Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Terus Terang


__ADS_3

Sekarang, disinilah mereka bertiga. Disebuah tempat yang cukup nyaman, untuk digunakan sebagai tempat berbincang-bincang.


"Kamu kapan pulang ke sini Kadek?" tanya Tarno, dengan melihat Ajeng dengan penuh damba.


Terlihat jelas jika Tarno menaruh hati pada Ajeng. Yang saat ini berstatus sebagai janda.


Jamal sendiri, tidak begitu memperhatikan percakapan mereka berdua. Sebab, dia sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya. Yaitu membalas pesan-pesan yang masuk ke akunnya, dan juga membalas komentar yang ada pada siarannya kemarin-kemarin.


"Dia memang begitu, gak terlalu memperhatikan keadaan sekitarnya. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dia lakukan," ujar Tarno, menjelaskan tentang Jamal. Yang sedari tadi hanya diam saja.


Ajeng hanya menanggapi perkataan Tarno dengan tersenyum tipis. Meskipun sebenarnya dia juga memperhatikan, bagaimana Jamal yang tidak menaruh perhatian dengan dirinya.


"Oh ya, tadi Kamu bilang belum lama pulang ke sini. Apa Kamu ada niatan untuk balik ke Bali lagi?" Tarno kembali bertanya, karena penjelasan yang diberikan oleh Ajeng tadi menurutnya belum jelas.


"Kadek gak balik lagi ke sana. Di rumah sini, Papa tinggal sendirian. Dan toko milik papa, juga tidak ada yang mengurus. Jadi, Kadek diminta pergi ke sini dan tidak boleh balik ke Bali lagi."


Ajeng kembali menjelaskan kepada Tarno, jika dia tidak akan kembali ke Bali lagi. Sebab, dia akan mengurus toko yang saat ini hanya diurus papanya saja.


Jamal, secara tidak sengaja mendengar bahwa, saat ini, Tuan Wiro banyak tinggal seorang diri. Sedangkan istrinya, Nyonya Yenny, bersama dengan anak keduanya, sudah tidak ada lagi.


Jadi, mama dan adiknya Ajeng, menjadi salah satu korban bencana alam kemarin.


"Maaf, Aku tidak tahu Jeng. Ami juga sudah tidak ada, bersama dengan Hendra. Mereka berdua juga korban bencana alam kemarin itu," terang Jamal tanpa sengaja. memberitahu kepada Ajeng.


Dia menyahuti perkataan Ajeng, yang tadi sedang memberikan penjelasan kepada Tarno.


"Tidak apa-apa mas Jamal."


Mendengar perbincangan keduanya yang ternyata tiba-tiba nyambung, Tarno mengerutkan keningnya bingung.


Jamal, yang pada akhirnya sadar dengan perbincangan mereka, menggaruk-garuk kepalanya sendiri, dengan nyengir kuda.


"Hehehe maaf," ucap Jamal dengan tetap nyengir kuda.


Tarno semakin bingung, apalagi Ajeng juga menundukkan kepalanya, karena pada akhirnya, mereka berdua ketahuan juga jika sudah saling kenal.


"Ini maksudnya kalian berdua sudah saling kenal? Kamu juga kenal sama Ami nya Jamal, sama Hendra juga?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Tarno, menggambarkan bahwa, dia sangat terkejut. Dia ingin meminta penjelasan dari kedua orang yang saat ini sama-sama salah tingkah.

__ADS_1


"Kenapa Kamu pura-pura tidak kenal tadi Mal?" tanya Tarno, menuntut jawaban dan penjelasan dari Jamal.


"Kadek, memang di mana rumah Kamu yang sebenarnya?" Tarno juga menuntut penjelasan lebih dari Ajeng.


Sekarang mereka bertiga justru terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Hhh..."


Ajeng dan Tarno sama-sama menoleh, di saat Jamal mengeluarkan nafas panjang.


Mereka berdua, menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Jamal nanti.


Tarno, berharap agar temannya itu mau berkata sebenarnya, sehingga dia tidak berprasangka yang tidak-tidak.


Sedangkan untuk Ajeng, dia berharap supaya Jamal mau menjelaskan sejelas-jelasnya, bagaimana dengan hubungan mereka berdua di masa lalu.


Ajeng tidak mau seandainya dia memberikan penjelasan terlebih dahulu, tapi ternyata tidak didukung oleh jawaban yang akan diberikan oleh Jamal nantinya.


Meskipun dia sendiri tidak tahu, bagaimana perasaannya sendiri saat ini. Dia hanya berharap, semoga kedua laki-laki yang saat ini ada di depannya, tidak memberikan penilaian yang buruk terhadap dirinya.


Tadi, disaat Tarno menegur Ajeng, dan Ajeng melihat keberadaan Jamal, dia sudah merasa sangat bahagia.


Akhirnya, Jamal berusaha untuk memberikan penjelasan kepada Tarno, bagaimana dia bisa sampai mengenal Ajeng.


Jamal juga memberikan penjelasan kepada Tarno, bagaimana bisa Ajeng mengenal Hendra. Hingga hubungan mereka sedikit rumit di awal-awal dulu.


