya sawahnya di mana Kang?" tanya Jamal ingin tahu.
"Ada di sini. Sekitar lima kiloan dari warung ini. Luas juga, tapi belum ada yang mau. Padahal udah sebulan ini aku tawarin. Tapi belum ada yang mau nawar juga!" keluh orang tersebut sedih.
"Bagaimana kalau Aku mau beli? tapi kita lihat sawahnya dulu ya!"
"Oh ayolah kita lihat!" orang tersebut antusias, karena Jamal memberikan secercah harapan untuk sawahnya bisa laku.
Setelah membayar kopi yang mereka minum, Jamal mengajak orang tersebut untuk menunjukkan sawah yang ingin dia jual.
__ADS_1
"Luasnya berapa hektar Kang?" tanya Jamal di perjalanan mereka menuju ke sawah.
"Gak luas banget sih, cuma satu hektar saja. lumayanlah, buat orang kampung seperti Aku ini. Tapi Aku juga sedang butuh uang untuk kelulusan anakku dan pernikahan anakku yang paling besar dua bulan lagi."
Jamal mendengar keluh kesah orang tersebut, sambil tetap berjalan bersisian dengannya.
"Padahal sebenernya Aku juga bingung, jika sawahku itu Aku jual, Aku mau kerja apa ya nantinya." Keluh orang itu lagi.
"Oh begitu. Bagaimana jika misalnya, ini misalnya ya Kang, ini kalau sawahnya udah Aku beli, terus yang ngarap sawah masih Kamu Kang."
"Maksudnya bagaimana Bos?" tanya orang tersebut bingung dengan pernyataan Jamal.
"Jika sawahmu Aku beli, yang ngerjain sawah tetap Kamu Kang. Jadi Kamu yang bertugas mengerjakan sawah tersebut."
Jamal memberikan penjelasan kepada orang tersebut, agar bisa jelas.
"Tapi jika panennya gagal bagaimana?" orang tersebut kembali bertanya, karena takut jika dia tidak bisa kerja dengan baik.
"Tenang Kang. Aku akan tetap memberimu gaji untuk setiap bulannya. Ini hitungannya harian. Jadi mau gagal ataupun berhasil panennya, Kamu tetap gajian Kang. Ini bukan sistem bagi hasil."
"Ohhh gitu. Terima kasih banget. Aku mau Bos!" orang tersebut langsung bersemangat begitu paham dengan maksud perkataan Jamal.
Akhirnya mereka sampai juga di area persawahan yang akan dibeli oleh Jamal.
Ternyata area persawahan tersebut cukup lumayan menurut Jamal. Apalagi untuk ditanami jagung.
Kesepakatan jual beli selesai. Jamal membeli sawah tersebut dengan harga yang cukup baik, di atas rata-rata harga jual di kampung tersebut.
Setelah selesai dengan transaksi, Jamal langsung membayar pada orang itu melalui transfer ke rekeningnya.
Orang tersebut merasa senang, karena akhirnya bisa menjual sawahnya dengan harga yang sangat bagus. Sedangkan dia masih tetap bisa bekerja di sawah tersebut.
"Terima kasih banyak Bos. Aku akan bekerja lebih baik nantinya. Semoga sawah ini akan menjadi lahan yang bagus setelah Bos jamal memilikinya."
__ADS_1
Kini dia mengajak Jamal untuk pulang ke rumahnya, guna mengambil surat-surat kepemilikan sawahnya itu.