
"Apa Kamu sudah tidur?"
Jamal langsung masuk ke dalam kamarnya Lina, tidak menunggu dipersilahkan untuk masuk oleh istrinya itu.
Lina menutup pintu kamarnya pelan, karena Jamal sudah masuk tanpa meminta ijin dan persetujuannya terlebih dahulu. Dia masih terdiam dan tidak bertanya pada suaminya itu, dengan tangan yang saling bertautan, karena merasa cemas.
Jamal duduk di pinggir tempat tidur, menunggu Lina datang mendekat kepadanya.
Tapi ternyata, Lina hanya berdiri saja. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh jamal kali ini.
Dengan cemas, Lina menggigiti bibirnya sendiri. Karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan, karena dia merasa canggung. Dengan semua yang ada dalam pikirannya.
Puk-puk!
"Lin. Sini, duduklah!"
Jamal menepuk-nepuk pinggir tempat tidur, yang ada di sampingnya. Supaya Lina duduk ditempat tersebut.
Dengan masih mengigiti bibirnya sendiri, Lina menuruti permintaan Jamal. Dia duduk di pinggir tempat tidur, yang tadi di minta suaminya itu.
"Aku minta maaf Lin. Jika selama ini, sikapku tidak bisa membuatmu bahagia." Lina menunduk, mendengarkan semua perkataan yang diucapkan oleh suaminya.
"Aku... Aku akan berusaha untuk bisa adil sebagaimana mestinya, Aku harus memperlakukan istriku."
Lina masih terdiam, dan tidak bisa bicara apa-apa. Karena sebenarnya, dia tidak pernah menganggap bahwa, dirinya dikecualikan oleh jamal.
Dia justru merasa bersyukur karena Jamal, sudah mau menjadikan dia sebagai istri. Meskipun hanya istri kedua, dan berstatus sebagai istri siri.
"Lin. Kamu bisa kan, menerima semua kekurangan dan kelemahan yang Aku miliki?"
Jamal akhirnya mengajukan pertanyaan, supaya istrinya itu tidak hanya diam saja sedari tadi. Dia ingin tahu, apa yang dirasakan oleh Lina, selama kakak dari istri pertamanya itu menjadi istrinya juga.
"Mas. Maaf sebelumnya. Lina tidak pernah merasa mas Jamal punya kekurangan sebagai seorang suami. Lina justru merasa bersyukur, karena Mas Jamal sudah mau menerima Lina yang banyak kekurangannya."
Mendengar perkataan Lina, Jamal tersenyum tipis. Dia merasa lega, karena Lina benar-benar sudah berubah menjadi sosok yang berbeda, dari Lina yang dia kenal dulu.
Sekarang, Jamal menggenggam kedua tangan istrinya itu Kemudian mencium punggung tangan tersebut.
"Terima kasih Lin. Tapi maaf ya, jika Aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan Sayang? sebab itu sudah menjadi panggilan khusus untuk Indah. Kamu tidak apa-apa kan?"
Lina mendongak menatap ke arah suaminya. Dia sebenarnya merasa iri juga, karena Jamal tidak mau memanggil dengan sebutan Sayang. Tapi dia juga tahu, jika Jamal melakukan panggilan yang sama untuk kedua istrinya, dengan sebutan Sayang. Suatu saat nanti, mungkin akan keliru dan ada salah paham. Yang bisa mengakibatkan pertengkaran diantara mereka bertiga.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mas. Lina memaklumi kok. Tapi jika bisa, tolong panggil Lina dengan sebutan Ibu Mas. Ini untuk mengajarkan kepada anak-anak, supaya tetap memanggil Lina dengan sebutan Ibu."
Dengan cepat, Jamal mengangguk setuju, kemudian menarik kedua tangan Lina. Supaya tubuh istrinya itu mendekat ke arahnya.
Grep!
Akhirnya Jamal memeluk Lina dengan perasaan yang lega. Karena apa yang mengganjal dalam hatinya kini bisa diselesaikan dengan baik.
Cup!
Cup!
Dia juga mengecup kening istrinya itu beberapa kali, yang saat ini masih ada di dalam pelukannya.
Lina memejamkan matanya, meresapi setiap rasa yang berbeda di dalam hatinya. Rasa hangat yang menjalar di hatinya, terasa berbeda dengan yang dulu dia rasakan. Di saat dia punya rasa pada Jamal di masa lalu.
