
Satu minggu sudah Jamal dan Indah berada di Bali, untuk bulan madu. Selain bercinta dan berada di dalam kamar, mereka pun berjalan-jalan ke beberapa tempat yang memang terkenal eksotis di sana. Menikmati keindahan alam Bali yang terkenal di seluruh penjuru dunia.
Pagi ini adalah jadwalnya mereka untuk pulang kembali ke rumah.
Sebenarnya Jamal masih betah berada di Bali bersama dengan isterinya. Tapi dia juga tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya, atas semua pekerjaan yang ada di rumah.
Meskipun ada orang-orang, pekerja dan juga Hendra, yang sekarang ini menjadi orang kepercayaannya serta Umi, yang akan membantu. Tapi dia juga tidak bisa seenaknya saja..
Setelah selesai berkemas, Jamal yang tadi sudah memesan mobil untuk mengantarkan mereka dari hotel ke bandara, mengajak Indah untuk menunggu di lobby hotel saja.
Tapi ternyata mobil tersebut sudah siap berada di depan lobby, begitu mereka datang. Sehingga mereka berdua tidak perlu menunggu lagi.
Perjalanan pulang yang menyenangkan, karena mereka berdua masih bisa melihat, bagaimana keadaan pagi hari dari hotel ke bandara.
Udara yang sejuk dan segar membuat Jamal meminta pada sang supir untuk mematikan AC saja. Agar dia bisa membuka pintu mobil dan menikmati udaranya.
Tapi di saat mereka hampir sampai di bandara, dia melihat seseorang yang sangat ia kenal sebelumnya.
"Itu sepertinya Ajeng. Tapi ngapain dia ada di sini?" gumam Jamal tidak jelas, sehingga membuat Indah menoleh ke arahnya.
"Ada apa Mas?" tanya Indah pada suaminya yang melihat ke arah luar dengan mata memicing.
Indah akhirnya mengikuti arah pandangan suaminya, yang melihat ke satu arah di luar sana.
Dia juga kaget, saat melihat Ajeng duduk di tepi jalan. Lebih tepatnya di sebuah halte.
"Ajeng kan itu Mas?" tanya Indah pada Jamal.
"Iya, itu Ajeng. Tapi ngapain dia di sini? bukannya dia barusan dilamar Hendra ya, kok tidak ada kabar dari Hendra juga sih, setelah lamaran. Kenapa malah Ajeng ada di sini?" tanya Jamal, yang tentu saja tidak bisa dijawab oleh istrinya juga.
"Pak, maaf Pak. Tolong berhenti di sebentar ya Pak!"
Jamal meminta supir untuk menghentikan mobilnya sebentar. Dia ingin menghubungi Hendra terlebih dahulu, karena ingin tahu kejelasan dari Ajeng yang saat ini justru sedang berada di Bali.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
..."Ya halo Mal, sudah berangkat? perkiraan jadwalnya sampai bandara di kota ini jam berapa, biar Aku siap-siap." ...
... "Bagaimana kabarnya di sana? Apa semuanya aman?" ...
..."Lancar Bos. Hehehe... bagaimana bulan madunya?"...
__ADS_1
..."Oh ya, bagaimana lamaran kemarin, lancar kan Hen?" ...
Keduanya saling berbincang, tapi kadang tidak nyambung karena seperti sengaja mengalihkan perhatian. Hingga akhirnya Hendra menjawab pertanyaan dari Jamal dengan suara yang berat.
..."Sepertinya Aku bernasib lebih sial dibandingkan dengan Kamu sewaktu melamar Ajeng." ...
..."Maksudnya?" ...
..."Ajeng kabur dari rumah. Dia tidak mau Aku lamar, sehingga dia meninggalkan rumahnya. Papa dan mamanya juga tidak tahu."...
..."Kok bisa begitu Hen?" ...
Akhirnya Hendra menceritakan malam kejadian, di mana dia melamar Ajeng. Tapi kenyataannya Ajeng telah pergi dari rumah.
Jamal menghela nafas panjang, kemudian menoleh ke arah istrinya.
Indah hanya mengganggu mengiyakan, jika suaminya mempunyai rencananya sendiri saat ini.
Akhirnya Jamal kembali bertanya pada Hendra melalui telpon.
..."Jika Aku bisa membawa Ajeng pulang, apakah Kamu masih ingin menikah dengannya Hen?"...
..."Gak ah, males Aku. Ngapain juga Aku mau menikah dengan gadis kayak gitu!"...
