
[ Ding ]
[ Selamat pagi Tuan ]
[ Selamat atas keberhasilan misi malam tadi ]
'Apa Aku berhasil?'
[ Ding ]
[ Cukup sukses dengan hasil yang maksimal ]
[ Jumlah ulat penggerek 1.556.741 ]
[ Sisa waktu 15 menit ]
[ Jumlah poin hasil misi plus sisa waktu ]
'Jadi, sisa waktu yang masih ada sebelum jam lima mendapat poin juga?'
[ Ding ]
[ Benar Tuan ]
[ 1.556.741 + ( 15 × 10 ) \= 1.556.891 ]
'Jika dicairkan, apakah Aku bisa beli truk?'
[ Ding ]
[ Sangat bisa Tuan ]
[ Sistem memberikan hasil kerja maksimal ]
'Aku ingin membeli truk, untuk operasional pengiriman kentang saat panen.'
[ Ding ]
[ Silahkan gunakan poin ]
'Terima kasih Sonya.'
[ Ding ]
[ Sama-sama Tuan ]
Menjelang pagi hari, Jamal sudah menyelesaikan misi tantangan yang dua kerjakan tadi malam.
Dan hasilnya, sangat memuaskan.
Tanaman kentang berwarna miliknya bersih dari ulat-ulat penggerak, sedangkan dia sendiri, juga mendapatkan hasil dari poin misi. Yang diberikan oleh sistem bertani, dengan bernama Sonya.
Sungguh perjuangan yang sangat besar. Untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal juga atas apa yang dia usahakan.
Sekarang, waktunya Jamal pulang ke rumah. Nanti siang, dua akan pergi ke showroom mobil. Untuk melakukan pemesanan tiga buah truk, yang akan digunakan untuk transportasi kentang-kentang miliknya.
Untuk uang yang lainnya, Jamal akan gunakan untuk membantu beberapa warga desa G. Yang belum bisa bangkit dari keterpurukan pasca bencana alam yang terjadi di daerahnya ini. Termasuk dengan desa G juga.
__ADS_1
Jamal juga menjadi penyandang dana di sebuah yayasan panti asuhan daerah. Yang dikelola oleh para sukarelawan.
Dia menyadari bahwa banyak sekali anak-anak yang kehilangan orang tua karena bencana kemarin.
Sama seperti halnya Lina, yang kehilangan suami dan juga anak yang dikandungnya.
Sedangkan dirinya sendiri, juga kehilangan Ami nya. Yang pada saat itu menunggui dirinya di rumah sakit, bersama dengan istrinya, Indah.
"Mas. Selamat ya!"
Indah menyambut kedatangan Jamal di depan pintu rumah, karena dia sudah tahu dari siaran langsung yang dilakukan oleh Jamal semalam.
Meskipun dia tidak memberikan komentar atau membalas komentar apapun, dari para pengikutnya. Tapi Indah mengikuti jalannya siaran langsung Jamal hingga selesai.
"Kamu gak tidur semalam Yang?" tanya Jamal, sambil membuka jaketnya. Di bantu oleh istrinya itu.
Indah tanya tersenyum tipis, sambil menganggukkan kepalanya. Mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya.
"Anak-anak bagaimana?" tanya Jamal lagi.
Dia merasa khawatir, seandainya anak-anaknya ikut bergadang, bersama dengan mamanya semalaman.
"Gak kok Mas. Anak-anak tidur pulas di kamar masing-masing."
Sejak kedua rumah Jamal jadi, anak-anaknya memang sudah dibuatkan kamar untuk masing-masing satu anak satu kamar.
Tapi kadang kala, mereka masih ingin tidur bersama-sama. Atau tidur di tidur di rumah ibunya, yaitu Lina.
Jamal merasa tenang, setelah mendapatkan jawaban dari isterinya. Mengenai anak-anak mereka.
"Mas Jamal," panggil Lina, yang berjalan dari rumahnya, menuju ke rumahnya Indah. Untuk menemui suaminya Jamal.
"Ya Lin, ada apa?" tanya Jamal, melihat ke arah kedatangan istri keduanya itu.
"Mas Jamal kenapa? kok semalam gak ke rumah," gerutu Lina, sambil melihat ke arah adiknya. Dengan tatapan mata tajam.
Indah, yang merasa tidak ada apa-apa dari pertanyaan yang diajukan oleh kakaknya, justru tersenyum tipis.
Dan senyuman Indah ini, justru di salah artikan oleh Lina.
Dia mengira bahwa, Indah mengejeknya. Sebab jamal tidak datang padanya semalam.
Lina beranggapan bahwa, Indah merasa lebih unggul dan menang, jika dibandingkan dengan dirinya.
"Apa Kamu, yang melarang mas Jamal datang ke rumahku Dek?" tanya Lina ketus.
Indah mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh kakaknya itu. Apalagi, dia juga tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan tersebut.
Tapi Jamal, sebagai seorang laki-laki yang punya dua istri. Langsung paham, dengan perkataan Lina yang sedang salah paham.
Istri keduanya itu, sedang dalam keadaan cemburu pada istri pertamanya. Yang merupakan adik dari istri keduanya.
