
Seminggu sudah Jamal ada di planet XMoon, yang memiliki kehidupan serba mengunakan sistem. Untuk semua jenis kebutuhan hidup.
Jamal sebenarnya merasa bosan juga, sebab semuanya digerakkan oleh sistem yang teratur. Sesuai dengan operator yang menjalankannya secara otomatis.
Tapi Jamal tidak pernah bertemu dengan sang operator sistem, yang ada di planet XMoon ini.
Di saat dia bertanya pada Sonya. Wanita tersebut juga tidak tahu, siapa sebenarnya operator sistem yang sudah mengatur semua tatanan kehidupan di sini.
"Memang Kamu di sini sudah berapa lama?" tanya Jamal, di saat ada kesempatan untuk berbincang dengan Sonya.
"Aku sudah sebulan ada di sini," terang Sonya memberitahu.
"Apakah Kamu tahu, bagaimana caranya agar bisa pulang lagi ke bumi?" tanya Jamal lagi, karena dia merasa kehidupan yang dia jalani ini tidak dia inginkan.
"Aku tidak tahu."
Mendengar jawaban yang diberikan Sonya, Jamal hanya bisa menunduk sedih. Dia teringat dengan istri dan juga anak-anaknya.
"Bagaimana nasib mereka tanpa Aku?" tanya Jamal tanpa sadar.
"Siapa?" tanya Sonya, dengan memiringkan kepalanya. Karena mendengar pertanyaan dari Jamal, yang tidak jelas di telinganya.
Tapi Jamal mengeleng cepat. Dia tidak mau jika ada orang yang tahu, apa yang sedang dia pikirkan. Karena jamal merasa bahwa, dia harus sedikit menahan diri, agar tidak selalu terbuka kepada orang lain yang tidak dikenal.
"Ya sudah. Ayo kita ikut belajar ke lapangan. Di sana, kita akan mendapatkan ilmu pertanian yang bisa menjadi bekal pengetahuan, seandainya kita kembali ke bumi nantinya.
Jamal menurut. Dia mengikuti langkah Sonya, yang berjalan menuju lapangan. Yang ada tak jauh dari rumah mereka.
Dan di sinilah akhirnya mereka berdua. Bergabung dengan yang lain mendengarkan suara seseorang yang terdengar dari headset yang terpasang dengan system. Bersama dengan layar yang menunjukkan berbagai cara yang digunakan dalam pengolahan tanah, menanam bibit dan perawatan serta pengobatan yang baik.
Di layar tersebut, ada juga gambar-gambar untuk alat pertanian yang serba modern.
Dan ini adalah impian terbesar Jamal. Agar bisa mewujudkan impian kedepannya nanti. Di saat dia bisa pulang kembali ke Bumi.
Tapi di saat Jamal melepaskan headset yang terpasang pada telinganya, dia secara tidak sengaja mendengar perkataan seseorang, yang ada di belakangnya.
"Ikuti cahaya matahari yang ada di sini, jika ingin kembali ke kehidupan yang sebelumnya. Karena sinar matahari adalah sumber kehidupan, kekuatan, dan segala hal yang dibutuhkan oleh makhluk hidup."
Mendengar perkataan orang tersebut, Jamal seakan-akan mengerti. Apa yang seharusnya dia lakukan. Meskipun di planet XMoon ini semua serba mudah, gampang, tapi dia ingin kehidupannya yang dulu.
__ADS_1
Akhirnya Jamal berdiri dari tempat duduknya. Berjalan mengikuti arah sinar matahari yang menyilaukan mata.
Dengan terus menengadah ke atas, Jamal mulai memejamkan matanya. Meskipun dia tidak tahu, ke mana arah yang akan dia tuju. Tapi keyakinan hatinya, tekadnya, maka sinar matahari tersebut menuntunnya pada sebuah ruang dimensi lain. Yang bisa membawanya kembali pada kehidupannya yang dulu.
Kehidupan yang sebenarnya, di bumi.
*****
Tiiiitttt....
Grafik pada monitor yang menampilkan detak jantung dan nadi Jamal tidak lagi naik turun.
Garis lurus yang menandakan kehidupan Jamal telah berakhir, membuat dokter mengelengkan kepalanya. Apalagi setelah alat pacu jantung juga sudah diusahakan beberapa kali.
