
Anaknya kang Wahid, akhirnya mengambil pekerjaan yang ada di kebun jeruk. Dia berpikir bahwa, di kebun jeruk dia bisa belajar banyak, sama seperti Indah dulu. Dia juga punya waktu untuk merealisasikan keinginannya, yaitu bisa melanjutkan kuliah meskipun secara terbuka.
Jamal juga tidak mempermasalahkan, begitu juga indah. Dan kang Wahid menyerahkan semuanya kepada Jamal saja, mana yang dianggap lebih baik.
"Kalau begitu, Aku mengucapkan terima kasih banyak ya Mal, Indah. Dan Aku akan kembali pulang biar, anakku ada di sini memulai pekerjaannya hari ini." Kang Wahid pamit pulang, dan membiarkan anaknya mulai bekerja.
"Ya Kang, tidak apa-apa. Nanti biar istriku yang ajari Wati." Jamal menyerahkan Wati pada istrinya, supaya bisa diajari terlebih dahulu.
Anaknya kang wahid yang bernama Wati, diajak Indah untuk pergi ke kebun jeruk. Dia akan mengajari Wati, dengan apa saja pekerjaan yang bisa dilakukan di sana.
"Kamu belajar dulu ya, nanti jika sudah bisa Aku akan melepas mu bekerja sendiri. Karena aku juga harus beristirahat, dengan kehamilan ku ini. Tidak apa-apa kan Wati?" tanya Indah pada karyawan barunya itu.
Gadis manis yang baru saja mekar, karena memang baru saja lulus SMA, tentu saja dia masih malu-malu, dan belum bisa melakukan apa saja sendiri. Sehingga Indah harus bisa sabar mengajari dengan telaten.
Jamal yang masih berada di rumah, pamit pada Umi, untuk pergi ke kampung sebelah. Karena dia masih memerlukan lahan untuk keperluan jagung.
"Ami. Jamal mau pergi ke kampung sebelah dulu ya, siapa tahu ada lahan yang mau dijual warga sama seperti kemarin." pamit Jamal pada Umi, yang sedang duduk-duduk sambil memilah jeruk.
"Iya pergilah sana, tapi pamit dulu sama Indah." Umi mengingatkan Jamal.
"Ya Ami," jawab jamal pendek. Kemudian keluar dari rumah menuju ke kebun jeruk, yang memang berada di depan rumahnya.
"Sayang, Aku mau pergi dulu ya. Aku mau ke kampung sebelah, sama seperti kemarin. Tidak apa-apa kan aku tinggal? paling Aku baliknya siang atau sore," terang Jamal pada isterinya.
"Iya Mas gak apa-apa. Hati-hati ya? Oh iya, sendiri atau sama Hendra?" tanya Indah dengan pesannya juga.
"Sepertinya Aku sendiri, karena Hendra sudah mulai banyak pekerjaan di penggilingan padi. Kamu jangan lupa beristirahat, dan jangan lelah ya sayang," jawab Jamal dengan memberikan pesan kepada istrinya, kemudian memberikan sebuah mengecup di kening istrinya itu.
__ADS_1
Wati yang ada di antara mereka berdua, memperhatikan sepasang suami istri yang ada di depannya in dengan mata kagum.
Dalam hati dia mengagumi jamal, yang saat ini telah menjadi seorang petani sukses di kampungnya. Bahkan di beberapa kampung sebelah juga sudah terkenal.
'Beruntungnya mbak Indah yang punya suami mas Jamal. Sudah ganteng, baik, kaya lagi. Meskipun mbak Indah gak bekerja atau hanya tiduran di rumah saja, kayanya harta mereka ini tidak akan pernah habis. Karena ada kebun jeruk, sawah yang begitu luas sekian puluh hektar, peternakan sapi perah, dan ada lagi dan penggilingan padi. Bahkan sekarang mas Jamal sedang mencari lahan untuk perkebunan jagungnya.'
Wati membatin dalam hati, dengan semua yang sudah dia lihat.
'Di mana dan kapan ya, Aku bisa mendapatkan laki-laki seperti ini. Seandainya ada, aku mau juga dijadikan istri.'