"Lin. Kamu salah paham," ujar Jamal, mencoba menenangkan Lina.
"Apa salah paham Mas? Ini sudah terbukti Mas Jamal di rumah ini. Padahal harusnya Mas Jamal ada rumahku!" terang Lina kesal.
Dia merasa jika, suaminya itu sedang mencari alasan, agar Indah tidak disalahkan olehnya.
__ADS_1
Lina cemburu buta, karena melihat Jamal yang sedang bersama Indah pagi-pagi sekali. Padahal sebenarnya, malam ini adalah gilirannya Lina bersama dengan Jamal. Suami mereka berdua.
"Mbak. Mas Jamal..."
"Apa Dek? Kamu melarang mas Jamal ke rumahku ya? kamu sudah mulai mengatur-atur dan mengekang mas Jamal kan? Kamu ingin menguasai dia sendiri kan!"
Lina pemotong kalimat Indah yang belum selesai. Dan Jamal, yang mau menenangkan Lina, kalah dengan suara Lina yang sangat kencang. Bahkan, ada beberapa tetangga, yang mau berangkat ke pasar pagi-pagi, menyempatkan waktu untuk berhenti sebentar. Demi melihat keadaan mereka bertiga.
Akhirnya, Jamal menarik tangan Indah, untuk diajak masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Lina sendiri, masih marah-marah mengikuti mereka dari arah belakang. Sifat lamanya yang egois, mulai muncul lagi.
Dan Jamal, tidak menyukai sifat Lina yang ini.
"Mas, semalam Indah sudah mengingatkan Mas Jamal, untuk pamit pada mbak Lina terlebih dahulu sebelum pergi ke lahan kentang. Sekarang, mbak Lina jadi berpikir bahwa Indah..."
"Udah Yang. Biarkan saja dia dengan rasa egoisnya. Seharusnya, Lina itu bisa bicara dan bertanya dengan baik-baik. Tidak harus seperti tadi!"
Jamal pemotong perkataan Indah, dan Jamal juga meminta pada istri pertamanya itu untuk tidak menanggapinya.
"Mas. Tega sekali Kamu Mas!"
"Dan Kamu Dek! Mbak tidak pernah menyangka, jika Kamu bisa pembuat seperti itu padaku. Padahal, apa yang tidak Aku lakukan untukmu? Aku sudah mengalah untuk menjaga anak-anakmu, saat Kamu pergi bersama mas Jamal sehari-harinya."
Ternyata, Lina mendengar semua perbincangan mereka berdua. Sehingga dia semakin salah paham, dengan pernyataan Indah yang belum selesai dia ucapkan.
Lina berpikir bahwa, Indah meminta pada Jamal untuk ijin kepadanya. Karena malam tadi, Jamal tidak bisa ke rumahnya Lina. Dikarenakan harus menemani Indah yang sedang tidak mau ditinggal.
"Mbak. Mbak Lina salah paham."
Indah berusaha untuk menyadarkan kakaknya itu, supaya tidak semakin salah paham terhadap dirinya.
"Mas. Tolong jelasin pada mbak Lina," pinta Indah pada Jamal. Supaya suaminya itu mau memberikan pengertian kepada istri keduanya.
Tapi Jamal tidak mau menangganinya. Jamal justru berjalan masuk ke dalam kamarnya bersama dengan Indah. Untuk membersihkan dirinya. Sebab dia baru saja pulang dari lahan kentang, karena harus pembasmi hama ulat.
Sikap Jamal ini, membuat Lina semakin merasa yakin bahwa, dirinya sudah tidak diperhitungkan lagi di keluarga adik dan suaminya.
Dia merasa tersisihkan.
Padahal sebenarnya, dia sendiri yang sudah membuat masalah. Karena dia tidak mau membicarakan hal itu secara baik-baik. Tapi justru sudah marah-marah, dengan mengedepankan egoisnya sendiri.
Akhirnya, Lina pulang ke rumahnya sendiri tanpa pamit pada adiknya.
"Mbak-mbak! Mbak Lina!"
Lina tidak menghiraukan panggilan Indah, yang sebenarnya ingin memberikan penjelasan kepadanya. Supaya masalah ini tidak berlarut-larut.
Tapi Lina udah terlanjur marah, tidak mau mendengarkan penjelasan dari adiknya.
*****
Siang harinya, Jamal benar-benar melaksanakan rencananya tadi pagi, yang ingin pergi ke showroom mobil untuk memesan truk.
Dia pamit pada Indah, yang sedang menyuapi potongan buah mangga pada anaknya. "Yang. Aku pergi dulu ya!"
"Ke mana Mas?" tanya Indah, yang melihat penampilan Jamal sudah rapi.
__ADS_1
"Mau ke yayasan sebentar, terus mau lihat-lihat truk di showroom."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu, Indah tersenyum lebar. Dia merasa senang, karena dia yakin bahwa, suaminya itu mendapatkan hadiah yang banyak dari sistem. Sehingga mau memesan truk. Dan indah juga yakin, jika Jamal pasti memesan lebih dari satu truk. Untuk kelancaran usahanya mereka, dalam pengiriman hasil panen kentang.