Sayangnya, jantung Jamal sudah tidak bisa ikut terpacu, sesuai dengan harapan tim medis yang menangganinya.
"Kita coba sekali lagi dengan pacu jantung. Jika tidak bisa, berarti sudah tiba saatnya semua alat dilepas."
Catatan medis Jamal yang telah koma selama tiga bulan, membuat sebagian dari dokter pesimis dengan keadaan Jamal. Mereka berpikir bahwa, Jamal tidak bisa melanjutkan kehidupannya lagi.
Tapi ada juga kebagian lainnya, yang optimis, karena awalnya, Jamal hanya seperti orang yang pingsan saja.
Jadi, di saat kondisinya kini tiba-tiba memburuk. Tentu saja dokter yang tadinya pesimis hanya bisa menyerah.
Berbeda dengan dokter yang optimis, yang berharap agar pasien langka ini bisa kembali sadar, serta membaik. Kemudian bisa menjalani kehidupannya dengan baik, sama seperti sebelumnya.
Tapi semua orang dibuat cemas. Karena setelah alat pacu jantung itu mulai difungsikan, jantung Jamal masih tidak berfungsi dengan baik lagi.
Sreg sreg!
Jedugh!
Sreg sreg!
Jedugh!
Tiiiitttt...
Layar monitor masih tidak bergerak, dengan menampilkan grafiknya.
__ADS_1
Di luar ruangan tersebut, ada Indah dan Ami yang saling berpelukan dengan tangis mereka yang pilu.
Sedangkan di pojokan ruangan, ada Lina yang bersama dengan suaminya, Hendra. Dan ada Pak Hadi serta Bu Anita juga.
Mereka juga sama sedihnya. Melihat bagaimana keadaan Jamal yang semakin menurun. Tidak ada tanda-tanda akan sembuh dan kembali berada di tengah-tengah mereka.
Kembali ke dalam ruangan.
Dokter sudah mengelengkan kepalanya semua. Tidak ada lagi yang perlu mereka lakukan, untuk membuat Jamal melewati masa kritisnya ini.
"Sebaiknya kita lepas saja semua alat ini. Karena sebenarnya dia memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi."
"Ini termasuk kasus yang langka. Jarang ada pasien yang terlihat sehat, tapi nyatanya bisa koma. Sedangkan waktu tiga bulan tidak ada tanda-tanda penurunan. Dan baru beberapa jam yang lalu, semuanya tidak bisa diselamatkan lagi."
Setelah diputuskan, akhirnya salah satu dari mereka keluar ruangan, untuk memberitahu keluarga pasien, jika alat bantu medis akan dilepaskan semuanya.
"Keluarga Tuan Jamal!"
"Sa... saya Dok? Bagaimana suami Saya?" tanya Indah cepat, dengan melepaskan pelukannya pada Umi.
Yang lain ikut mendekat, di mana dokter tersebut berdiri tak jauh dari depan pintu.
Umi sendiri sudah tidak sabar, ingin mendengar berita tentang keadaan anaknya, Jamal.
"Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, maaf. Kami tidak bisa," terang Dokter, dengan menundukkan kepalanya.
Tangis Indah pecah. Begitu juga dengan Umi dan yang lainnya.
Mereka semua merasa kehilangan Jamal untuk selamanya. Padahal selama tiga bulan ini, kehidupan mereka juga sudah berjalan tanpa ada Jamal di antara mereka.
Tapi tentu saja rasanya berbeda. Sebab kemarin-kemarin, meskipun Jamal tidak bersama dengan mereka, tapi ada wujudnya yang berbaring di rumah sakit.
Sedangkan kali ini, mereka mendapatkan kabar bahwa, mete tidak akan pernah bisa melihat jamal lagi untuk kedepannya nanti.
Tapi ternyata dari dalam ruangan terdengar kegaduhan.
Bahkan ada perawat yang berteriak ketakutan, karena pasien yang dinyatakan telah meninggal dunia, tiba-tiba bangun dan duduk.
"Dokter! Dokter!" teriak perawat dengan berlatih keluar.
__ADS_1
Yang ada di dalam ruangan, juga saling pandang dengan tatapan waspada. Karena mereka berpikir bahwa, orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa hidup lagi.