Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Omongan Orang


__ADS_3

Hari ini, mesin-mesin yang dipesan oleh jamal untuk lahan jagung, baru saja datang. Tapi dia tidak langsung menerimanya di rumah. Sebab itu akan memakan tempat. Jadi Jamal memintanya untuk membawa ke gudang penggilingan padi saja. Yang ada gudangnya lebih besar, sehingga dia mengajak petugas yang mengangkut mesin-mesin tersebut, langsung ke penggilingan padi saja.


Orang-orang yang ada di sekitar rumahnya, akhirnya membicarakan Jamal lagi. Karena mereka juga baru tahu, kalau Jamal baru saja membeli beberapa puluh hektar lahan, di kampung sebelah, yang akan digunakan untuk lahan jagung.


Tentu saja mereka semakin heboh dengan kekayaan yang diperoleh Jamal sekarang.


"Apa karena dia sudah punya segalanya ya, jadi dia justru semakin sukses?" tanya salah satu dari tetangganya.


"Maksudnya?" tanya yang lainnya.


"Kan ada yang bilang, orang kaya semakin kaya, yang sukses semakin sukses."


Mereka semua heran, karena pada kenyataannya, Jamal terus menerus membeli lahan, untuk bisa mengembangkan usahanya.


"Iya itu. Aku juga dengar, dia juga mempromosikan usahanya itu, dengan cara online. Dia sudah punya aplikasi sendiri, yang dikerjakan orang lain. Tapi gak tau di mana. Soalnya bukan Indah lagi. Indah sedang hamil, jadi disuruh diam-diam saja dia di rumah."


"Oh ya? memangnya kantornya itu ada di mana?" tanya mereka, yang tidak tahu di mana kantor resminya Jamal.


"Orangnya tidak dipekerjakan di sini. Tapi orang jauh! ibaratnya itu cuma sekedar promosi, terus apa ya... emhhh... kayak endros, apa endros itu lho, yang lagi pada viral di TV!"


"Oh, jadi ada orang yang membuat iklan tersendiri, tapi gak tahu di mana. Terus promosi, padahal produksi barang ada di sini. Begitu ya?"


"Seperti itulah kira-kira. Sekarang kecanggihan teknologi bisa mempromosikan apa saja, meskipun tidak ditempat itu juga. Jadi siap kirim kapan saja, seandainya ada orang yang memesan."


"Kita wajib bersyukur, karena sudah ada penggilingan padi besar dan canggih punya Jamal. Jadi meskipun panen pada musim hujan, kita tidak kesulitan untuk menjemur, karena ada tempat menjemur dan pengering canggih di pengilingan tersebut."


"Iya benar. Kita juga bisa menjualnya ke Jamal ataupun pembeli yang lain, yang mau beli dengan harga tinggi. Dan Jamal tidak memaksa harus dijual kepadanya."


"Makanya dia itu selain sukses untuk dirinya sendiri, dia juga mau menolong orang-orang disekitarnya. Dia tidak menyulitkan kita, untuk menjual hasil panen kita padanya. Kita diberinya kebebasan untuk menjualnya kepada siapa daja yang kita mau."


"Bener itu! dia tidak pernah memaksa seseorang untuk menjual hasil panen harus kepadanya. Padahal bisa saja dia memaksa. Apalagi dia lebih dekat dengan kita. Nyatanya, dia tidak melarang jika ada pembeli luar yang menawar. Dia baru membeli, jika kita yang datang mencari. Dan dia juga tidak pernah menekan harga rendah."

__ADS_1


"Betul itu! kalau kita menjualnya ke orang lain, dia tidak dendam. Meskipun kita sering membuatnya kerepotan membantu kita-kita. Seharusnya sih, kita yang sungkan ya padanya. Soalnya kita membutuhkan dia."


"Bener. Apalagi dia juga tidak pernah mempermainkan harga. Dia selalu memberi harga yang terbaik untuk sesama petani."


"Ya pantes aja dia sukses ya! Soalnya dia tidak mengecewakan orang-orang. Jadi orang-orang banyak yang mendoakan, supaya dia tetap sehat, dan diberikan kesempatan untuk tetap sukses, sehingga bisa tetap membantu sesamanya."


