Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Berbeda


__ADS_3

Jadi mas Hendra beneran mau lamar Ajeng? terus nikahnya kapan?" tanya Lina ingin tahu.


"Emhhh... kalau gak bulan depan ya... dua minggu lagi Pokoknya nunggu Jamal udah pulang dari honey moon." Hendra menjawab pertanyaan Lina, yang sedang penasaran dengan rencananya bersama Ajeng.


"Cepet sekali Mas? memangnya itu sudah dipastikan?" tanya Lina lagi, dengan perubahan wajah yang sulit untuk ditebak.


"Iya. Aku sudah bicarakan ini dengan Jamal. Aku juga sudah bicara ini sangat Tuan Wiro kemarin, waktu resepsi pernikahannya Jamal sama adikmu itu kan!"


Akhirnya lina jadi menunduk sedih, kemudian dia pamit pulang. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Yang pada akhirnya tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa memperhatikan dirinya.


"Mas. Aku gak jadi ke rumahnya mas Hendra. Aku pulang saja ya!" pamit Lina dengan menghidupkan mesin motornya.


"Ya Lin, hati-hati ya!" jawab Hendra mempersilahkan lina untuk pulang.


Sebenarnya, lina berharap Hendra akan mencegahnya. Tapi ternyata tidak. Dan Hendra justru mempersilahkannya untuk pulang.


"Begini banget sih nasibku. Maunya cari cowok yang kaya, tampan. Tapi ini... ah nyesel dulu Aku menolak mas Jamal. Malah sekarang Aku tidak dapat apa-apa." gumam Lina, menyesali semua perbuatannya yang dulu-dulu.


"Aku berpikir bahwa, apa yang dikatakan oleh mas Hendra ada benarnya juga. Tapi sampai kapan Aku akan mendapatkan jodoh yang terbaik? Hhh..." Lina kembali bimbang dengan membuang nafas panjang.


Hendra sudah sampai di rumah. Dia langsung membawa semua barang yang sudah dia persiapkan sebelumnya, untuk dibawa ke rumah Jamal terlebih dahulu.


Tak lama kemudian, Hendra sudah pergi lagi dari rumahnya. Dan pergi ke rumahnya Jamal. Umi juga sudah mengunggu dirinya di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Ami. Ini semua barang-barang yang mau Hendra bawa ke rumahnya Tuan Wiro, untuk melamar Ajeng. Bagaimana Ami, apakah ada yang kurang?" tangan Hendra memberitahu Umi, dengan memperlihatkan barang-barang yang dia bahwa ada di rumahnya.


Umi melihat semua barang yang sudah di persiapkan Hendra.


"Ini udah cukup Hen. Namanya juga kan lamaran kecil-kecilan. Soalnya nanti sekalian pas nikah bawa seserahan yang banyak. Tapi, Ami sudah pesankan beberapa jenis kue kok. Itu buah jeruk juga sudah siap di bawa juga"


Umi mengatakan, jika dia akan menambah barang bawaan, yang akan mereka bawa nanti malam.


"Kita cuma berdua saja?" tanya Umi, karena Hendra tidak mengatakan bahwa akan mengajak salah satu saudaranya.


"Ada paman Ami. Tapi nanti ketemu di depan pasar saja, biar Paman gak repot."


Umi menganggukkan kepalanya paham, karena kang Kasan juga tidak mungkin bisa diajak untuk pergi melamar Ajeng.


Hendra tidak ingin membuat pesta lamaran yang besar, cukup sederhana saja. Mengingat bahwa keadaannya yang sekarang ini sudah jauh berbeda dengan yang dulu.

__ADS_1


*****


Di rumah Tuan Wiro.


Ajeng sedang mencari cara, supaya acara malam nanti gagal. Yaitu lamaran yang diajukan oleh Hendra untuknya.


Dia ingin mencari cara, agar bisa menghindar dari lamaran ini.


"Aku gak mau sama mas Hendra. Jadi lebih baik Aku pergi sajalah, sebelum dia datang. Dulu Aku sudah menolak Jamal, yang ternyata sangat kaya raya. Masa iya sekarang aku mau sama mas Hendra, secara dia malah justru kuli nya mas Jamal."


Akhirnya ajang mencari cara, agar bisa keluar dari rumah. Dia mencari-cari alasan, untuk membeli kosmetiknya yang habis.


"Pah. Ajeng mau ke minimarket sebentar ya," pamit Ajeng pada Tuan Wiro.


"Udah sore ini Ajeng. Kamu bersiaplah! nanti malam Hendra ke sini melamar Kamu. Dan itu lho, mama Kamu dibantuin sana!"


