Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Jangan Dengar


__ADS_3

Jamal masuk ke dalam kamar dan melihat Indah yang sedang berbaring. Tapi bukan tidur. Sepertinya Indah sedang menangis, meskipun tidak bersuara.


"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Jamal pada Indah, sambil mengelus-elus pundak istrinya yang sedang berbaring membelakangi posisinya.


"Apa Kamu ada yang dirasakan? sakit atau... Kamu ingin memakan sesuatu? bicara ya, jangan hanya diam saja. Karena Aku tidak tahu, apa yang Kamu inginkan."


Indah akhirnya membalikan badannya, setelah menyeka air mata yang tadi menetes di pipinya.


"Mas. Apakah... mas Jamal akan mencari istri lagi, seandainya Aku sudah hamil besar, atau saat melahirkan nanti? karena Aku tidak bisa melayani mas Jamal di tempat tidur seperti biasanya nanti."


Indah bertanya dengan terbata-bata, karena dia menahan sesak di dalam dadanya, saat ingat apa yang dikatakan oleh ibu-ibu tadi.


"Kenapa Kamu punya pikiran seperti itu?" tanya Jamal pura-pura tidak tahu, apa yang baru saja terjadi. Karena sebenarnya, dia sudah tahu dari cerita Umi.


Indah tidak langsung menjawab, tapi berusaha untuk duduk terlebih dahulu, agar bisa melihat bagaimana suaminya itu memberikan jawaban kepadanya.


"Aku kan sedang hamil lima bayi Mas. Perutku pasti akan sangat besar, tidak bisa melayani dengan baik. Begitu juga saat nanti Aku melahirkan, dan mengurus bayi-bayi ku. Lalu, bagaimana caranya Aku memuaskan di tempat tidur nantinya?"


Ternyata indah termakan omongan ibu-ibu tadi, yang mengusulkan agar Jamal mencari istri lagi. Karena Indah tidak akan bisa melayani Jamal dengan baik di tempat tidur, dengan kondisinya yang pastinya akan berubah juga.


Jamal meraih tubuh bisanya ke dalam pelukannya, kemudian mengecup pucuk kepala istrinya itu berkali-kali.


"Aku tidak akan mencari istri lagi, selama Kamu masih ada Sayang. Aku akan menjadikanmu satu-satunya, karena Kamu adalah satu-satunya gadis yang menerimaku tanpa syarat."


"Tapi seandainya Kamu tidak lagi mau denganku, atau mengkhianati pernikahan kita ini, barulah Aku akan mencari wanita lain. Tapi tidak untuk Aku cintai, melainkan untuk Aku pakai sebagai balas dendam, atas apa yang Kamu lakukan padaku. Ingat itu!"


Jamal justru mengungkapkan apa yang saat ini ada di dalam hatinya. Karena ternyata, dia masih ada rasa kecewa terhadap beberapa gadis, yang sudah membuatnya sakit hati di masa lalunya. Yaitu Lina dan juga Ajeng.

__ADS_1


Sebenarnya dia sudah memaafkan keduanya, tapi tentu saja dia tidak bisa melupakan kelakuan Lina dan Ajeng, yang sudah membuatnya kecewa. Jiwa lelakinya tentu saja tidak mudah menerima perlakuan tersebut.


Apalagi di saat pernikahannya kemarin, Lina juga membuat ulah, dengan memberikan syarat yang tidak pada umumnya. Seakan-akan Jamal akan mengambilnya sebagai seorang istri juga, padahal sudah memenuhi semua keinginannya. Sesuai dengan apa yang diminta Lina sebagai persyaratan yang diajukan karena dilangkahi Indah untuk menikah lebih dulu.


"Mas jika seandainya Aku pergi, Kamu harus menjaga anak-anakku ya! Aku tidak mau mereka sampai kenapa-kenapa, karena Kamu sibuk dengan para wanita, hanya untuk memuaskan dirimu saja."


"Jamal kembali mengecup pucuk kepala istrinya lagi beberapa kali, kemudian menangkupkan ke-dua tangannya pada kedua pipi istrinya.


"Sayang. Berjanjilah bawah Kamu bisa tetap sehat, dan ikut menjaga anak-anak kita nanti. Aku tidak akan membiarkan Kamu kecapean. Aku akan memberikan satu baby sister untuk satu anak, agar Kamu tidak kerepotan. Jadi, Kamu tetep bisa konsentrasi untuk melayaniku, meskipun sepanjang hari dan malam."