..."Oh begitu, baiklah."...
..."Hemmm... sepertinya tebakan mu benar Hen. Aku melihat Ajeng. Dia duduk di trotoar. Bukan, maksudnya di halte."...
...Udah biarin aja. Dia di Bali sana, atau tidak bukan urusanku! pulang saja Kamu, salam buat Indah ya!" ...
Klik!
Jamal menghela nafas panjang, setelah telpon tersebut ditutup oleh Hendra.
"Kita jalan lagi Pak. Terima kasih," pinta Jamal pada supir, sambil melihat Ajeng sekali lagi.
Di tempat duduknya, yang ada di pinggir jalan, Ajeng merasa seperti sedang diperhatikan oleh seseorang, sehingga dia melihat ke arah sekelilingnya.
Tapi jalanan yang tidak begitu ramai ternyata membuatnya tersenyum kecut. Karena dia tidak menemukan siapa-siapa yang dia kenal di Bali sini.
Ajeng bingung dengan tujuannya sekarang ini. Karena sebenarnya, dia pergi ke Bali untuk bertemu dengan temannya. Dia ingin meminta pekerjaan di Bali sana temannya itu.
Sayangnya, temannya itu justru baru saja pulang ke jawa, dan dia tidak tahu kepulangan temannya itu. Sehingga dia pun harus menggelandang sendiri di Bali tanpa tujuan yang jelas.
__ADS_1
Bahkan uangnya sudah menipis, hanya bisa digunakan untuk beli tiket pesawat, jika dia berniat untuk pulang.
Tapi nyatanya dia justru bertahan hari lagi. Meskipun tidak ada tempat untuk tinggal. Karena kunci kost milik temannya, ikut di bawa pulang sama temannya.
"Aku sebaiknya bagaimana ini? mau pulang atau menunggu temanku?" tanya Ajeng dengan bergumam seorang diri di halte.
Akhirnya Ajeng kembali menelpon temannya, untuk memastikan kapan dia akan kembali ke Bali dan menemui dirinya.
Sayangnya selesai menghubungi temannya, Ajeng justru terisak, sedih karena temannya itu baru akan kembali bulan depan. Sebabkan ibunya baru saja meninggal dunia tadi malam. Sehingga harus berada di kampung dalam waktu yang cukup lama lagi.
*****
Sore hari jamal tiba di rumah. Dia dan Indah mengunakan mobil sewaan yang ada di bandara, karena sengaja melarang Hendra untuk menjemputnya.
"Assalamualaikum..."
"Assalamualaikum Ami."
Jamal dan Indah sama-sama mengucapkan salam sewaktu turun dari mobil, karena Umi sudah ada di teras depan.
"Waallaikumsalam..."
Umi menjawab salam anak dan menantunya itu, dengan tersenyum senang. Karena akhirnya melihat keduanya datang kembali ke rumah ini.
"Jamal, Indah. Alhamdulillah... kalian sudah pulang. Bagaimana bulan madunya?" tanya Umi dengan antusias.
Jamal sama Indah sama-sama menyalami tangan Umi, dan mengucapkan syukur. Karena selamat sampai di rumah juga.
"Lancar Ami bulan madunya, meskipun Indah sempet sakit kemarin, pas dua hari di sana. Tapi gak papa kok, langsung sehat lagi," jawab jamal memberitahu.
"Apa, Indah sakit?" tanya Umi kaget, dengan memeriksa sekujur tubuh menantunya itu.
"Ini pasti Kamu yang kebanyakan ya Mal, atau Kamu mainnya kasar?" tanya Umi lagi, dengan menuduh anaknya sewot.
Plak plak!
Apalagi, Umi juga memukuli lengannya Jamal.
'Aduhhh... Ami sakit! bukan begitu juga, hehehe... tapi coba tanya sama Indah, bagaimana cara Jamal... eh ups..."
Indah menutup mulut Jamal agar tidak bicara apa-apa soal kegiatan mereka berdua di dalam kamar.
Tapi Jamal tidak terima, karena Ami nya menuduh dirinya. Dengan memperlakukan Indah dengan tidak baik.
__ADS_1
"Gak Ami, Indah hanya indah kecapekan saja karena perjalanan yang jauh. Tapi itu juga cuma beberapa jam saja kok," sahut Indah membela suaminya.
"Awas aja Kamu menyakiti Indah, Ami gak akan memaafkan Kamu Mal!" ancam Umi dengan menatap tajam anaknya yang sedang cengengesan.