
Lahan yang sudah disediakan oleh Jamal untuk membuat rumah baru sudah ditentukan.
Untuk rumah yang saat ini dia tempati, tidak akan ada yang dirubah. Karena rumah ini adalah rumah yang di bangun oleh pemerintah dengan bantuan semua warga, sama seperti milik warga yang lain juga, di saat pasca bencana alam kemarin itu.
Mendengar rencana Jamal yang mau membuat dua rumah, Lina terkejut. Apalagi saat dia juga tahu, jika satu rumah yang lainnya memang sengaja dibuat untuk dirinya.
Dia ingin meminta pada Jamal, supaya batalkan rencananya. Yang akan membuatkan rumah untuknya.
"Mas Jamal tidak perlu repot-repot untuk membuat dua rumah. Lina bisa kok, tinggal di rumah yang lama ini. Lina sudah nyaman dan tidak mau merepotkan mas Jamal."
Lina mengungkapkan keberadaannya pada Jamal, di saat kontraktor pulang setelah melihat lokasi yang akan dibuat di rumah.
Tapi Jamal justru tersenyum, mendengar perkataannya. Ini seperti bukan Lina yang dulu dia kenal. Yang terlalu bersemangat dan antusias, jika berhubungan dengan sesuatu yang bisa menjadi sebuah keuntungan untuk dirinya.
"Gak apa-apa Lin. Aku tidak keberatan. Indah juga sudah setuju kok," terang Jamal, supaya Lina lagi menolak.
Lina hanya merasa malu, dan tidak ingin merepotkan adik iparnya itu lagi. Sama seperti yang dulu sering dilakukannya.
*****
Selama ini, Lina tidak tahu, apa yang sering dia lakukan bersama dengan Jamal di malam hari. Karena keduanya, baik Jamal maupun Lina, tidak pernah sadar dengan bener. AIA yang sebenarnya sering mereka lakukan setiap malamnya.
Jamal yang sadar, tapi tidak bisa menolak, hanya bisa berharap jika suatu hari nanti Lina menyadarinya, tidak akan marah dengan apa yang dia lakukan.
Sedangkan untuk Lina sendiri, yang tidak pernah menyadari jika mereka berdua setiap malam selalu bercinta, hanya bisa bertanya-tanya. Di saat dia terbangun dari tidurnya.
Lina sering mengeluhkan tubuhnya yang merasa pegal-pegal dan juga adanya tanda-tanda merah dibeberapa bagian tubuhnya. Apalagi tempatnya juga merupakan tempat-tempat yang khusus meningkatkan gairah dan hasrat untuk bercinta.
Dia juga sering menentukan cairan-cairan kenikmatan yang masih tampak baru di segitiga pengaman miliknya, dan juga seprei.
"Kenapa dengan diriku ini? Aku..."
Lina tidak pernah tahu, apa yang terjadi pada dirinya setiap malam. Karena dia juga tidak pernah merasa jika sedang bermimpi.
Tapi apa yang dia rasakan saat bangun tidur, itu sama seperti yang dulu biasa dia lakukan bersama dengan Hendra. Suaminya yang sudah tiada.
__ADS_1
"Jika Aku memang bermimpi tanpa sadar, itu tidak mungkin bisa terjadi setiap malam bukan?" Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di benak Lina. Yang memang tidak mengetahui apa-apa.
Dia hanya merasa aneh saja, di saat terbangun di pagi harinya.
*****
Kembali ke percakapan antara Jamal dan Lina, yang membahas tentang rencana pembangunan rumah.
"Mas. Aku tidak mau jika ada orang yang membicarakan tentang rencana mas Jamal ini." Lina mencoba untuk memberikan alasan kepada Jamal lagi.
"Kenapa dengan orang-orang?" tanya Jamal, dengan kening berkerut.
Akhirnya Lina mengemukakan alasannya menolak rencananya Jamal ini.
Tapi setelah Lina selesai berbicara, Jamal justru terkekeh geli sendiri. Karena menurutnya, apa yang dikatakan oleh Lina sebagai alasannya itu, sudah menjadi pembicaraan masyarakat di masa lalu, di saat dia yang sedang mengejar-ngejar Jamal. Tapi Jamal justru memilih Indah.
