Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Akhirnya bertemu


__ADS_3

"Lina," sapa Jamal, begitu dia melihat sosok Lina. Kakak iparnya, yang katanya sedang mengurus anak-anaknya, di saat dia sedang koma.


Lina terbaring di sebuah bangsal darurat, di sebuah tenda pengungsian.


"Jamal."


Lina yang langsung mengenali Jamal, berusaha untuk duduk dari tempatnya berbaring.


"Tidak apa-apa Lin, bagaimana keadaan Kamu?" tanya Jamal, mencegah Lina agar tetap pada posisinya yang tadi.


"Aku... "


Lina tidak melanjutkan kalimatnya, karena dia tidak sanggup untuk mengatakannya.


"Alfa..."


Lina menunjuk pada segerombolan balita yang sedang bermain bersama dengan yang lainnya juga.


Jamal langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Lina. Dan dia melihat bagaimana anak-anak yang sedang asyik bermain, tanpa tahu, bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi pada mereka dan sekitarnya.


"Alfa?"


Seorang anak yang tadi asyik bermain, segera menoleh karena merasa dipanggil oleh seseorang.


Tapi anak itu tidak mengenali siapa yang memanggilnya. Sehingga dia berlari menuju ke tempat Lina berbaring.


"Mama..."


Deg!


Jamal terkejut, mendengar anaknya, Alfa, memanggil Lina dengan sebutan mama.


Sekarang Alfa berada di dekatnya Lina, dan memeluk wanita yang sekarang ini sudah duduk sambil mengelus-elus rambut Alfa. Sepertinya, Alfa ketakutan melihat jamal.


"Alfa Sayang, itu Papa Nak."


Lina memberi tahu Alfa, dengan memberikan penjelasan. Siapa sebenarnya laki-laki yang tadi memanggilnya.


Akhirnya, Alfa dengan rasa yang masih takut-takut, membalikkan badannya. Untuk melihat ke arah papanya. Laki-laki yang baru saja datang ke tempat pengungsian ini.

__ADS_1


Jamal akhirnya tahu, bagaimana keadaan anak-anaknya dari cerita lina. Jika anaknya, Alfa, Beta, Candra, Dinda, dan Elsa, semuanya selamat.


Sayangnya, justru Lina yang kehilangan bayi yang masih ada di dalam kandungannya. Akibat bencana yang terjadi kemarin.


Itulah sebabnya, Lina masih harus beristirahat. Meskipun dia harus menjaga anak-anak, yang bermain di tempat pengungsian. Karena dia tidak mau, jika keponakan-keponakannya yang masih kecil kenapa-kenapa.


Tadi, yang ditemui Jamal hanya ada Alfa saja. Karena saudaranya yang lain, sedang tertidur semua.


"Oh ya mas Jamal. Indah dan Ami bagaimana?" tanya Lina, setelah dia selesai menceritakan tentang keadaan dirinya, dan juga anak-anaknya Jamal dengan Indah.


"Aku belum bertemu dengan mereka. Aku justru mencari keberadaan mereka. Karena saat Aku sadar, Aku sedang dirawat oleh para relawan yang ada di sekitar rumah sakit."


Lina jadi menangis karena ingat dengan adik dan juga Umi.


Apalagi, saat ini kedua orang tuanya, pak Hadi dan ibu Anita, telah tiada karena menjadi korban bencana alam kemarin.


"Jadi bapak sama ibu tidak selamat?" tanya Jamal dengan mata berkaca-kaca.


Lina kembali menceritakan tentang bencana alam kemarin, ada banyak sekali korban yang tidak selamat. Termasuk kedua orang tuanya, dan juga suaminya sendiri. Yaitu Hendra.


"Jadi, Hendra juga meninggal?"


Lina hanya bisa mengangguk dan menangis tanpa suara. Hingga akhirnya Jamal merasa tidak tega dan merangkul kakak iparnya itu, untuk menguatkan.


"Aku nitip anak-anak dulu ya. Aku mau menjadi keberadaan Indah dan Umi."


Lina kembali mengangguk mengiyakan, karena letak daerah rumah sakit dengan desa G ini, memang lumayan jauh. Jadi Jamal memang harus meninggalkan dirinya dan juga anak-anaknya lagi. Untuk mencari keberadaan istri dan ibunya juga.


