Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Keinginan Ibu-ibu


__ADS_3

Keberhasilan Jamal selama ini, membuat banyak ibu-ibu yang berharap anaknya bisa mendapatkan suami seperti jamal. Bahkan mereka juga rela, seandainya anak mereka dijadikan istri kedua atau ketiga Jamal, yang penting anaknya hidup terjamin dan dihormati oleh masyarakat.


Di warung-warung maupun tempat-tempat biasa berkumpul ibu-ibu, banyak yang membicarakannya Jamal dan kehidupan keluarganya.


"Senengnya seandainya Aku punya menantu seperti Bos Jamal itu," kata salah satu dari ibu-ibu tersebut.


"Ya pastinya! Aku juga mau punya menantu seperti Bos Jamal itu!"


"Sayangnya Bos Jamal sudah punya istri. Ah, beruntung sekali Indah ya!"


"Misalnya gini, bos Jamal itu pingin punya istri lagi, rela deh anakku jadi istri kedua, atau ketiganya. Yang penting gak bakal ada kekurangan juga anakku nanti."


"Aku kalau masih gadis juga mau jadi istrinya."


"Hehehe... iya ya. Sayangnya, Jamal sudah sukses kita sudah tua."


"Tapi kita bisa ngomong sama Ami nya, siapa tahu dia mau punya menantu lagi. Secara, anaknya cuma Jamal. Kalau cuma Indah yang jadi menantunya, terus cuma punya satu anak, kasian juga sama Umi."


"Kalau begitu, Aku mau daftarin keponakanku. Siapa tahu Umi dan Jamal tertarik."


Mereka justru berencana untuk menyodorkan anak ataupun keponakannya, agar bisa menjadi istri dari Jamal yang ke berikutnya.


Akhirnya mereka mendatangi rumah Umi, secara bersama-sama sore ini.


Umi yang tidak tahu apa maksud dari kedatangan mereka, mempersilahkan tetangganya yang pada datang untuk masuk ke rumah.


Dia juga meminta kepada ART, untuk menyediakan minuman dan makanan untuk para tamunya itu.


Kebetulan, Indah juga baru saja keluar dari dalam kamar, sehingga ikut duduk bersama para tamu-tamu yang sudah diterima oleh ibu mertuanya.


Di saat mereka sudah berbicara ke sana ke sini, akhirnya mereka mulai membicarakan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah.


"Ami. Sebenarnya kami datang kesini itu... sebenarnya mau memberikan penawaran kepada Ami. Siapa tahu, Ami mau mengambil menantu lagi."


Umi menyatukan alisnya, mendengar perkataan salah satu dari tamunya itu.

__ADS_1


"Iya Ami. Aku juga menawarkan keponakanku. Dia sudah tidak punya ibu, dan tinggal di kampung sebelah, yang berbatasan dengan kecamatan ini Ami."


Indah yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka, merasa heran. Dengan kedatangan ibu-ibu, yang tiba-tiba menawarkan gadis-gadis pada ibu mertuanya ini.


"Sebentar-sebentar. Ini maksudnya bagaimana ya? Saya kan sudah tidak punya anak laki-laki lagi. Anak Saya cuma satu, yaitu Jamal. Dan dia juga sudah punya istri. Jadi maksudnya bagaimana ini?"


Umi bingung, sama seperti Indah juga, yang tidak tahu maksud dari apa yang mereka inginkan.


"Begini Ami. Maksudnya, kita jika Jamal ingin mencari istri lagi, tidak usah jauh-jauh. Kami memberikan anak gadis kami atau keponakan kami, untuk dijadikan istri Jamal berikutnya."


Deg!


Indah tentu saja kaget mendengar perkataan ibu-ibu tersebut.


Sama seperti dengan Umi, yang langsung membelalakkan matanya, setelah mereka selesai bicara.


"Maksudnya apa?" tanya Umi kaget.


Akhirnya mereka menjelaskan bahwa, mereka merelakan anak gadis atau keponakan mereka, untuk dijadikan istri kedua atau ketiganya Jamal.


Sekarang Umi paham. Indah juga sudah mulai paham apa maksud dari kedatangan mereka.