Bahkan Lina tidak patah arang dengan usahanya, yaitu memberikan persyaratan yang aneh dan memberatkan untuk sebagian orang. Di saat acara pernikahan Jamal dan adiknya, Indah.
"Kok malah diketawain sih!"
"Biarkan saja mereka bicara Lin. Bukannya Kamu sudah terbiasa, dengan situasi seperti ini?" ujar Jamal, setelah tawanya mulai mereda.
"Oh enggak. Apaan!"
Lina kembali cemberut, dengan mengerucutkan bibirnya, sehingga membuat Jamal menjadi gemas.
Apalagi, dia sudah sering mencicipi bibir tersebut setiap malamnya. Jadi sekarang dia lupa waktu, dan langsung menangkupkan ke-dua tangannya pada kedua pipi Lina, kemudian mencium bibir tersebut dengan cepat.
Mendapatkan perlakuan Jamal yang seperti ini dari Jamal, tentu saja membuat Lina membelalakkan matanya kaget.
Dia bingung dengan apa yang dia rasakan saat ini.
Ada rasa kaget, tidak percaya, tapi juga perasaan senang karena akhirnya Jamal bisa menjadikan dirinya sama seperti yang dia inginkan selama ini.
Tapi dia juga bingung sendiri, karena perasaan senangnya ini, bercampur menjadi rasa bersalah terhadap adiknya, yaitu Indah.
__ADS_1
Untungnya, saat ini Indah sedang bersama dengan anak-anaknya di taman desa. Mereka semua sedang bermain-main sepeda di sana, karena ada banyak anak-anak yang sedang bermain di taman tersebut, jika pagi hari di hari libur seperti sekarang ini.
"Masss..."
Lina berusaha untuk membuat Jamal tersadar dari perbuatannya itu.
Tapi ternyata, yang dilakukan oleh Lina dengan menyebut nama Jamal dengan mas, justru terdengar seperti sebuah ajakan.
Jamal jadi semakin berani, dengan memindahkan posisi tangannya yang tadi ada di pipi, ketengkuk. Supaya bisa membuat ciumannya semakin dalam. Sedangkan satu tangannya yang lain, memaksa bibir Lina supaya bisa terbuka lebar. Yang bisa memudahkan lidahnya masuk ke dalam mulutnya Lina.
Dengan perasaan yang campur aduk, Lina sudah lama tidak mendapatkan perhatian dan perlakuan seperti ini, tentu saja mulai ikut terbuai dengan sentuhan lembut bibirnya Jamal.
Dia juga melenguh tanpa sadar, merasakan sensasi rasa yang berbeda dari biasanya.
Dia ikut hanyut dalam ciuman Jamal yang memabukkan. Padahal sebenarnya, setiap malam dia juga sudah bermain-main lebih dari yang sekarang ini.
"Mmm... masss..."
Suara Lina ini, justru membuat Jamal semakin lupa diri.
Dia berpikir jika saat ini adalah malam hari, sehingga dia dengan bebas melakukan apa saja yang dia inginkan.
Tangannya yang bebas mulai menyentuh bagian tubuh Lina yang lain, sedangkan ciumannya semakin menuntut. Agar Lina ikut melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan.
Mereka berdua, sama-sama lupa diri. Sehingga membuat diri mereka semakin terbakar rasa yang tak biasa secara sadar. Tidak sama seperti yang dilakukan pada malam hari, karena pengaruh sistem yang disetir oleh Sonya.
"Ahhh..."
Mendengar suara Lina di akhir permainan mereka yang panjang, Jamal baru tersadar dari semua yang sudah dia lakukan bersama dengan Lina pagi ini.
"Eh, Lin..."
"Mas... Ak_aku..."
Mereka berdua merasa canggung dengan apa yang terjadi pada mereka saat ini. Keduanya, masih dalam keadaan bersatu, dan Jamal ada pada posisi di atas tubuh Lina.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain akhirnya sama-sama bergerak cepat. Agar bisa terpisah dan mencari pakaian masing-masing.