
Sebelum mengunting pita untuk simbolis pembukaan pengilingan padi, Jamal mengaktifkan sistem untuk menautkan keduanya. Agar pengilingan padi ini, juga terikat dengan sistem bertani miliknya.
[ Ding ]
[ Selamat pagi Tuan ]
'Aku mau menyatukan pengilingan padi ini dengan sistem.'
[ Ding ]
[ Semua sudah terkontrol Tuan ]
[ Penyatuan akan segera dilakukan ]
[ Ding ]
1%
10%
20%
30%
40%
50...
Sampai dengan selesai menjadi 100%.
[ Ding ]
[ Proses penyatuan selesai ]
'Syukurlah jika sudah selesai. Terima kasih.'
[ Ding ]
[ Sama-sama Tuan ]
[ Selamat pagi dan selamat bekerja ]
[ Ding ]
__ADS_1
Gambar pada layar transparan sistem telah selesai menyatu, bersamaan dengan peresmian penggilingan padi ini.
Jamal merasa senang, karena mimpinya mempunyai penggilingan padi sendiri, akhirnya bisa terwujud juga.
"Dengan begini, Aku bisa menjual beras bukan hanya sekedar padi yang baru saja dipanen, karena setelahnya bisa diproses sendiri di penggilingan padi ini. Sehingga bisa menjadi beras, yang siap untuk di jual dan dikonsumsi oleh masyarakat.
Sekitar pukul 01.00 siang acara selesai. Semua tamu undangan sudah pulang, yang ada hanya tinggal beberapa orang saja yang memang menjadi panitia di acara tersebut termasuk Jamal, Indah dan Umi.
Hendra juga masih ada di sini, dan ternyata, lina juga belum. Dia tidak ikut pulang bersama bapak dan ibunya. Dia sengaja tinggal di sini, supaya bisa berbicara dengan Hendra lebih lama lagi.
"Mas Hendra gak balik kota?" tanya Lina pada Hendra, yang saat itu sedang melintas di depannya dengan membawa gulungan kabel.
"Oh gak Lin. Aku gak balik lagi ke kota. Aku ada di sini, kerja bersama Jamal. Jadi Aku anak buahnya Jamal sekarang ini."
"Lho kenapa bisa begitu Mas? bagaimana dengan pekerjaan Mas Hendra di kota besar?apa gak sayang dengan pekerjaan yang di sana?" Lina mengajukan banyak pertanyaan.
"Enggak. Aku udah gak punya kerjaan di kota. Aku ikut kuli dan kerja di sini saja, sekalian mau nabung buat nanti melamar Ajeng." Hendra memberikan penjelasan kepada Lina.
"Mas Hendra mau menikah dengan Ajeng?" tanya lina kaget.
Ada kesedihan di matanya, karena merasa sendirian. Ternyata orang-orang yang ada di dekatnya sudah pada menikah, dan mau menikah. Sedangkan dirinya sendiri justru menyedihkan seperti ini.
Raut wajah Lina yang sedih ditangkap oleh penglihatan Hendra. Dia juga bingung mau memberikan pengertian dan menjelaskan yang bagaimana pada Lina.
"Kalau Mas Hendra bilang seperti itu, ayolah kita menikah saja Mas. Jadi Mas Hendra gak usah sama Ajeng!" ujar Lina dengan kesal.
"Hai! bagaimana bisa Kamu punya pemikiran seperti itu Lina? dasar Kamu ya! bicara itu dipikir jangan asal ngucap!" kesal juga Hendra mendengar perkataan Lina yang menurutnya semakin nekat saja.
Lina berpikir, jika dulu dia dan Hendra bisa bersandiwara saat mau ngerjain Jamal. Tapi itu justru membuat Jamal jadi benci dengan Lina. Dan di saat Jamal mau memperistri adiknya, Lina justru semakin kesal karena Jamal tidak mau dengannya.
"Jika Mas Hendra sama Ajeng, Aku bagaimana Mas?" tanya Lina hampir menangis karena sedih.
"Bagaimana jika Kamu sama Tarno, anaknya Pak kades. Dia juga orang kaya kan? Pak kades gitu lho!" usul Hendra yang tidak masuk di akal.
