
Tidak menunggu Indah bicara lagi, Jamal langsung membopong tubuh istrinya itu untuk dibawa ke tempat tidur.
"Kiyaaa... Mas ngagetin!"
Indah berteriak kaget, saat tubuhnya terangkat ke atas dan akhirnya berada di depan dada suaminya yang hanya tersenyum penuh arti, melihat ke arah bibirnya.
Indah jadi kelabakan dan serba salah, karena netra Jamal hanya tertuju pada bibirnya saja.
Cup!
Jamal mengecup bibir Indah sekali, sebelum dia mendaratkan tubuh istrinya itu di tempat tidur, kemudian dia juga ikut naik ke atas tempat tidur yang sama.
Indah menatap wajah suaminya, dengan jantung yang berdegup kencang. Nafasnya juga tidak teratur lagi, karena rasa deg-degan yang sulit untuk dia netral kan.
Sedangkan Jamal yang masih diam, memperhatikan keseluruhannya dari tubuh istrinya itu, dengan tatapan mendamba.
Hal ini justru membuat Indah merasa gelisah. Sehingga dia berinisiatif untuk bertanya pada suaminya. "Mas... mas Jamal. Jika masih capek, gak apa-apa besok saja. Kita... kita tidur saja sekarang Mas."
Tapi sepersekian detik kemudian, di saat Indah baru saja selesai berbicara, Jamal sudah menyerang bibirnya dengan ciuman yang menuntut.
Tentu saja indah jadi kaget, dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Tapi pada akhirnya, dia pun ikut terbuai dengan sentuhan lembut bibir Jamal dan tangannya yang tidak mau tinggal diam.
Ada saja yang dilakukan oleh suaminya itu, untuk membuatnya ikut terpengaruh oleh permainan mereka berdua ini.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka melakukan pemanasan sebelum ke inti.
"Masss..."
"Diam saja dan nikmati Sayang. Jika terasa sakit, gigit tangan Mas gak apa-apa," bisik Jamal di telinga istrinya dengan lembut, saat kepala Indah mengeleng beberapa kali menahan diri dari rasa sakit atas penyatuan mereka berdua.
Indah hanya mengangguk dengan mengigit bibirnya, karena memang belum pernah melakukannya dengan siapapun.
Jamal memakluminya juga. Apalagi dia juga belum bisa menemukan lubang inti yang seharusnya. Sehingga Indah ikut membantu dengan tangannya yang menuntun.
Saat di rasa sudah pas.
"Pelan-pelan ya Mas..." des_ah Indah sambil mengigit bibirnya sendiri, tapi segera di lepas oleh Jamal.
Jamal mengelengkan kepalanya, agar Indah tidak melukai bibinya. Bahkan dia memasukkan jari telunjuknya sendiri agar Indah bisa mengigitnya.
Suara-suara yang terdengar memburu dan saling sahut-sahutan di dalam kamar, tentu saja hanya mereka yang mendengarnya. Sebab di kamar Jamal ini, sudah di pasang alat peredam suara.
Sedangkan hadiah dari sistem, akan mencegah adanya gangguan dari luar. Sehingga yang ada di dalam kamar, tidak akan mendengar apapun kegiatan yang ada di luar kamar. Atau mencegah seandainya ada yang berusaha untuk mengusik kegiatan mereka berdua di dalam kamar.
__ADS_1
Jadilah malam pertama Jamal dan Indah tanpa halangan. Meskipun malam sudah semakin larut, kegiatan di dalam kamar justru semakin mengejutkan.
Bahkan Jamal jadi bersemangat untuk bekerja lagi gan lagi. Hingga benar-benar terkuras tenaganya, untuk pekerjaannya itu.
Sama juga dengan Indah sendiri. Badannya terasa remuk tak bertenaga. Hingga ke kamar mandi saja dia tidak busa berjalan.
"Mas. Aku mau ke kamar mandi dulu ya," pamit Indah, setelah mereka berdua selesai untuk kesekian kalinya.
Jamal mengangguk mengiyakan dengan tersenyum puas. Karena mereka berdua memang telah melakukan hal-hal yang menyenangkan sedari tadi.
Tapi ternyata...
"Auhhh..."
Dia meringis menahan rasa sakit pada area intinya, di saat dia turun dari tempat tidur, hingga air matanya keluar dengan sendirinya.