"Oh ya, dengar-dengar istrinya itu juga hamil. Dan anaknya itu kembar Lima lho!"


"Ah yang bener? hebat dong itu Jamal dan Indah. Tapi... Aku masih lihat Indah ikut beraktivitas di kebun jeruk."


"Iya itu. Aku juga pernah lihat, dia membantu yang lainnya, setelah mengajari si Wati. Anaknya kang Wahid."


"Benar-benar pasangan yang hebat dan baik. Semoga saja tidak ada perusak ya."


"Maksudnya perusak apa ini?"


"Tahu sendiri kan Kamu, biasanya itu, kalau laki-laki sukses godaannya apa sih? uang kekuasaan, wanita!"


"Seandainya Indah berbesar hati, mengijinkan Jamal untuk mencari istri lagi, Aku mau itu anakku, jadi istrinya Jamal. Yang keberapa juga gak apa-apalah."


"Maksudnya anakmu mau Kamu jadikan orang ketiga? Pelakor gitu?"


"Ya gak gitu juga!"


"Gk gitu juga bagaimana? itu tadi sudah jelas-jelas diminta jadi ke dua atau tiga, itu merusak hubungan mereka. Itu sama saja, mendoakan yang tidak baik dan menyulitkan anak Kamu sendiri pada posisi pelakor!"


"Ya manusiawi sih. Aku hanya ingin, anakku bisa seperti Indah. Maksudnya hidupnya itu kecukupan, begitu lho!"


"Ini nih mental orang tua yang tidak bagus untuk anaknya. Nanti jika anaknya jadi pelakor, terus diomongin orang marah pada orang tersebut. Tapi diri sendiri mengarahkan anaknya ke sana!"


"Misal ini ya, suami Kamu ini nih, punya istri lain atau wanita lain, yang tidak Kamu tahu. Pastinya Kamu melabrak dan menjambak wanita kedua suami Kamu itu kan?"

__ADS_1


Ibu tersebut, yang ternyata kemarin ikut datang ke rumahnya Jamal, sekarang menunduk malu. Dan di dalam hatinya, membenarkan apa yang dikatakan oleh orang yang ada di sebelahnya saat ini.


"Iya. Kadang-kadang manusia kan memang seperti itu. Kita mencari yang terbaik, tapi tidak mau mengembalikannya pada posisi diri kita sendiri. Seandainya kita ada di posisi mereka. Itukan memang keegoisan kita."


"Bagus itu kalau Kamu sadar. Jangan sampai apa yang Kamu katakan tadi, malah larinya ke diri Kamu sendiri. Misal ini ya, anak perempuanmu itu menikah, kemudian suaminya mempunyai perempuan lagi, atau suamimu ternyata selama ini sudah punya istri lainnnya. Hayo bagaimana?"


"Haduhhh... kok Aku yang dipojokkan ini!"


"Makanya, kalau punya keinginan yang wajar-wajar saja."


"Iya-iya maaf, Aku yang salah."


"Ya pastilah Kamu yang salah! kesuksesan orang lain itu, harusnya dijadikan motivasi, bukan dijadikan ladang keburukan atau iri hati. Nanti justru kita yang semakin sakit hati, di saat orang tersebut semakin hebat."


"Kita seharusnya bisa bekerja lebih giat, biar sukses seperti Jamal. Bukannya kita iri atau ingin merusak kebahagiaan mereka!"


Ibu itu akhirnya mengaku setuju, dan dia juga mengaku salah dalam hatinya. Dan dia berjanji tidak akan melakukannya lagi.


*****


Di dalam kamarnya, Indah sedang menerima panggilan telpon dari kakaknya, Lina.


..."Ya Mbak Lina. Ada apa?" ...


..."Itu, selamatan empat bulan keponakanku kapan?" ...


..."Dua minggu lagi Mbak. Kenapa memangnya mbak Lina?" ...


..."Aku mau, Kamu bikin pesta yang meriah. Soalnya ini kan kehamilan Kamu yang pertama. Apalagi ada lima anak." ...


..."Apa hubungannya Mbak?" ...

__ADS_1


..."Pokoknya ikuti saja apa yang Aku katakan! Pasti akan berkesan kok." ...


__ADS_2