Jamal tersenyum meyakinkan Indah, supaya Indah juga tenang. Dia tidak mau istrinya itu khawatir, dengan apapun yang dikatakan oleh ibu-ibu yang bertamu sore ini.


"Oh ya Sayang. Kenapa tiba-tiba Kamu membicarakan tentang wanita atau menikah lagi? Kenapa?" tanya Jamal menyelidik, dengan tetap berpura-pura tidak tahu penyebabnya yang sebenarnya.


"Ga apa-apa Mas. Tapi... tadi itu ada tamu, ibu-ibu, yang ingin menawarkan anak gadisnya ataupun keponakannya, untuk menjadi istri mas Jamal. Bahkan mereka untuk menjadi istri kedua atau ketiga. Mereka rela Mas! padahal mereka tahu, kalau Aku itu istrimu. Tapi mereka tidak segan-segan mengatakannya di depanku. Aku tentu saja merasa sedih."


Jamal mengelus-elus rambut istrinya itu, untuk menenangkannya.


"Sudahlah. Kamu tidak perlu memikirkan mereka. Itu karena mereka tidak tahu, apa yang kita lakukan dan apa yang kita rasakan. Mereka hanya tahu, apa yang ada dan terlihat di luar saja."


Indah menggangguk, meskipun di dalam hatinya masih ada keraguan, seandainya Jamal tidak akan merasa puas lagi, di saat dia sudah hamil besar, atau baru saja melahirkan. Tentu itu menjadi kekhawatiran tersendiri baginya.


"Kamu tidak perlu khawatir Sayang. Tetaplah menjadi istriku yang seperti kemarin-kemarin. Dan yakinlah bahwa Aku hanya milikmu, disaat nafasmu masih ada dikandung badan."


Indah mengangguk, setelah Jamal berhasil meyakinkannya. Sekarang dia mencium pipi suaminya itu, dengan mengucapkan berterima kasih.


Cup!

__ADS_1


"Terima kasih Sayang, untuk semua cintamu


untukku."


"Kok hanya di pipi sih!" Jamal memprotes Indah, supaya menciumnya di tempat yang lain juga.


"Maaf Sayang. Ini masih terlalu sore untuk bermain-main. Kamu juga baru pulang, belum mandi," protes Indah dengan mengelengkan kepalanya.


"Apakah aku bau, sehingga Kamu tidak mau?" Jamal menggoda Indah, dengan menaikkan kedua alisnya.


Indah tidak lagi menjawab, tapi langsung membungkam mulut suaminya itu dengan bibirnya. Dia mencium bibir suaminya, supaya tidak berbicara yang macam-macam.


Akhirnya mereka melakukannya sore ini, meskipun sebenarnya Indah sudah mandi. Sedangkan Jamal baru saja datang.


Setengah jam kemudian, Jamal membopong tubuh istrinya masuk ke kamar mandi, karena harus mandi lagi bersama dengannya. Tapi pada akhirnya, mereka kembali mengulang adegan yang tadi, tapi saat ini tidak lagi di tempat tidur, melainkan di kamar mandi. Kegiatan yang sangat disukai oleh Jamal.


Setelah selesai, Jamal membopong kembali tubuh istrinya itu, yang sudah berbalut handuk ke tempat tidur.


Cup!


"Kamu selalu bisa memuaskanku Sayang, jadi Aku tidak perlu wanita yang lain. Kamu harus tahu, dan selalu ingat itu. Jadi, jangan pernah meragukan apa yang akan Aku lakukan kedepannya, meskipun banyak gadis atau wanita yang ada di depan mataku. Aku tidak akan pernah berpaling darimu. Seandainya mereka bisa mendapatkan tubuhku, itu hanyalah sebatas badanku. Tapi tidak hatiku!"


Indah cemberut mendengar perkataan Jamal, yang seperti itu. Karena seakan-akan waktu kedepannya nanti, jamal bisa berhubungan dengan wanita lain.


"Jangan pernah mendengarkan perkataan orang lain, tapi percayalah hanya kepadaku saja. Kamu mengerti?"


Indah kembali tersenyum, mendengar pernyataan suaminya, kemudian dia mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2