
"Bos, jangan ke tengah-tengah lahan. Itu saja yang sana, ada banyak ulatnya!"
Teriakan Dewi Riani yang ikut bersama dengan Jamal ke lahan kentang, membuat jamal kaget sendiri. Karena kali ini, suara yang keluar dari pita suara Dewi Riani adalah suara laki-laki. Bukan lagi suara perempuan, seperti biasanya jika pagi hari.
"Bos, jangan bengong saja! ini kameranya on!"
Sekali lagi, Dewi Riani berteriak memperingatkan Jamal. Bos yang sedang dia kawal malam ini.
Mendengar teriakan dan peringatan dari Dewi Riani, Jamal segera melakukan apa yang tadi diperintahkan karyawan itu.
Dia melangkah lebih ke samping, untuk menemukan ulat-ulat penggerak. Yang menjadi target sasaran mereka malam ini.
Tapi ternyata, Dewi Riani tidak sabar melihat cara kerja Jamal yang menurutnya lelet. Sehingga membuatnya turun langsung, memberikan contoh dan menyerahkan kamera yang sedang dia pegang pada Jamal.
"Nih Bos pegang! Aku akan beri contoh yang tepat dan tepat."
Jamal yang masih tidak percaya dan kaget dengan suara Dewi Riani, hanya bisa menuruti permintaan dari Dewi Riani juga.
Dia mengambil kamera yang diserahkan padanya, dan mengarahkan pada Dewi Riani yang ada di depan sana. Dan sedang memberikan contoh yang benar padannya.
Jamal, memperhatikan bagaimana Dewi Riani yang sedang menangkap ulat-ulat penggerak dengan gerakan cepat, dari layar kamera yang dia pegang. Bukan melihat Dewi Riani secara langsung, sama seperti biasanya.
Dan apa yang saat ini di lihat Jamal, membuatnya sangat terkejut.
Apalagi di saat dia mengalihkan perhatian penglihatan matanya, dari kamera ke sosok Dewi Rian secara langsung. Begitu seterusnya, dia tetap tidak mempercayai apa yang dia lihat.
Sebab, di layar kamera yang menangkap gambar Dewi Riani, dengan yang aslinya tanpa melihat layar kamera. Perbedaannya sangatlah mencolok, sehingga Jamal masih tidak mempercayai penglihatannya sendiri.
Jika dilihat dari layar kamera, Dewi Riani merupakan sosok laki-laki yang gagah perkasa. Dengan gerakan-gerakan yang sangat gesit, bahkan Jamal sendiri bingung saat matanya mengikuti pergerakan Dewi Rian ini.
Tapi jika melihatnya secara nyata, sosok Dewi Rian, sama seperti biasanya yaitu seorang wanita, meskipun penampilannya tomboi, tapi tetap ada sisi wanitanya yang cantik dan enak dipandang mata.
Hal ini membuat Jamal menjadi takut, dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Bos, woiii! sini!"
Dewi Riani kembali berteriak memanggil Jamal. Agar mendekat ke tempatnya berada.
Jamal menurut. Dia berjalan dengan masih memegangi kamera ke arah Dewi Riani, yang sedang memberikan contoh. Bagaimana cara menangkap ulat-ulat penggerak dengan lebih cepat dan mudah.
Melihat pergerakan Dewi Riani, Jamal justru merasa pusing. dia mencoba mengerjapkan matanya berkali-kali. Tapi kepalanya masih tetap saja terasa pusing.
__ADS_1
Lama kelamaan, Jamal kehilangan keseimbangan sehingga dia pingsan.
"Bos, woiii Bos!"
"Arghhh... malah pingsan! Masa baru segitu aja pingsan!"
Dewi Riani menggerutu sendiri, melihat keadaan bos-nya yang sudah terbujur kaku di atas tanah.
Akhirnya, Dewi Riani melanjutkan pekerjaannya sendiri tanpa Jamal.
Dia juga melakukan siaran langsung, tapi dengan menggunakan wajahnya Jamal. Jadi, dia mengubah penampilan wajahnya dengan wajah Jamal. Sama seperti tadi, disaat Jamal yang melihatnya melalui kamera. Dan Jamal lihatnya dengan sosok yang lain.
Akhirnya, semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Jamal, sudah selesai dilakukan oleh Dewi Riani seorang diri.
Hati masih malam. Mungkin saat ini baru jam 12.30 pagi, sehingga Dewi Riani beristirahat sebentar, sambil menunggu Jamal yang masih dalam keadaan pingsan.
"Bos. Bangun lah! Ini sudah pagi Bos," Kedah Dewi Riani seorang diri, yang akhirnya menguap juga karena mengantuk.
Dia masih berusaha untuk membuka matanya, supaya tidak sampai tertidur.
Dewi Riani hanya ingin menjaga Jamal, karena tidak ingin memaksanya bangun, ataupun mencari bantuan, untuk membawa Jamal pulang ke rumah.
Tapi karena keadaan malam yang semakin larut, dan dia juga lelah, akhirnya Dewi Riani merasakan kantuk. Tak lama kemudian, dia pun ikut tertidur di samping Jamal, dengan kamera yang sudah dimatikan.
