Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Belum Cukup


__ADS_3

Di dalam rumah, yang sekarang ini sudah menjadi gudang penyimpanan. Jamal seorang diri.


Ami batu saja pamit pulang, dan meminta Jamal untuk segera menyimpan kembali semua peralatan yang sudah dia cuci.


[ Ding ]


[ Cek in harian Tuan ]


'Ya Aku mau cek in harian.'


[ Ding ]


[ Cek in selesai ]


'Aku mau mencairkan poin yang sudah terkumpul, sekalian mau belajar untuk pembuatan minuman sari jeruk dan juga susu sapi segar nantinya.'


[ Ding ]


[ Sistem akan membacakan hasil kekayaan Tuan, yang masih tersimpan di sistem ]


[ Pemilik sistem bertani dari planet XMoon, dengan kode series XX1111 ]


Nama : Jamal


Umur : 26 tahun


Kekayaan : 200.000 poin


Kemampuan : Mendapatkan sistem bertani, berkebun, beternak.


Pesona : 5%


Box hadiah yang belum dibuka ada 5 box.


[ Ding ]


[ Tuan mau buka semua box ]


'Masih ada 5 box? Baiklah. Aku mau buka semua box.'


[ Ding ]


Box 1 : Kemampuan untuk mengatur kondisi tumbuhan padi dan waktu panen.


[ Ding ]


Box 2 : Hadiah tak terduga 10.000 poin


[ Ding ]


Box 3 : Pesona bertambah 25 %


[ Ding ]


Box 4 : 500 poin

__ADS_1


[ Ding ]


Box 5 : Pesona bertambah 20%


[ Ding ]


[ Semua Box selesai di buka ]


'Poinku sudah banyak. Aku mau cairkan poin tersebut, untuk modal usaha pembuatan minuman sari jeruk dan juga susu sapi segar. Agar bisa di jual dalam kemasan ke supermarket atau mini market.'


[ Ding ]


[ Modal usaha itu belu bisa tercukupi dari poin anda Tuan ]


'Benarkah? Yah... Aku tahu. Modal usaha itu tidak sedikit. Baiklah, Aku akan lebih bersabar lagi untuk rencana tersebut.'


[ Ding ]


Layar transparan sistem menghilang dari pandangan mata Jamal.


"Huhfff..."


Setelah membuang nafas panjang, akhirnya Jamal beranjak dari tempatnya berdiri. Kemudian berjalan keluar dari gudang.


Jamal mengunci pintu gudang, setelahnya dia kembali lagi ke rumahnya. Yang ada di seberang gudang ini.


****


Malam harinya, Jamal dan Umi benar-benar datang ke rumah Indah. Mereka berdua ingin menengok keadaan Indah, yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Tok tok tok!


"Assalamualaikum..."


"Assalamualaikum..."


Dari dalam rumah, terdengar suara orang yang menjawab salam mereka berdua.


"Waallaikumsalam..."


Clek!


Pintu di buka dari dalam rumah. Muncul Lina yang terkejut, saat melihat kedatangan tamu yang tidak pernah disangka-sangka oleh Lina.


"Ami... Mas Jamal... mari, mari masuk!" ajak Lina dengan gugup.


Dia benar-benar tidak pernah menyangka, jika Ami sama Jamal akan datang ke rumahnya. Meskipun dia tidak tahu, ada keperluan apa keduanya datang ke rumahnya ini. Di waktu malam hari.


"Si_silahkan duduk Ami, Mas Jamal. Silahkan duduk." Lina mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di kursi tamu, tapi dia sendiri masih berdiri. Menunggu mereka berdua duduk terlebih dahulu, baru kemudian dia bertanya tentang maksud kedatangan mereka datang ke rumahnya ini.


"Terima kasih Lin," ucap Jamal dengan menganggukkan kepalanya samar.


Sedangkan Umi hanya duduk dengan diam.


"Kami datang untuk menjenguk Indah Lin. Dia sudah pulang kan dari rumah sakit?"

__ADS_1


Jamal mengutarakan maksud dari kedatangan dirinya dan Ami nya, ke rumah ini. Sebab memang itulah maksud dari kedatangan mereka berdua malam ini.


Lina tersenyum canggung, karena sebenarnya dia berharap, jika Jamal dan Ami nya itu datang karena dirinya.