"Hiks hiks... terima kasih Mas..."
Lina tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena Jamal sudah mencium bibirnya. Meluapkan rasa yang ada pada hatinya.
Dan apa yang mereka lakukan bersama-sama saat ini, rasanya sungguh berbeda dengan yang kemarin-kemarin.
Mereka berdua, menikmati setiap sentuhan dan kehangatan yang mereka ciptakan. Tanpa adanya pengaruh dari sistem, yang menguasai Jamal maupun Lina sendiri.
*****
Dia ingin melihat keadaan istri pertamanya, yang tadi dia tinggalkan sendirian di kamar.
Clek!
Pintu kamar terbuka. Indah masih tidur, dengan memeluk guling.
Sekarang, Jamal naik ke atas tempat tidur. Mengantikan posisi guling yang sedang dipeluk oleh istrinya.
Cup!
Jamal mengecup kening istri pertamanya, sambil mengusap-usap rambutnya juga.
Dia tersenyum bahagia, karena selama ini, Indah sudah mau menerima keadaan dirinya sedari dulu. Tanpa persyaratan apapun.
Sekarang, bibir Jamal mulai menyentuh pipi dan bibir istrinya yang masih ada dalam posisi tidur. Namun lama-lama, bibirnya Jamal menelusuri bagian tubuh istrinya yang lain. Dari mulai bibir, leher dan terus turun ke bawah.
__ADS_1
Indah mulai menggeliat, merasakan sentuhan-sentuhan bibir suaminya.
Pada akhirnya, Indah tersadar dan membuka matanya perlahan-lahan.
"Mas... mas Jamal sudah balik?" Jamal menghentikan aktifitasnya sejenak, karena mendengar pertanyaan dari Indah.
"Tahu tahu, jika Aku keluar dari kamar?" Jamal justru balik bertanya, dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh istrinya tadi.
Sekarang dia mulai berpikir bahwa, Indah mengetahui apa yang tadi dia lakukan.
"Tadi Indah terbangun Mas. Dan Indah tidak melihat keberadaan mas Jamal. Jadi Indah berpikir, jika mas Jamal pergi ke kamarnya mbak Lina."
Deg!
Jamal terkejut mendengar perkataan Indah. Dia takut jika, istri pertamanya itu akan marah, karena merasa terabaikan.
Apalagi, tadi dia pergi tanpa memberitahu pada Indah terlebih dahulu.
"Maaf Yang. Apa... apa Kamu marah?" Jamal berpikir jika Indah, marah padanya. Sebab ditinggal pergi ke kamarnya Lina.
"Marah? Indah gak marah Mas. Kenapa mesti marah sih? Indah justru merasa senang, karena akhirnya mas Jamal bisa memperlakukan mbak Lina, sama seperti perlakuan mas Jamal pada Indah juga."
Cup!
"Terima kasih Sayang. Maaf ya, sebab Aku pergi ke sana, tanpa pamit padamu terlebih dahulu." Jamal mengucapkan permintaan maafnya sekali lagi, setelah selesai mengecup bibir Indah.
Cup!
Sekarang, Indah membalas kecupan suaminya itu, sambil tersenyum bahagia. Dan tidak perlu diceritakan kelanjutan, dari apa yang mereka lakukan setelah itu.
*****
Di planet XMoon.
Sonya datang ke rumah Jamal, yang ada di depan rumahnya, dengan wajah yang bersinar terang. Menggambarkan bagaimana keadaan hatinya saat ini.
Dia tahu, jika malam ini, Jamal tidak datang ke rumahnya yang ada di planet XMoon, untuk menemui dirinya.
Tapi dia cukup senang, atas perubahan yang ada pada kekasih sistemnya itu.
Kini, dia naik ke atap rumah ini, membantu menyiram kentang-kentang yang tumbuh subur, meskipun Jamal tidak rutin datang dan merawat tanamannya.
__ADS_1
Tapi, apa yang dilakukan Jamal di dunianya sendiri, sudah maju dengan pesat.
Apalagi, usaha Jamal juga dibarengi dengan peningkatan Chanel yang dikelolanya, bersama dengan Indah. Untuk kepentingan usahanya di bidang pertanian.