"Gak! Aku gak mau sama Tarno. Mas Hendra saja ya?" rengek Lina persis seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.
"Jika Mas Hendra tidak mau sama Lina, mas Jamal akan Aku rebut kembali!" ancam Lina pada Hendra.
"Hai! apa yang Kamu pikirkan? Kamu tidak bisa merebut Jamal, dia itu adik ipar mu sekarang. Apa Kamu tidak memikirkan bagaimana adikmu nanti? Ingat itu Lina!"
"Apa peduli ku! tanya saja sama mas Jamal, dia pasti masih mencintai Aku."
"Aku yakin di hatinya mas Jamal masih ada Aku. Indah hanya dijadikan sebagai umpan dan balas dendam sama Aku. Itu saja!" ketus Lina dengan menatap tajam ke arah Hendra.
__ADS_1
"Yakin sekali Kamu Lina, ingat ya! jangan sampai Kamu merusak kebahagiaan mereka. Indah itu adikmu. Ingat, jangan jadi duri dalam daging di keluarga adikmu!"
Hendra masih berusaha untuk menahan diri dan menasehati Lina, meskipun Lina tetap ngotot dan tidak mau tahu.
"Gak! pokoknya Aku mau sama mas Jamal. Titik!" Lina melengos pergi, tapi dengan cepat tangannya dicekal oleh Hendra.
"Aku sudah memperingatkan Kamu Lina. Awas aja jika sampai terjadi sesuatu pada Jamal dan Indah. Aku pasti akan mencarimu. Dan jika sampai terjadi sesuatu padamu, Aku tidak akan pernah membantumu"
"Dan ingat, Aku tidak akan tinggal diam sama seperti dulu, di saat Kamu tidak menghargai Jamal. Sekarang aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Karena itu sama saja artinya dengan menyakitiku."
"Jamal adalah Bos ku sekarang ini, dan Indah, adalah istrinya Bos ku!"
Hendra bicara panjang lebar, memberikan nasehat dan pengertian kepada Lina.
"Hah bilang saja sekarang Kamu jadi kacungnya gitu! pakai alasan segala macam!" umpat Lina mencemooh Hendra.
"Terserah. Terserah Kamu mau bilang apa, Aku tidak peduli."
Lina semakin kesal, karena ternyata hendra tidak mendukungnya, bahkan memberinya nasehat-nasehat yang tidak dia diperlukan.
'Awas aja mas Hendra. Aku pasti bisa. Aku tidak peduli yang penting. Yang penting Aku mau merebut mas Jamal lagi dari adikku.' batin Lina dengan mendongakkan wajahnya.
Sekarang, suasana di penggilingan padi sudah sepi. Hanya ada beberapa orang, yang memang akan bekerja di sana termasuk hendra juga.
*****
Jamal, Indah, dan Umi, sudah ada di rumahnya.
Jamal berpamitan pada Ami nya, jika dia ingin pergi ke rumah mertuanya terlebih dahulu.
"Lho, tadi kan udah ketemu Mal, di penggilingan padi. Apa ada sesuatu, sehingga Kamu mau ke sana?" tanya Umi heran.
"Gak ada apa-apa Ami. Cuma mau pamit aja kok." jawan Jamal memberitahu keperluannya pergi ke rumah mertuanya.
"Oh iya lupa! Jamal juga belum sempat bilang sama Ami ya, jika Jamal sama Indah mau pergi bulan madu. Bagaimana Ami, bolehkan?" tanya Jamal pada Umi.
"Boleh sekali, malah Ami dukung pokoknya. Yang penting, kalian berdua pulangnya bawa kabar baik ya. Beri kabar Ami, jika akan ada cucu Ami yang ikut pulang juga bersama dengan kalian berdua."
"Hahaha... Ami ini ada-ada saja! Tapi Jamal siap-siap pokoknya Ami. Jika Umi akan dapat jawaban atas permintaan umi itu."
Umi tersenyum tipis, dengan menepuk-nepuk lengan anaknya itu.
Dia merasa sangat senang, karena anaknya bisa berbahagia dengan Indah, setelah menikah dengan Indah.
__ADS_1