Dan ladang kentang berwarna saat ini, sudah bersih dari hama ulat-ulat penggerak. Sehingga siap untuk dipanen besok siang.
*****
Antara Tarno dan Kadek Ajeng.
Tadi sepulang dari kantornya, Tarno tempat bertemu dengan Kadek Ajeng. Karena mereka berdua memang sudah membuat janji temu.
"Jadi, Kamu dulunya suami itu orang Australia?" tanya Tarno, yang ingin mengetahui masa lalu Kadek Ajeng lebih banyak lagi.
Dia ingin, seandainya dia benar-benar merasa cocok dan ingin melanjutkan hubungannya dengan Kadek Ajeng, dia sudah mengetahui segala hal tentang calonnya itu.
Tarno tidak mau jika mengetahuinya dari orang lain, sehingga dia bertanya langsung kepada wanita yang sedang dia dekati ini.
"Iya Mas. Suamiku warga negara Australia. Tapi, dia tidak mau tinggal di Indonesia, karena kontrak kerjanya juga sudah habis. Sedangkan jika mengajak Aku ke sana, keluarganya tidak setuju jika dia mendapatkan orang indonesia. Dia bukan orang bebas juga, sebut sebenarnya di australia dia sudah memiliki tunangan."
Akhirnya, Kadek Ajeng tidak mau menutup menutupi kisah hidupnya saat bersama dengan sang suami.
__ADS_1
Jadi bisa dikatakan bahwa, hubungan suami istri antara kadek Ajeng dan mantan suaminya, hanyalah sebatas kawin kontrak.
"Tapi, perkawinan mu dengan mantan suamimu itu, sah secara agama dan negara di sini. Jadi, apa tidak ada usaha untuk Kamu mempertahankan dia?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Tarno, sebenernya sudah terlalu dalam.
Tapi Tarno yang orangnya sangat teliti, hanya menginginkan kejelasan dari wanita yang ingin dijadikan istrinya nanti.
"Sebenarnya Aku juga ingin mempertahankan mantan suamiku itu. Tapi dari dia sendiri tidak ada usaha. Jadi, percuma juga jika aku harus berjuang seorang diri Mas. Dan papa, jika tidak suka, jika Aku harus memohon-mohon kepada orang yang tidak ingin memperjuangkan diriku."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Kadek Ajeng kaki ini, membuat pernah merasa bersalah.
"Maaf Kadek. Aku pikir, Kamu justru merasa senang karena lepas dari mantan suamimu. Sehingga Kamu nantinya bisa mencari laki-laki lainnya lagi."
Ajeng tersenyum canggung, karena dia merasa bahwa Tarno sedang menyindirnya. Karena hal semacam itu, terjadi pada masa lalu. Di saat dia ada di antara Jamal dan juga Hendra.
Masa lalu yang disuruh membuatnya terdampar di pulau dewata, tanpa teman dan arah tujuan.
Kisah pilu itu, sebenarnya ingin disimpan sendiri oleh Ajeng, agar dia bisa melihat masa depannya sendiri dengan optimis.
Dia tidak pernah berharap pada siapapun lagi, karena dia sadar bahwa, masa lalunya tidak bisa dikatakan baik. Banyak sekali kejadian dan kelakuannya yang tidak patut untuk diceritakan. Sama seperti di saat dia menolak Jamal, dan juga melarikan diri, di saat acara lamarannya dengan Hendra.
Masa lalu yang membuatnya harus menderita di pulau dewata, dan itu disadari Ajeng sebagai karma baginya.
Tapi disaat dia menemukan Jamal pada sebuah chanel khusus miliknya Jamal sendiri, akhirnya dia bersemangat lagi, pada saat diminta pulang oleh papanya.
Selain memang tidak ingin mengakhiri segala penderitanya di pulau dewata, Ajeng juga punya misi khusus. Untuk seorang Jamal, yang pernah ditolak lamarannya. Dan juga pernah dia kejar-kejar, di saat dia tahu bahwa, Jamal bukan hanya seorang petani biasa.
Tapi semua itu harus dengan strategi, dan modal yang juga tidak sedikit.
Dan malam ini, setelah tadi bertemu dengan Ajeng, Tarno jadi melamun seorang diri, dan tidak bisa tidur dengan cepat.
Tarno masih merasa penasaran, sehingga dia ingin bertanya dengan janda muda tersebut. Meskipun sebenarnya, tadi dia sudah bertemu lumayan lama dengan Kadek Ajeng.
Tapi karena waktunya juga sudah malam, dia mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan kepada janda tersebut.
"Besok saja Aku menatapnya bertemu lagi."
"Semoga saja, Aku bisa mencari tahu. Apakah dia masih ingin mengejar Jamal atau tidak."
"Jika dia masih punya ambisi dan keinginan untuk mengejar Jamal, lebih baik Aku tidak melanjutkan niatku ini. Tapi jika dia sudah tidak punya maksud untuk mendekati Jamal lagi, okelah jika Aku lanjutkan niatku ini."
__ADS_1
Akhirnya, setelah membuat keputusan untuk dirinya sendiri, Tarno bisa memejamkan matanya, dengan tertidur pulas.