Wati justru melamun, padahal Jamal sudah pergi dari hadapannya.
"Wat, Wati! Kamu kenapa melamun?" Indah menegur Wati yang terlihat sedang melamun.
"Kamu memikirkan pacarmu?" tanya Indah menebak, karena Wati belum menjawab pertanyaannya.
"Eh, gak kok mbak Indah. Wati belum punya pacar, hihihi..." Wati menjawab dengan malu-malu, pertanyaan yang diajukan oleh Indah padanya.
"Mbak Indah sangat beruntung ya, dapat suami seperti masih Jamal."
Wati mengatakan secara gamblang rasa kagumnya kepada jamal, secara tidak langsung dan justru itu kepada istrinya Jamal sendiri. Yang sekarang ini ada di depannya.
"Iya Wati. Aku sangat bersyukur mempunyai suami seperti mas Jamal. Dia itu selain baik, perhatian dan juga penyayang, dia juga memperhatikan sesuatu dengan sangat teliti." Terang Indah dengan mata berbinar-binar.
Di dalam hatinya Wati, dia bertekad untuk bisa mendapatkan seorang suami yang baik dan penyayang seperti Jamal.
Kamu masih kecil Wati. Tidak usah memikirkan suami dulu, lebih baik kerja dan belajar dengan baik ya," pesan indah pada karyawan barunya itu.
__ADS_1
"Lho, Mbak Indah juga masih kuliah, belum selesai kan kuliahnya? mbak Indah juga sudah menikah sekarang. Hehehe..."
Wati justru membelikan fakta bahwa, Indah tidak bisa menasehatinya seperti itu. Karena pada kenyataannya, Indah justru menikah sebelum lulus dari kuliahnya.
"Hehehe... iya juga ya! Tapi kalau bisa ya Kamu pikir dulu untuk lulus. Tapi jika kamu yakin sudah ada suami yang baik, yang menurut Kamu bisa Kamu andalkan ya gak apa-apa sih. Yang penting kuliahnya lulus ya! Aku juga masih kuliah kok, meskipun untuk beberapa ke depannya nanti, Aku mau ambil cuti dulu. Soalnya aku akan melahirkan juga."
Indah mengatakan permasalahannya dengan jadwal kuliahnya yang harus dia pending sementara waktu.
"Tuh kan, belum juga lulus Mbak Indah malah cuti dulu. Belum nanti repot dengan anak-anak." Wati mengingatkan Indah yang hanya tersenyum tipis, mendengar perkataannya.
Dalam hati indah, sebenarnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Wati. Tapi dia juga tidak bisa mengelak lagi dengan situasi yang ada pada dirinya saat ini.
"Ya sudah Kamu kerja dulu, seperti yang Aku ajarkan tadi. Jika ada apa-apa, yang Kamu tidak tahu, Kamu boleh bertanya padaku atau pada karyawan yang lainnya."
Wati hanya menggangguk saja, kemudian mengerjakan apa yang diajarkan. Sedangkan Indah duduk memantau pekerjaan Wati, juga beberapa karyawan yang lain.
Handphone Indah berdering, dan ternyata itu adalah suaminya, yaitu Jamal.
..."Ya Mas. Ada apa?"...
..."Dek. Aku lupa jika Aku memesan benih jagung secara online. Paket mungkin datangnya nanti siang, soalnya ini sudah ada pemberitahuan dari pak kurirnya. Tolong nanti dibayarkan dulu ya Dek!" ...
..."Iya Mas. Nanti kalau datang Indah bayar. Ini mas Jamal sudah sampai di kampung sebelah apa belum?" ...
... "Baru sampai, dan Aku juga bertemu dengan orang yang punya lahan kemarin. Tapi belum menemukan lahan yang baru....
..."Oh iya sudah hati-hati ya Mas. Jika sudah dapat atau belum, tapi waktunya sudah sore, sebaiknya Mas langsung pulang ya!" ...
__ADS_1
..."Iya Sayang. Aku pasti pulang kok. Masa iya Aku menginap di sawah sih, hahaha... Nanti Aku tidur sama siapa?"...
..."Iya sama kodok Mas. Hehehe..." ...