Tapi ternyata keinginan dan harapan Lina hanyalah sebuah mimpi belaka. Sebab kenyataannya tidaklah seperti itu, karena kedua tamunya ini hanya datang untuk adiknya, Indah, yang memang baru pulang dari rumah sakit.


"Lin. Lina!" panggil Jamal, membuyarkan lamunan Lina.


"Eh, emhhh iya Mas. Indah memang... hum... dia sudah pulang kok. Ta... tapi baru saja tertidur. Habis minum obat dia."


Lina tampak gugup mengatakan semua itu. Dia takut jika, Jamal dan Umi salah paham dengan maksud perkataannya. Lina merasa tidak enak hati dengan jamal dan umi, karena hanya dia saja yang bisa mereka temui l.


"Maksud kamu apa Lina?" tanya Umi. Karena tidak mungkin, jika Indah sudah tertidur jam segini. Sebab saat ini baru jam setengah delapan malam.


"Ami, Lina kan sudah bilang. Jika Indah baru selesai minum obat, jadi pasti dia mengantuk karena efek samping dari obat yang dia minum tadi." Jamal membantu Lina, memberikan penjelasan kepada Ami nya.


Untuk mengalihkan perhatian Ami dan juga Lina, akhirnya Jamal berinisiatif untuk bertanya pada Lina. Karena Lina adalah satu-satunya tuan rumah yang bisa mereka temui saat ini. "Bapak sama ibu Kamu di mana Lin?" tanya Jamal, saat melihat adanya ketegangan antara Lina dan Umi.


"Mereka berdua baru saja pergi Mas. Ada keperluan," Jamal Lina sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah Jamal yang semakin terlihat tampan di matanya sekarang ini.


"Mbak... Mbak Lina..."


Terdengar suara Indah, yang memangil nama Lina. Kakaknya, yang sekarang sedang menemani tamunya.


"Maaf mas Jamal, Ami. Lina tinggal sebentar."


Jamal dan Umi hanya mengangguk saja, karena mereka berdua juga mendengar suara Indah yang memanggil-manggil nama Lina.


"Dia sudah bangun Mal. Ami gak sabar nunggu ngomong sama calon mantu Ami."


Jamal mengelengkan kepalanya, mendengar suara Ami nya yang terdengar tidak sabar. Dan seperti ingin menyusul Indah ke dalam kamarnya.


"Sabar Ami. Nanti juga mereka akan keluar. Tapi jika tidak memungkinkan untuk bicara soal perjodohan ini, Ami harus bersabar mengunggu sampai Indah sehat dan kita tanya sendiri dulu."


"Ya-ya Mal."


Umi menyahuti peringatan yang dikatakan oleh Jamal dengan cepat. Dia hanya ingin bertemu dengan Indah, yang sudah seminggu lebih tidak bisa masuk kerja. Sehingga selama itu juga tidak melihatnya.


Sebenarnya hal yang sama juga dirasakan oleh Jamal. Tapi dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja, dan tampak seperti biasanya.


Dia tidak mau terlihat mencolok, dalam memperlihatkan keadaan hatinya.


Rasa takut jika ditolak masih membekas di ingatan Jamal. Sehingga dia tidak mudah untuk mengungkapkan perasaannya sendiri.


Tak lama kemudian, Lina muncul bersama dengan Indah. Dia memapah adiknya, yaitu Indah, yang berjalan dengan pelan ke arah kursi tamu.


"Eh..."


Dengan gerakan cepat, Jamal berdiri dan ikut membantu Indah berjalan. Bahkan jika tidak malu, Jamal akan mengendong Indah saja. Karena tubuhnya Indah masih terlihat lemah. Dengan wajahnya yang pucat.


"Terima kasih Mas," ucap Indah dengan tersenyum senang. Melihat kedatangan tamu yang dia rindukan sebulan ini.


Lina mundur ke belakang. Dia ingin membuatkan minuman untuk kedua tamunya, yang tadi belum dia sediakan.


Dia membiarkan adiknya berbincang-bincang dengan Jamal dan juga Umi. Tanpa kehadiran dirinya. Sebab Lina menyadari bahwa, baik Umi maupun Jamal, tidak merasa nyaman jika ada dirinya di antara mereka.

__ADS_1


Tapi pendengaran Lina tidak bisa di ajak kompromi. Indra pendengarannya menangkap pembicaraan yang dilakukan oleh Indah dengan Umi.


Dan apa yang Lina dengar, membuatnya meneteskan air mata sedih dan penyesalan yang mendalam di hatinya.


__ADS_2