
Pagi sudah datang. Jamal dan Indah yang sudah bersiap dari semalam, tinggal membawa dua koper ke dalam mobil.
Bersama Umi dan juga Hendra, akhirnya mereka berdua sudah siap berangkat. Dengan menggunakan mobilnya Jamal, yang di setir sama Hendra.
Kali ini, Hendra diminta untuk menyetir. Karena Jamal dan Indah harus terbang mengunakan pesawat, sebab mereka mau terbang ke Bali untuk bulan madu.
"Entar kalau udah di Bali, terus mau pulang, jangan lupa ya Mal, beliin Aku oleh-oleh. Hahaha..." Hendra berkata dengan maksud bercanda, sambil menyetir.
Hendra yang memegang setir, sedangkan jamal duduk di sampingnya. Indah ada Umi, duduk di bangku penumpang yang ada di belakang.
Umi ikut mengantar mereka berdua di sampai bandara, sekalian menemani Hendra di jalan.
"Beres Hen. Asal kerjaan Kamu juga beres." Jamal menyanggupi permintaan Hendra, tapi dengan persyaratan.
"Ah, tentu saja Bos. Beres pokoknya!" sahut Hendra cepat.
"Hen, Kamu itu buruan nikah sama Ajeng. Jangan lama-lama, nanti Ajeng keburu kabur dan menghilang," ujar Umi menasehati Hendra. Yang merupakan temannya Jamal. Bahkan umur Hendra dua tahun lebih tua dari Jamal sendiri.
"Tenang Ami, ini Jamal udah pinjemin uang kok, buat acara lamaran Hendra. Hahaha... doakan ya Ami, semoga Hendra bisa jadi suaminya Ajeng."
"Iya, aamiin... aamiin..."
"Ami doakan deh Hen! lha kapan itu?" tanya Umi, setelah mengamini harapan Hendra.
"Katanya besok Ami. Dia mau ajak Ami, gak nunggu Jamal pulang dari Bali." Jamal memberikan jawaban atas pertanyaan Umi. Sebab Hendra sedang berkonsentrasi pada jalan yang berbelok-belok.
"Oh... kenapa?" tanya Umi lagi.
"Takut Ajeng salah paham Ami. Takutnya Ajeng malah mengira Jamal yang lamar dia lagi. Hahaha..." sekarang, Hendra yang memberikan jawaban, dengan tertawa terbahak-bahak. Karena merasa jika Ajeng masih berharap dengan Jamal, yang jelas-jelas sudah memiliki istri.
"Ihsss... eh iya Hen, gimana kabar bapakmu, belum Kamu ajak pulang? tanya Umi, mengalihkan pembicaraan.
Indah hanya tersenyum sesekali, jika ada pembicaraan mereka yang dirasa lucu.
"Kata paman gak boleh Ami, soalnya di rumah tidak ada yang jaga. Paman juga tidak yakin, jika istri Hendra mau menjaga bapak nanti."
Jamal, Umi dan mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Hendra barusan.
"Kenapa gak mau merawat bapakmu?" tanya Umi dengan heran.
"Hendra minta maaf ya Ami, dan juga sama Kamu Jamal. Dulu bapak punya banyak salah sama kalian berdua." Hendra meminta maaf pada Jamal dan Umi, atas nama bapaknya. Yaitu kang Kasan.
__ADS_1
"Bapak sudah kehilangan segalanya. Mungkin dia tidak kuat dan menjadi seperti itu mentalnya." imbuh Hendra menyambung perkataannya yang tadi.
Indah tidak bicara apa-apa, meskipun ada banyak pertanyaan yang dia miliki dalam hati.
Pluk!
Jamal menepuk pundak temannya itu, kemudian berkata, "Tidak apa-apa Hen. Kami sudah tidak mengingat hal itu lagi,"
Umi juga menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan anaknya, Jamal.
"Di rumah pamanmu, siapa yang merawatnya Hen?" tanya Umi lagi, yang sebenarnya merasa kasihan dengan nasib kang Kasan.
"Ada yang jagain Ami, tapi orangnya gak nginep di rumah paman. Cuma jaga bapak kalau siang hari. Hendra juga bisa bayarnya segitu saja. Yang penting tidak terlalu merepotkan paman dan bibi Hendra. Sedang untuk makan dan obat, kadang paman yang masih membeli meskipun Hendra tidak minta. Hendra sebenarnya belum siap untuk menikah, takutnya istrinya Hendra gak bisa menerima kenyataan. Jika bapaknya Hendra mengalami gangguan mental."
