
Jamal sudah tiba di pusat kota, pada siang hari. Sekitar pukul 12.30 siang.
Dia tidak langsung menuju ke showroom mobil. Karena lebih memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, sebelum mendatangi showroom mobil yang dia inginkan. Sebab, di pusat kota seperti ini, showroom mobil ada banyak dan berjejer.
"Pesan apa ini ya?"
Jamal bingung dengan menu makanan yang ingin dia pesan. Sebab, ada banyak pilihan lauk yang membuatnya berselera semua.
Akhirnya, Jamal memilih untuk memesan bebek goreng saja. Sebab, itu terlihat lebih menggiurkan, untuk bisa dinikmati siang ini.
Di tengah-tengah acara makan siangnya, Jamal dikagetkan dengan kedatangan Ajeng.
"Mas Jamal?"
Ajeng justru menegurnya terlebih dahulu, sebelum dia sempat menegur Ajeng. Yang ternyata tidak datang sendirian. Tapi ada Tarno yang baru saja masuk ke rumah makan ini, dengan wajah yang sama kagetnya.
Ternyata, mereka berdua baru saja bertemu, kemudian mampir ke warung ini untuk makan siang bersama.
"Jamal," sapa Tarno bingung.
Tarno melihat Ajeng, yang sedang berdiri di samping tempat duduknya Jamal. Dan belum juga mencari tempat duduk.
"Eh No, ayo sini gabung aja kalian berdua!"
Jamal meminta pada Ajeng dan juga Tarno, supaya ikut makan bersama dengannya. Di meja yang sama juga. Meskipun dia tidak yakin, jika keduanya mau menerima tawarannya tadi.
"Emhhh... jika kalian tidak mau tidak apa-apa kok. Anggap saja Aku tidak pernah mengajak, hehehe..."
Tarno dan Ajeng saling pandang.
Sebenarnya, Tarno tidak suka dengan adanya Jamal, yang bisa mengganggu urusannya dengan Ajeng nanti. Sebab, dia sudah berusaha mati-matian untuk meyakinkan Ajeng, supaya mau ikut bisa ikut bersama dengannya hari ini.
Tapi Ajeng justru melihat ke arah Jamal terus, seakan-akan berharap agar ajakan Jamal tadi memang benar. Dan bukan hanya sekedar basa-basi saja.
Akhirnya Tarno dan Ajeng belum juga menentukan mau duduk di mana, sehingga masih berdiri di antara Jamal.
Hal ini membuat Jamal merasa tidak enak hati pada teman dan juga tetangganya sendiri, yaitu Tarno. Yang dia tahu jika, Tarno sedang melakukan pendekatan pada Ajeng.
Karena keduanya tidak segera menentukan pilihan dan memberikan jawaban, akhirnya Jamal yang mengalah untuk berdiri, pindah ke tempat lain.
"Silahkan duduk, jika kalian mau duduk di meja sebelah sini. Silahkan-silahkan, Aku bisa pindah kok mari-mari!"
Akhirnya, Jamal benar-benar berdiri dari tempat duduknya. Kemudian mencari tempat duduk di meja lainnya yang masih kosong.
Tentu saja apa yang dilakukan oleh Jamal ini, justru membuat Tarno maupun Ajeng merasa bersalah dan salah tingkah. Karena mereka berdua, secara tidak langsung, sudah membuat jamal tidak nyaman untuk makan di tempat ini.
Akhirnya, Tarno dan Ajeng berjalan lagi mendekat ke tempatnya Jamal duduk.
__ADS_1
Ini juga membuat Jamal merasa heran, sehingga melihat mereka berdua secara bergantian. Untuk meminta penjelasan. Sebab, dia sudah merasa cukup mengalah dan mengerti keadaan mereka berdua.
"Maaf Mal. Kamu gak perlu menjauhi kita kok. Kita bisa makan di sini bertiga, ngapain Kamu cari tempat lain?"
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Tarno, Ajeng menganggukan kepalanya. Mengiyakan perkataan dari laki-laki yang sedang mengajaknya kencan.
Jamal hanya bisa meringis, mendengar perkataan Tarno yang membuat Jamal justru merasa canggung.
Tapi dia berusaha untuk menenangkan diri, dengan menerima keduanya. Untuk duduk di meja makan yang sama dengan dirinya juga.
Akhirnya, Tarno dan Ajeng membuat pesanan yang sama, seperti yang di pesan Jamal juga.
"Kamu sendirian ke sini, ada urusan apa Mal?" tanya Tarno, dengan membuka percakapan.
"Ada urusan dikit. Ini mampir makan aja ngisi perut," terang Jamal, tanpa memberitahukan tentang urusan yang sedang dilakukannya di pusat kota.
Tarno mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Jamal. Meskipun sebenarnya penjelasan itu tidak bisa disebut sebagai penjelasan, karena masih mengandung tanda tanya.
Ajeng, hanya diam mendengarkan saja. Dia tidak mau ikut campur urusan mereka berdua, yang membicarakan hal yang tidak dia ketahui.
Tak lama kemudian, bebek goreng pesanan mereka bertiga sudah datang. Sehingga perbincangan mereka berhenti sejenak, untuk menerima pesanan tersebut. Selajutnya, mereka berbincang sesekali saja, karena sedang menikmati makan siang.