Tuan Wiro meminta pada anaknya, supaya membantu istrinya yang sedang berada di dapur bersama pembantunya. Untuk persiapan lamaran anaknya nanti malam.


"Ihsss Papa! Bedak sama lulurnya Ajeng habis Pah. makanya harus belilah. Nanti malam bisa gak maksimal penampilannya Ajeng dong!" Ajeng cemberut mendengar perintah papanya.


"Oh gitu. Ya sudah, Kamu beli sana!" Tuan Wiro akhirnya memberikan ijinnya.


Ajeng bersorak dan hati, karena akhirnya punya kesempatan untuk bisa keluar dari dalam rumahnya ini.


Padahal uang itu akan dia gunakan untuk tambahan biara dan ongkos kabur. Sebab dia sendiri masih punya tabungan yang cukup banyak.


"Pah, bagi uangnya Pah!" Ajeng meminta uang pada papanya.


Tuan Wiro juga tidak curiga, dan langsung memberikan beberapa lembar uang yang di minta anaknya.


"Terima kasih Pah!" ucap Ajeng dengan tersenyum senang. Karena pada akhirnya rencananya kabur akan berhasil.


Ajeng masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, kemudian keluar lagi dengan mengendap-endap. Dia melihat keadaan dan situasi rumahnya. Agar tidak ketahuan.


Di saat melihat papanya yang baru saja beranjak dari tempat duduknya, dengan sangat berhati-hati , Ajeng mau keluar dari rumahnya sehingga tidak ada yang mengetahui kepergiannya.


Dan baru di jam setengah tujuh malam, Tuan Wiro mencari keberadaan anaknya. Yang ternyata sudah tidak ada di dalam kamarnya.


Kamar itu kosong, bahkan beberapa lembar baju tampak berserakan di tempat tidur. Sehingga membuat Tuan Wiro di lsbda kepanikan.

__ADS_1


Dia memanggil-manggil istrinya, bertanya tentang keberadaan Ajeng di rumah ini.


"Mah. Mamah tau di mana Ajeng?" tanya Tuan Wiro pada istrinya, yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Dari tadi di kamar Pah. Ajeng tidak pergi ke mana-mana kok!"


Nyonya Yenny bingung dengan pertanyaan suaminya, yang mencari keberadaan anaknya.


"Gak ada Mah! Papah sudah cari ke kamarnya, gak ada. Ayo Mama lihat sendiri!" ajak Tuan Wiro, agar istrinya itu percaya dengan apa yang dia katakan.


Nyonya Yenny akhirnya ikut panik, karena suaminya itu sedang dalam keadaan tidak bercanda.


Begitu tiba di kamarnya Ajeng.


"Pah! Ajeng ke mana?"


Nyonya Yenny tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan hanya bisa menatap keadaan kamar anaknya yang jelas-jelas sedang kosong dengan kondisi berantakan.


"Coba Mama cari di bawah. Cari ke atas juga!" perintah Tuan Wiro bingung.


Dia takut seandainya anaknya buat ulah lagi, sama seperti dulu waktu di lamar Jamal.


"Ajeng itu anak cewek, tapi kok susah banget diaturnya. Bagaimana caranya ya, supaya dia bisa nurut?" Tuan Wiro geram dengan tingkah anak gadisnya.


*****


Di Bali.


Jamal dan Indah belum punya rencana untuk pergi kemana-mana.


Mereka berdua memang hanya menghabiskan waktu di dalam kamar sejak datang tadi siang. Karena selain badan mereka yang capek, mereka juga bisa melakukan apa saja tanpa gangguan dari luar.


Tapi malam ini mereka berencana untuk makan malam di restoran atau di cafe yang ada di luar sana. Agar tidak karena bosan juga maka hanya di dalam kamar.


"Mau makan di restoran hotel ini juga, atau mau keluar sekalian Yang?" tanya jamal memberikan kebebasan kepada istrinya untuk memilih.


"Kalau makan di luar gimana Mas? sekalian kita cari udara di luar." Indah mengatakan usulnya.


"Tapi gak usah yang jauh-jauh juga," imbuh Indah, sebelum Jamal menyetujui usulannya yang tadi.

__ADS_1


"Oke deh Sayang. Aku sih nurut aja," sahut Jamal dengan mencubit pucuk hidung istrinya dengan gemas.


Akhirnya, mereka berdua bersiap-siap untuk mencari makan di luar hotel, sekalian menikmati indahnya malam di Bali.


__ADS_2