Setelah bicara tentang bapaknya, Hendra menghela nafas panjang. Seakan-akan ada beban berat yang menindih dadanya.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di bandara. Yang akan membawa Jamal dan Indah terbang ke Bali.
*****
Siang, sekitar pukul dua, Jamal dan Indah sudah sampai di hotel.
Setelah urusan dengan resepsionis hotel selesai, Jamal dan Indah pergi ke dalam kamar yang sesuai dengan nomor kamar, di antar oleh pegawai hotel.
Pegawai tersebut membawakan koper bawaan mereka, hingga masuk ke dalam kamar. Setelahnya pelayan tersebut pamit.
Tapi sebelum pergi, Jamal mengucapkan terima kasih, sekalian memesan makanan untuk di antar ke kamarnya ini.
"Mas, sekalian pesan makanan dan tolong bawakan ke sini ya!" pinta Jamal, dengan memberi beberapa lembar uang sebagai tips kepada pelayan tersebut.
"Baik Tuan. Terima kasih."
Setelah pelayan tersebut keluar dari dalam kamar, Jamal meminta pada Indah untuk membersihkan dirinya.
"Sayang, mandi dulu gih! Atau mau Aku mandiin?" tanya Jamal dengan maksud menggoda istrinya.
"Jangan dulu Mas. Nanti pelayan datang membawa pesanan, kita belum selesai."
Jamal mengangguk mengiyakan, karena apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar juga.
Tapi sebelum Indah benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, Jamal memeluknya dengan cepat, kemudian mencium dan melu_mat bibir istrinya itu. Karena sedari tadi dia tidak bisa melakukan apa-apa selama dalam perjalanan mereka.
__ADS_1
"Emmm... Masss..."
Desa_hhan yang keluar dari mulut Indah, justru membuat Jamal semakin bertambah semangat, dan lupa tujuan awalnya, yang meminta agar istrinya itu untuk pergi mandi.
Setelah lama saking menyatukan bibir dan lidah mereka, terdengar suara pintu kamar yang diketuk dari luar.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
"Ah menganggu saja, siapa sih yang datang?" gerutu jamal dalam sambil mengelap bibirnya.
Jamal meminta Indah untuk duduk di pinggir tempat tidur, agar tidak dilihat orang yang datang. Sebab pakaiannya Indah ternyata sudah terlepas pada bagian atas. Dan itu tanpa mereka berdua sadari.
Indah hanya mengangguk, mengikuti instruksi dari suaminya.
Tak lama kemudian, pintu di buka Jamal.
Clek!
Ternyata yang datang adalah pelayan hotel, yang membawakan kereta makana, pesanannya Jamal tadi.
"Biar Saya bawa sendiri. Terima kasih." Jamal meminta kereta makan untuk dia bawa masuk ke dalam kamar, setelah mengucapkan terima kasih.
Dia tidak mau jika pelayan tersebut melihat keadaan Indah yang sudah setengah terbuka karena ulahnya tadi.
"Kita makan dulu, atau mau mandi dulu Sayang?" Jamal memberikan penawaran.
"Bagaimana kalau kita mandi saja dulu Mas," jawab Indah dengan malu-malu. Karena jawabannya itu sama seperti sedang menggoda suaminya untuk berbuat lebih padanya, sebelum mereka benar-benar mandi nantinya.
"Wahhh... dengan senang hati Sayang!"
Jamal merasa sangat senang, karena Indah bisa mengatakan apa yang dia inginkan.
Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Indah selama menjadi istrinya. Karena biasanya, Indah hanya menuruti semua keinginannya Jamal saja.
Dengan tersenyum senang, Jamal membopong tubuh istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang. Jika Kamu sedang pengen, bilang ya! Aku akan dengan senang hati memuaskan keinginanmu. Mas justru seneng, jika Kamu juga menginginkannya," bisik Jamal di dekat telinga istrinya.
Indah hanya mengangguk saja dengan kedua tangannya yang sedari tadi dia kalungkan ke lehernya Jamal.
__ADS_1