
Sore itu, ketika Tarno bersama dengan Ajeng tiba di lokasi wisata, kemudian melakukan foto-foto sesuai yang mereka inginkan, di tempat-tempat yang dijadikan sebagai spot foto. Terjadi ke keributan yang tidak diinginkan, karena ulah beberapa pengunjung, cowok-cowok, yang datang dengan maksud untuk menggoda Ajeng.
Hal ini membuat Tarno emosi, sehingga menghardik salah satu dari mereka.
"Pergilah! Kami tidak mengenal kalian, dan kami ke sini hanya ingin bersenang-senang. Jadi lebih baik kalian semua pergi, sebelum Aku melakukan sesuatu."
Tapi peringatan yang diberikan oleh Tarno, tidak diindahkan oleh mereka. Bahkan mereka dengan sengaja, lebih banyak melakukan pendekatan dengan Ajeng, sehingga Tarno segera mengajak Ajeng untuk pergi dari tempat itu, menuju ke tempat lain. Yang bisa digunakan untuk berfoto-foto juga.
"Sudah Kadek, ayo kita pergi dari sini. Lebih baik kita ke sebelah sana saja!" ajak Tarno, dengan menarik tangan Ajeng, upaya mengikutinya.
Ajakan Tarno yang tampak kasar ini, membuat Ajeng tidak suka.
Ajeng justru menarik tangannya dari genggaman Tarno dan berkata, "Kita ini hanya partner. Jadi tidak usah sok menguasai Aku!"
Mendengar perkataan Ajeng, membuat Tarno justru naik darah. Dia marah karena merasa disepelekan oleh Ajeng, dengan mengabaikan perasaannya selama ini.
"Kamu ini, janda gak tahu diri. Aku sudah banyak membantu dirimu, tapi Kamu malah tidak tahu di untung ya!"
"Apa maksudnya membawa-bawa status janda segala?" bentak Ajeng tidak terima, karena statusnya sebagai seorang janda, diungkit-ungkit oleh Tarno.
"Iya kan? Selama ini, Aku banyak membantumu. Bahkan pada saat Kamu ingin membalas dendam pada Jamal, Aku membantumu juga!" teriak Tarno, menyahuti pertanyaan dan bentakan Ajeng padanya.
Jadi selama ini, di mulai dengan perkenalan mereka di Bali. Yang akhirnya masing-masing tahu bahwa, mereka dari satu daerah. Bahkan bisa dikatakan dekat. Karena Tarno yang dari desa G, tentu saja tidak terlalu jauh dari rumahnya Ajeng, yang berada di depan pasar kecamatan.
Apalagi saat percakapan mereka lebih lanjut, yang akhirnya mereka saling mengetahui dua nama yang sama-sama mereka kenal. Yaitu Jamal dan Hendra.
Dari Tarno juga, akhirnya Ajeng tahu jika Hendra sudah tiada, karena menjadi salah satu korban dari bencana alam yang terjadi di daerah mereka.
Tarno juga memberitahu Ajeng jika, saat ini Jamal sudah kembali bangkit dan sukses. Dengan semua usaha yang dilakukannya dalam bidang pertanian. Termasuk Chanel Jamal Farm News, yang ternyata sudah diikuti oleh Ajeng juga.
Dari perbincangan mereka yang lebih lanjut lagi, Tarno akhirnya tahu juga, jika Ajeng ini dulunya punya hubungan erat dengan Hendra. Bahkan sebelum Ajeng mengenal Jamal, karena Ajeng dan Hendra merupakan sepasang kekasih, pada saat Hendra masih bekerja di kota.
__ADS_1
Akhirnya, keduanya yang mempunyai dendam dengan Jamal, melakukan kerjasama untuk bisa menipu Jamal.
Tarno dendam pada Jamal karena, dia sudah menaruh hati pada Lina, jauh sebelum Lina menjadi istrinya Hendra. Bahkan di saat Lina menjadi janda, Tarno punya niatan untuk menjadikan istri jandanya Hendra itu.
Sayangnya, Lina justru lebih memilih Jamal, meskipun hanya dijadikan sebagai istri kedua. Dan itupun berstatus sebagai istri siri.
Tarno sangat marah, atas penolakan Lina pada saat itu. Tapi dia hanya bisa memendamnya dalam hati. Dan mencari-cari kesempatan, untuk bisa membalaskan sakit hatinya itu pada Lina ataupun Jamal.
Sayangnya, Lina sudah tiada. Jadi, dia hanya bisa melampiaskan amarah dan dendamnya pada jamal saja.
Begitu juga dengan Ajeng, yang dulunya sudah menolak Jamal.
Dia, merasa sakit hati karena pada saat dia sudah mau dan menyetujui perjodohan mereka berdua, Jamal justru memilih Indah sebagai istrinya.
Dan di saat dia masih berharap sama Jamal, justru Hendra yang datang dan ingin melamarnya. Padahal, Hendra pada saat itu sudah tidak apa-apa. Jadi dia merasa dihina oleh Jamal. Karena Jamal yang mendukung Hendra, untuk bisa mendapatkan dirinya.
Itulah sebabnya, mereka berdua punya perjanjian. Untuk membuat rencana pembalasan dendam pada Jamal, supaya mereka bisa merasa puas jika Jamal hancur.