Tarno, mendengarkan semua penjelasan yang diberikan oleh jamal tanpa menjedanya, atau memotong kalimat yang diucapkan oleh Jamal.


Dia cukup dewasa, untuk bisa memberikan penilaian sendiri terhadap Ajeng, dari penjelasan yang diberikan oleh Jamal barusan.


Ajeng, menundukkan kepalanya. Memberikan pertanda bahwa, apa yang dikatakan oleh Jamal memang benar adanya.


"Jadi, sebenarnya kalian berdua tadi hanya merasa malu, untuk mengakui bahwa kalian saling kenal? atau, kalian berdua hanya ingin menjaga perasaan ku?" tanya Tarno, langsung pada permasalahan yang sedang dia rasakan.


Jamal, melihat ke arah tarno, dengan menyipitkan matanya. Karena itu juga yang tadi dia pikirkan.


Sedangkan Ajeng sendiri, hanya bisa menundukkan kepalanya, tanpa mau menjawab pertanyaan dari Tarno.


"Maaf No. Aku hanya ingin membuat Kamu nyaman saja. Dan maaf sekali lagi, jika tadi Aku keceplosan, dan akhirnya semua ini terbongkar. Tapi sungguh, Aku tidak punya niatan apa-apa."

__ADS_1


Ajeng langsung lihat ke arah Jamal, yang mencoba untuk meyakinkan Tarno.


"Maaf mas Tarno."


Mendengar permintaan maaf dari Ajeng, membuat Tarno segera sadar, bahwa dia sebenarnya belum ada hubungan apa-apa bersama Ajeng. Jadi, dia sendiri akhirnya merasa malu. Karena terlihat seperti orang yang sedang cemburu. Karena memergoki kekasihnya yang sedang memperhatikan orang lain.


"Hhh... maaf juga. Aku, Aku tidak tahu, jika kalian berdua justru sudah saling mengenal sejak lama. Dan sepertinya, Aku terlalu percaya diri ya! Hehehe... sorry!"


Sekarang, justru Tarno sendiri yang merasa tidak enak hati pada kedua temannya itu. Sebab, tingkahnya yang tadi, seperti seseorang yang sedang mempertahankan miliknya. Padahal sebenarnya, dia bukan siapa-siapanya Ajeng.


Akhirnya, ketiganya bisa menyelesaikan permasalahan mereka tadi secara dewasa. Sebab, ketiganya bukan lagi anak remaja, anak-anak muda, yang mengedepankan ego masing-masing.


Meskipun di dalam hati ada sesuatu yang mengganjal, tapi setidaknya mereka bisa menekannya, untuk kenyamanan bersama.


Dan kini, mereka bisa berbincang tentang apa saja, tanpa mempermasalahkan permasalahan yang tadi.


"Jadi, sebenarnya rumah Kamu itu depan pasar kecamatan ya? Hahaha... padahal, Aku lewat terus di situ. Biasanya nunggu beberapa penumpang tidak di situ. Aneh ya, kok bisa Aku gak tahu Kamu Kadek. Hehehe..."


Tarno seakan-akan mendapatkan angin, karena ternyata, Jamal cukup tahu diri, untuk tidak mengikuti pembahasan mereka berdua. Dengan alasan sedang memberikan tanggapan, dan balasan komentar, yang ada pada channel khusus miliknya.


Jadi, Jamal permisi untuk duduk ditempat yang lain, supaya bisa berkonsentrasi melakukan pekerjaannya.


"Mas Jamal itu orangnya pekerja keras ya," puji Ajeng tanpa sadar.


Dia juga melihat ke arah Jamal, yang sedang sibuk dengan layar ponsel nya.


Hal ini membuat Tarno meliriknya, kemudian berganti melirik ke arah Jamal. Dalam hati, Tarno benar-benar a mengagumi sosok temannya itu, yang nyatanya bisa menjadi magnet untuk para wanita. Meskipun secara penampilan, dia jauh lebih stylish dibandingkan sosok jamal, yang memang sangat sederhana. Meskipun tidak bisa dikatakan lusuh. Tapi untuk ukuran seorang Bos, Jamal tetap terlihat jauh berbeda dengan kebanyakan Bos, yang biasanya mengutamakan penampilan serta gengsi.


"Kapan-kapan, Aku boleh main ke rumahmu gak?" tanya Tarno, yang mencoba untuk mengalihkan perhatian Ajeng dari Jamal.


"Oh iya, silahkan Mas. Mampir saja! Sering lewat di sana kan? Jadi, gak perlu waktu khusus juga."


Ternyata, Ajeng cukup welcome juga. Dan ini membuat tarno merasa senang, karena merasa mendapatkan lampu hijau dari Ajeng.


Tak lama kemudian, Ajeng pamit terlebih dahulu cepat dia masih ada keperluan lain.


"Aku permisi dulu mas Jamal," pamit Ajeng pada Jamal, setelah dia pamit terlebih dahulu dengan Tarno.


"Oh iya-iya. Hati-hati Ajeng," sahut Jamal, dengan mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel ke arah Ajeng. Yang masih berada di dekatnya Tarno.

__ADS_1


Hal ini membuat Jamal merasa lega. Karena dengan begitu, Tarno tidak akan kembali cemburu terhadap dirinya.


__ADS_2