"Begini ibu-ibu. Saya itu cuma punya anak satu, yaitu Jamal. dan dia juga sudah punya istri yaitu Indah.


Semua tamu menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh umi kali ini.


"Tapi saat ini, Indah sedang hamil. Dan kehamilannya ini, diprediksi dokter jika anaknya tidak hanya satu, tapi ada lima bayi. Jadi, kekhawatiran ibu-ibu itu tidak ada alasannya. Karena nyatanya, anak menantu Saya ini, bisa memberikan kepada saya cucu lima sekaligus."


Tamu-tamu itu saling pandang. Mereka tidak pernah menyangka bahwa, Indah sudah hamil dan anak yang dikandung itupun berjumlah lima bayi.


"Lima bayi?" tanya mereka serempak.


"Iya lima, kenapa?" tanya Umi dengan melihat mereka satu persatu.


"Kalian tidak percaya?" tanya umi lagi, karena melihat ketidakpercayaan pada wajah-wajah tamunya itu.

__ADS_1


"Tapi pasti Indah akan kerepotan itu Ami, dengan anak-anaknya. Lalu bagaimana kebutuhan biologis Jamal nanti?"


Sepertinya mereka masih belum menyerah, dengan mempertanyakan kembali kebutuhan Jamal yang relatif sensitif.


"Kenapa kalian repot? itu pasti sudah dipikirkan oleh Jamal dan Indah." Umi tetap saja memberikan jawaban yang tepat.


"Gimana kalau Jamal mengambil satu atau dua istri lagi, untuk memenuhi kebutuhan biologis Jamal setelah Indah melahirkan. Karena tidak mungkin, Indah bisa langsung melayani Jamal, sebagaimana sebelum dia melahirkan. Bisa jadi, sebelum dia melahirkan juga tidak bisa melayani Jamal, dengan perutnya yang semakin besar karena berisi lima orang anak."


Indah tersinggung mendengar perkataan salah satu tamunya itu, karena pada kenyataannya di tetap bisa melayani suaminya dengan sangat baik.


Melihat perubahan wajah pada anak menantunya, Umi langsung mengusir tamunya tersebut dengan cara yang halus.


"Terima kasih ya ibu-ibu, atas perhatiannya kepada anak Saya. Tapi Saya berharap, ibu-ibu juga tahu bahwa Saya ini bisa mengambil perawat ataupun baby sister, dengan jumlah yang banyak untuk bisa mengurus anak-anaknya nanti. Jadi, dia tetap bisa fokus melayani suaminya."


Indah menundukkan wajahnya, karena merasa apa yang dikatakan oleh tamunya itu ada benarnya juga. Meskipun dia tidak rela, seandainya Jamal mengambil istri lagi.


"Apa ibu-ibu sudah berpikir, seandainya suami ibu-ibu mau mengambil istri lagi? sedang ibu-ibu repot dengan bayi."


Sekarang Umi mengembalikan fakta, dengan apa yang ditawarkan pada keadaan mereka sendiri, yang tentu saja tidak ada yang pernah mau, jika suaminya mengambil istri lagi, di saat mereka sedang repot dengan bayi ataupun proses melahirkan.


Semuanya tertunduk dan akhirnya pamit untuk pulang.


"Indah maafkan Ami ya! Ami membiarkan mereka masuk, dan bahkan menyuguhi mereka juga."


Umi merasa bersalah kepada Indah, karena tamu-tamunya tadi telah menyinggung hati anak menantunya itu.


Indah hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, kemudian pamit untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Tak lama kemudian, suara motor Jamal terdengar di luar rumah.


"Itu Jamal. Aku harus bicara dengannya, agar bisa menghibur istrinya yang sedang bersedih hati. Karena perkataan ibu-ibu tadi."


Umi akhirnya segera menemui anaknya di teras depan rumah, untuk membicarakan apa yang baru saja terjadi.


Jamal yang baru saja datang, dan bermaksud untuk masuk ke dalam rumah, mengurungkan niatnya. Karena diminta Umi untuk duduk terlebih dahulu bersamanya di teras depan rumah.

__ADS_1


__ADS_2