"Mas bantu Yang."
Jamal yang mendengar suara kesakitan istrinya, akhirnya bangkit dari tempat tidur dan membopong tubuh istrinya yang polos, hanya berbalut selimut tipis saja. Sedangkan tubuhnya sendiri masih dalam keadaan polos dan belum sempat mengenakan baju atau celananya.
"Mas..."
Indah yang sudah melihat keadaan tubuh suaminya dalam keadaan polos seperti ini sejak beberapa jam yang lalu, masih merasa risih juga. Jika sedang tidak dalam keadaan seperti tadi.
Clek!
Pintu kamar mandi terbuka. Jamal masuk ke dalam dengan membawa istrinya ke arah kloset. Sebab Indah ingin buang air kecil.
Dengan telaten, Jamal membuka kran air hangat, agar Indah bisa menggunakannya untuk membersihkan bagian intinya.
Dengan air hangat, rasanya tidak akan terlalu perih, untuk membasuh bagian inti Indah yang baru saja dia buka tadi dan memang belum terbiasa juga.
"Pakai ini Yang, buat membersihkan."
Jamal menyodorkan air hangat yang sudah dia sediakan, pada istrinya yang sudah selesai buang air kecil.
Sebenarnya Indah merasa risih, karena Jamal tidak keluar dan justru menunggui dirinya di dalam kamar mandi. Tapi dia juga bersyukur, karena Jamal berlaku lembut dan tidak tergesa-gesa dalam kegiatan mereka tadi.
"Yang, kok malah melamun. Apa masih sakit?" tanya Jamal, yang melihat istrinya itu justru terdiam dan tidak segera membersihkan intinya.
"Eh, emhhh... gak apa-apa Mas."
Indah gagap dan segera melakukan apa-apa yang memang seharusnya dia lakukan.
__ADS_1
Setelah itu, Jamal kembali membopong tubuh istrinya itu untuk kembali ke tempat tidur.
Di saat sudah meletakkan tubuh istrinya ke tempat tidur lagi, Jamal justru merasa ingin melakukannya lagi. Karena melihat semua tanda kepemilikan yang tadi dia sematkan di sekujur tubuh istrinya.
Dia tergiur lagi, untuk bisa memberikan tanda kepemilikan yang sama, di setiap sudut pori-pori kulit Indah.
Tapi karena melihat tubuh istrinya yang sudah lemah, dia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Hhh..."
"Mas," panggil Indah, saat mendengar suara helaan nafas panjang suaminya.
"Apa Yayang masih kuat?" tanya Jamal dengan memiringkan tubuhnya, menatap ke wajah istrinya yang sedang melihatnya.
"Mas gak capek?" Indah justru balik bertanya.
Dengan cepat, Jamal mengelengkan kepalanya beberapa kali. Dia bersemangat untuk mencicipi tubuh istrinya lagi.
"Tapi..."
"Cup!"
"Yayang cukup diam, dan nikmati. Mas yang kerja, ok!"
Indah sudah tidak mampu menjawab, sebab bibirnya langsung di bekam dengan bibir suaminya yang kembali membuatnya terbuai.
Meskipun indah mengatakan sudah tidak mampu, nyatanya, tubuhnya mengisyaratkan lain. Karena tetap, bagian-bagian tubuhnya bisa merespon setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh Jamal. Sehingga dia tidak mampu untuk menolaknya lagi dan lagi.
*****
Pagi sudah datang. Bahkan sekarang ini sudah jam delapan pagi.
Tapi pintu kamar Jamal masih tertutup rapat.
Orang-orang di rumah ini juga tidak ada yang mau mengusik kegiatan di kamar tersebut.
Baik Umi ataupun ART, dan juga sanak saudara yang semalam terpaksa menginap, hanya bisa sarapan pagi tanpa kehadiran kedua pasangan baru itu.
Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang membicarakan Jamal ataupun Indah.
Mereka semua, seperti melupakan keberadaan Jamal dan Indah yang ada di rumah ini juga.
Seakan-akan, perlindungan sistem melupakan ingatan orang-orang. Sehingga spa yang terjadi di dalam kamar pengantin juga tidak pernah menjadi pembahasan mereka.
__ADS_1