Setelah selesai makan, Jamal pamit terlebih dahulu. Karena harus menyelesaikan urusannya yang belum dia selesaikan.
"Aku pamit duluan ya! Kalian teruskan saja makannya, tidak apa-apa. Aku pergi duluan karena harus buru-buru. Kalau tidak, urusanku justru gak selesai-selesai nanti."
Tapi Ajeng juga tidak bisa mengatakan keinginannya, sebab dia ke sini memang bersama dengan Tarno. Dan bukan bersama dengan Jamal.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Jamal benar-benar pergi dari rumah makan tersebut, tanpa menolehkan kepalanya lagi. Untuk melihat berdua orang yang masih ada di dalam sana.
Dia akan melanjutkan rencananya, untuk pergi ke showroom mobil.
Jamal akhirnya menuju ke sebuah showroom mobil yang cukup besar, dan juga terlihat mewah dari luar.
Dan benar saja, showroom tersebut memang benar-benar luas dan rapi, setelah tiba di dalam bangunan showroom. Ini membuat Jamal terkagum-kagum, bahkan sejak dia masih berada di tempat parkir.
"Wahhh gede banget, mewah lagi. Pasti, mobil yang mereka jual juga bagus-bagus!" Jamal benar-benar mengagumi showroom mobil, yang belum pernah dia lihat ini.
Sekarang, dia bermaksud untuk masuk ke dalam, supaya bisa memilih. Kira-kira mobil mana yang akan dibeli.
"Berhenti Mas! Maaf, ada keperluan apa ya Anda masuk ke showroom ini?"
Seorang security, menghentikan Jamal yang sudah berjalan mencapai pintu masuk. Sehingga terpaksa Jamal harus berhenti, kemudian menoleh ke arah security tersebut.
"Saya mau beli mobil Pak," jawab Jamal, mengutarakan maksud kedatangannya ke showroom mobil ini.
"Beli mobil? Gak salah dengar kan Saya?"
__ADS_1
Sepertinya security tersebut tidak percaya, jika Jamal akan membeli mobil di tempatnya bekerja. Karena penampilan Jamal yang tidak menandakan, bahwa dia memiliki uang yang sangat banyak.
"Gak salah Pak. Saya memang mau membeli mobil di sini." Jamal masih berusaha menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ck! Jangan mimpi siang bolong begini deh! mana ada orang yang ke sini itu naik motor? Lihat... lihat!"
Tangan security tersebut, menunjuk ke area parkir depan showroom, semuanya adalah mobil-mobil. Hanya ada satu sepeda motor, yaitu sepeda motornya Jamal.
Oleh karena itu, security tidak percaya. Jika Jamal ke sini mau membeli mobil.
Setiap ada orang yang mau membeli mobil di showroom ini, biasanya datang dengan menggunakan mobil. Atau jika tidak, mereka datang dengan diantar oleh supirnya.
Itulah sebabnya, security tidak percaya dengan penampilan Jamal yang seperti ini. Karena penampilannya tidak menampakkan dia adalah orang kaya. Apalagi kendaraannya yang digunakan Jamal hanya sebuah sepeda motor saja. Bukan datang dengan mengendarai mobil.
"Sudah-sudah sana pergi!" hardik security tersebut pada Jamal.
"Lho Pak, Saya ini mau beli mobil, kok malah diusir sih!" Jamal tetap ngotot, dengan mengatakan bahwa dia datang ke sini untuk membeli mobil. Dan bukan untuk urusan yang lainnya.
Tapi sepertinya security itu tetap tidak percaya, sehingga menelpon bertugas yang ada di dalam, supaya keluar dan mengusir Jamal.
..."Iya Pak! Dia ngotot mau masuk. Padahal penampilannya saja tidak menyakinkan, jika dia datang membeli mobil." ...
..."Memangnya bagaimana pakaiannya?" ...
..."Ck! Cuma kemeja biasa dengan celana bahan biasa juga. Dia juga tidak membawa handphone bagus, tidak membawa dompet yang tebal." ...
..."Kendaraannya apa?" ...
..."Cuma sepeda motor saja!" ...
..."Usir saja. Buang-buang waktu kan akhirnya?Paling juga dia datang untuk melihat saja. Tidak ada gunanya!" ...
Klik!
Orang yang ada di dalam sana, justru memutuskan hubungan telpon terlebih dahulu. Dan tidak berusaha untuk melihat keluar, di mana Jamal yang masih berada di luar pintu masuk.
"Tuh kan, gak ada yang percaya jika Kamu datang ke sini mau beli mobil. Jadi lebih baik Kamu segera pergi dari tempat ini, daripada Kamu disalahkan di dalam sana. Sama saja dengan mengusir kamu!"
Security tersebut memberikan saran pada Jamal, supaya meninggalkan showroom ini.
Tapi Jamal justru tersenyum tipis, membiarkan security tersebut mengoceh semaunya. Karena Jamal memang sadar diri, jika penampilannya tidak seperti orang-orang kaya di luar sana.
"Tapi Saya juga bisa lho Pak, beli semua mobil yang dijual di sini!" tantang Jamal.
"Hahaha... kalau mau mimpi itu tidur dulu Mas, bukannya udah jalan-jalan ke mana-mana baru mimpi!"
Security tersebut, benar-benar sudah kelewat batas, dengan tidak mempercayai Jamal.
__ADS_1
"Sudah, sana-sana!"