Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Drama Yang Diciptakan


__ADS_3

Semua tamu undangan dibuat takjub dengan pesona Jamal yang tidak biasa.


Apalagi selesai mengucapkan ijab kabul, yang dibaca dengan lancar tanpa adanya kendala sama sekali. Di tambah lagi dengan mahar yang terbilang cukup fantastis dari biasanya.


Lina yang ada di kursi pelaminan, sampai melotot tak berkedip sedari tadi. Karena tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, saat mendengar jumlah mahar yang disebutkan oleh Jamal.


'Huh! Tau gitu Aku minta persyaratan yang lebih besar lagi dari pada yang disebut tadi. Biar mas Jamal batalin saja pernikahan mereka. Agrhhh... rencana yang Aku buat gagal ini, hiks...'


Lina kesal dengan sikap Jamal yang terkesan merendahkan dirinya. Apalagi saat ini, kedua sedang foto dengan memperlihatkan buku nikah masing-masing.


Brukkk!


Tiba-tiba Lina terjatuh di panggung pelaminan. Padahal, sepasang pengantin yang sebenarnya masih ada di antara wali dan saksi. Sedang sesi foto-foto di teras depan rumah, di mana tadi dilangsungkan acara ijab kabul.


"Eh, Lina pingsan!"


"Lho... lho! ayo bantu angkat!"


"Kenapa dia?"


"Pengen jadi pengantin beneran paling."


Banyak orang yang akhirnya kasak kusuk membicarakan tentang Lina, yang di anggap bersandiwara dengan kelakuannya kali ini.


Apalagi, sebagian dari mereka juga tahu. Bagaimana cara Lina mengajukan persyaratan atas permintaan ijin Indah agar bisa menikah lebih dahulu sebelum kakaknya.


Pak Hadi dan bu Anita, sebenarnya juga malu karena sikap anaknya yang besar itu. Tapi karena adat di daerah mereka juga, yang membuat mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Termasuk keinginan Lina untuk bisa dirias layaknya seorang pengantin wanita.


Apalagi, Lina juga ingin duduk di pelaminan terlebih dahulu sebelum adiknya, Indah. Sebagai seorang pengantin wanita yang sebenarnya saat ini.


Karena semua yang orang sibuk dengan keadaan Lina, pihak Jamal akhirnya minta ijin untuk membawa pengantin wanita ke rumah Jamal. Untuk persiapan resepsi yang akan dilaksanakan nanti sore di rumahnya Jamal.


Untungnya, pak Hafi dan juga ibu Anita tidak keberatan dengan permintaan tersebut.


Mereka berdua cukup bijak dalam keadaan seperti ini. Karena kekacauan di rumahnya ini, tidak mungkin juga mereka bisa menjamu tamu-tamu yang datang dengan baik.


Dan yang paling penting adalah, Jamal sudah sah menjadi suami dari anaknya, Indah Dewi. Sehingga Indah sudah menjadi tangung jawabnya Jamal mulai dari sekarang.


Saat berpamitan, pak Hafi dan juga ibu Anita tidak bisa menahan air matanya, karena harus melepaskan anaknya itu dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


"Maaf ya Sayang. Kami tidak bisa mengantarmu ke rumah suamimu. Mbak ini..."


"Gak apa-apa Bu. Restu Ibu yang paling penting," ujar Indah dengan tersenyum senang, meskipun sebenarnya di dalam hatinya juga ada rasa sedih.


Di hari bahagianya ini, kedua orang tuanya justru was-was dengan keadaan kakaknya. Sehingga Indah juga menjadi serba salah.


Tapi di sampingnya ada Jamal, yang sedari tadi mengengam tangan kirinya. Jamal tidak mau Indah larut dalam suasana sedih dan khawatir. Karena Jamal sudah meminta seseorang untuk memangil dokter, supaya memeriksa keadaan Lina.


Akhirnya tamu yang datang bersama dengan rombongan Jamal pulang. Begitu juga dengan sepasang pengantin baru dan Umi.


Mereka semua pulang, tepat di saat dokter datang untuk memeriksa keadaan Lina.


"Ada-ada saja ulah Lina. Apa sih maunya!" gerutu Umi di dalam mobil, yang dibelakangnya ada Jamal bersama dengan Indah juga.