Jadi, Ajeng bertemu dengan Tarno dan Jamal di sebuah tempat, pada saat mereka mencari bibit durian, itu semua memang sudah direncanakan oleh Tarno bersama dengan Ajeng sendiri.
Dan foto-foto serta wawancara bersama dengan pemilik bibit durian, yang dilakukan oleh Ajeng, kemudian dikirimkan kepada Jamal, sebenarnya adalah di tempat itu juga. Di saat mereka bertemu. Bedanya hanya diambil dengan posisi dan lokasi sudut yang berbeda dengan jamal saja.
Itulah sebabnya, Jamal seakan-akan tahu tempat dan lokasinya. Begitu juga dengan dialog yang diucapkan, karena khas. Sehingga Jamal bisa tahu. Meskipun dia tempat meragukannya.
Dan akun itu sempat dihapus beberapa kali kemarin, setelah mereka berhasil melakukan penipuan. Kemudian baru aktif, saat mereka bertemu kembali kemarin. Di saat mereka dalam perjalanan menuju ke tempat lokasi pariwisata.
Karena itu juga, Dewi Riani juga baru mengetahuinya hari ini. Sehingga meminta pada Jamal untuk menyelidikinya sendiri.
Dari pertengkaran mereka berdua itulah, Tarno dan Ajeng tidak menyadari bahwa, saat ini sedang berada di atas tebing. Dan tebing itu yang belum di pondasi secara sempurna. Karena masih dalam tahap pembangunan.
Tanah yang dipijak Ajeng gembur, sehingga mengakibatkan kakinya Ajeng terpelosok.
__ADS_1
Dan Tarno yang ada di depannya, reflek menarik tangan Ajeng. Untuk bisa mempertahankan posisi mereka, supaya tidak terjatuh ke bawah sana.
Sayangnya, kaki Ajeng benar-benar sudah tidak bisa mempertahankan posisi mereka, karena labilnya tanah. Sehingga mereka berdua berakhir dengan masuk ke bawah tebing sana.
Itulah sebabnya, mereka berdua sama-sama dalam keadaan yang kritis. Dengan kondisi luka-luka yang cukup banyak dan parah.
Sayangnya, tadi siang Ajeng sempat tidak bisa mempertahankan kondisi jantungnya secara normal. Sehingga harus dilarikan ke ruang ICU, untuk perawatan penangganan secara intensif.
Tuan Wiro, yang tidak tahu apa-apa tentang kegiatan anaknya selama ini, hanya bisa menangis. Meratapi nasibnya yang semakin tua, dan tidak ada yang bisa menjadi penyemangat lagi.
"Bagaimana Aku ini nak Jamal. Sudah tidak ada lagi yang bisa Aku jadikan sebagai patokan untuk bisa bertahan hidup. Istriku sudah tidak ada, anakku yang kedua juga sudah tidak ada lagi. Dan sekarang, Ajeng juga ada l di antara hidup dan mati. Bagaimana caranya ini, Aku membiayainya perawatannya di ruangan ICU? ini pasti sangat mahal." Tuan Wiro, mengeluhkan kondisi dan nasibnya pada Jamal.
"Tuan Wiro, yang sabar ya! Semua sudah nasibnya Ajeng. Mau bagaimana lagi, yang penting sekarang tuan Wiro tetap berusaha dan berdoa. Supaya ajeng bisa melewati masa-masa kritisnya."
Jamal mencoba untuk menghibur Tuan Wiro, supaya tidak putus asa menghadapi cobaan yang sedang dihadapi saat ini.
"Nak Jamal. Untuk perawatan Ajeng selama di rawat di rumah sakit ini, bagaimana kalau nak Jamal beli Rumahnya Bapak. Nanti Bapak bisa tinggal sekalian di toko, atau nak Jamal mau beli yang tokohnya saja?"
Tuan Wiro justru memberikan penawaran kepada Jamal, supaya membeli salah satu dari rumah atau tokohnya. Yang akan digunakan untuk membiayai perawatan anaknya, Ajeng.
Hal ini membuat Jamal merasa pada posisi yang sama sulitnya. Karena jika dia menolak, dia akan dinilai sombong, dan tidak mau tahu, serta tidak peduli, keadaan mereka yang sedang kesusahan.
Tapi jika Jamal mau menerima tawaran tersebut, nanti akan dikira aji mumpung. Karena dia sudah membeli sesuatu, pada saat orang itu sedang terkena musibah.
Jamal menjadi dilema, sehingga dia belum bisa memberikan jawaban yang pasti pada tuan Wiro.
"Bapak sih tidak memaksa juga anak Jamal. Tapi jika bisa kan nak Jamal sendiri yang beli. Jika nak Jamal tidak mau, atau sedang tidak memiliki uang, Bapak terpaksa akan menjualnya pada orang lain."
Sepertinya tuan Wiro sudah tidak memiliki harapan apapun, karena dia memang sudah tidak memiliki tabungan apa-apa lagi, sama seperti pada waktu masih ada istrinya, sebelum bencana itu datang.
"Emhhh... Jamal akan usahakan Tuan. Tapi, tapi Jamal harap, Tuan Wiro jangan patah semangat ya!"
__ADS_1
Jamal, yang merasa kasihan pada tuan Wiro, akhirnya memberikan harapan. Meskipun dia juga tidak tahu, apakah bisa menyediakan uang untuk perawatan Ajeng atau tidak.