Singkat cerita, akhirnya Jamal kembali lagi ke daerah rumah sakit yang tadi dia tinggalkan. Untuk mencari keberadaan jejak istri dan juga Ami nya, yang diketahui nasibnya seperti apa.


Dengan tidak ada kata istirahat, Jamal mencari ke sana sini, tempat yang ada pengungsiannya. Yang dia temui sepanjang perjalanan.


Dan perjuangan Jamal akhirnya membuahkan hasil. Karena pada saat hampir tengah malam, dia bisa menemukan jejak Indah dan juga Umi.


Pertemuan mereka penuh dengan keharuan. Apalagi pada saat itu, Umi sedang dalam keadaan kritis.


Akhirnya tak lama setelah Jamal bertemu dengan Umi, justru Umi meninggal dunia.


Umi sudah merasa cukup tenang, karena bisa bertemu dengan anaknya dalam keadaan sehat. Meskipun sebelumnya sempat sakit dan koma, bahkan ada tragedi bencana alam.

__ADS_1


Jamal yang baru saja bertemu dengan Umi, akhirnya tanya bisa menangis. Karena dia tidak bisa membendung air matanya untuk tidak keluar.


Indah masih ada di dalam pelukannya Jamal. Melihat bagaimana Umi yang saat ini sudah pergi meninggalkan mereka semua, untuk selama-lamanya.


Tak lama kemudian, para relawan melakukan apa-apa yang diperlukan untuk jenazah Umi.


Tapi karena keterbatasan transportasi dan juga sulitnya perjalanan untuk bisa di bawa ke desa G, akhirnya Umi dikebumikan di daerah sekitar. Yang memang sudah dijadikan sebagai kuburan para korban bencana alam.


Umi dimakamkan pada siang hari. Dan Jamal membawa Indah pulang ke pengungsian Lina bersama dengan anak-anak mereka pada sore harinya.


Di perjalanan pulang, Indah menceritakan tentang keadaan dirinya dan Umi, kenapa dia sampai tidak bisa pulang, untuk mencari anak-anaknya. Karena Umi sedang kritis dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


Indah juga meminta maaf pada suaminya itu, karena tidak bisa mencarinya, di bencana alam datang. Karena pada saat itu, Jamal juga masih dalam keadaan koma, dan berada di ruang ICU.


Dan bencana alam itu terjadi secara tiba-tiba.


"Tidak apa-apa Sayang. Justru Aku yang meminta maaf, karena sudah membuat kalian semua terpisah seperti saat ini."


Dengan menumpang di bak truk, keduanya menuju ke desa G. Dan pada jam setengah sebelas malam, mereka berdua baru tiba di desa G, yang sudah sepi. Sama seperti sebuah tempat pemakaman.


"Mereka mengungsi di sini. Dan Lina menjaga mereka semua selama ini."


Tapi Jamal tak menceritakan tentang keadaan Lina yang telah keguguran. Bahkan sudah kehilangan suaminya juga. Yaitu Hendra, yang ditemukan dalam keadaan tertimpa reruntuhan bangunan.


Dia juga tidak mintakan tentang kedua orang tuanya, pak Hadi dan ibu Anita, yang juga sudah tiada.


Jamal ingin membuat perasaan hati Indah lebih tenang terlebih dahulu, supaya bisa bertemu dengan anak-anaknya dalam suasana hati yang bahagia.


Biar nanti Lina saja yang menceritakannya kepada indah.


"Yang. Itu Lina!"


Jamal menunjuk pada seorang wanita, yang sedang me_nina bobokan dua anak perempuan yang tidur dengan gelisah.


"Mbak Lina," sapa Indah, setelah ada di dekat kakaknya yang duduk sambil menepuk-nepuk pantat dua balita perempuan.


"Indah," sapa Lina kaget.


Akhirnya mereka berdua berpelukan, dengan sama-sama saling menangis karena rasa haru dan rasa bahagia. Meskipun ada kesedihan juga, yang tampak pada keduanya. Karena sebenarnya, mereka menyimpan cerita yang sama sedihnya.

__ADS_1


__ADS_2