"Ami, sudahlah. Mungkin dia tadi belum sarapan. Jadi lemes dan pingsan kayak gitu."


Jamal berusaha untuk mencari alasan, agar Ami nya tidak lagi marah-marah. Apalagi, Jamal juga tahu, jika Ami nya itu tidak menyukai Lina.


Tapi dia harus bisa menjaga perasaan Indah, yang merupakan adiknya Lina. Bagaimanapun juga, Lina adalah kakaknya Indah. Jadi, mau tidak mau, Jamal harus bisa menjaga perasaan istrinya ini.


"Maaf Ami, mas Jamal. Atas semua kelakuan mbak Lina. Mungkin... dia masih tidak rela, jika mas Jamal justru memilih Indah sebagai isteri dan bukan mbak Lina."


"Ami, sudah-sudah."


Jamal mengusap-usap pundak istrinya, yang duduk bersanding dengannya di kursi belakang.


Mereka pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak, agar waktu resepsi pernikahan nanti, mereka bisa melakukan semua acara dengan baik dan lancar.


Orang- orang yang tadi ikut ke rumah Indah, semuanya pulang ke rumah Jamal.


Di rumahnya Jamal ini, mereka dijamu layaknya tamu yang datang ke sebuah acara pernikahan. Meskipun seharusnya ada di rumahnya pak Hadi.


Tapi karena insiden tadi, akhirnya Umi meminta mereka ke rumahnya saja. Tapi sudah meminta ijin pada ke dua besannya.


Umi tidak mungkin membiarkan orang-orang lapar, atau tidak terurus. Karena tuan rumah sedang panik karena anaknya pingsan di atas panggung pelaminan, yang seharusnya bukan untuk dirinya. Tapi untuk adiknya.


Jadi, Indah dan Jamal belum sempat duduk di pelaminan yang ada di rumah Indah. Sebab kejadian tadi, membuatnya menjadi cepat-cepat pulang ke rumah ini.


*****

__ADS_1


Di rumah pak Hadi.


Lina sudah sadar dari pingsannya. Dia mencari-cari baju pengantin yang tadi dia kenakan. Karena saat ini, dia sudah mengenakan pakaian biasa.


"Bu! Ibu!"


Lina berteriak memanggil ibunya, sebab dia sendirian ada di dalam kamar.


Clek!


"Alhamdulillah... Kamu sudah sadar Lin. Apa yang Kamu rasakan? Ada apa Lin? Kamu butuh sesuatu?" tanya ibu Anita bertubi-tubi, yang datang dengan tergopoh-gopoh karena panggilan anaknya.


"Baju pengantinku mana Bu?" tanya Lina masih dengan pandangan yang mencari-cari ke segala arah.


"Ada apa Bu?"


Tiba-tiba pak Hadi datang. Dia masuk ke dalam kamar anaknya, karena mendengar suara istrinya yang terdengar seperti panik.


Pada saat melihat Lina yang sudah sadar, dia pun mengucapkan syukur. Karena anaknya itu diberikan kesadaran.


"Pak, Bapak! Baju Lina tadi mana?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Lina, membuat pak Hadi kembali marah.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Lina, yang sebenarnya masih terlihat pucat.


"Bapak!" jerit Bu Anita, melihat suaminya menampar anaknya yang baru saja sadar.


"Manjakan terus Bu dia! Ibu tidak sadar, jika kelakuan itu sudah membuat malu kita pada besan dan menantu! Bahkan pada semua orang yang datang ke sini tadi."


Perkataan pak Hadi meninggi, sebab dia sudah kesal dengan sikap anaknya itu.


Dia sebenarnya sudah tidak mengijinkan Lina untuk membuat persyaratan demi persyaratan yang harus dilakukan Indah ataupun Jamal.


Pak Hadi malu dengan apa yang diminta oleh Lina sebagai persyaratan yang harus dilakukan oleh kedua calon mempelai. Karena pak Hadi sadar, jika Lina melakukan semua itu karena ada sesuatu yang diinginkan.


Tapi karena Bu Anita mengingatkan kembali, jika persyaratan itu adalah adat, pak Hadi akhirnya hanya bisa diam dan mengikuti kemauan anaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2