Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Tidak Sabar


__ADS_3

Setelah melakukan ciuman yang panjang dengan Indah, Jamal meminta maaf dan pamit untuk pulang terlebih dahulu. Tapi berjanji akan datang lagi besok pagi.


Dia takut khilaf, dan kebablasan sebelum waktunya tiba. Itu tidak akan baik untuk Indah dan juga dirinya sendiri.


Indah juga hanya mengangguk saja, setelah menjawab salam. Waktu Jamal berpamitan pulang setelah kejadian yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.


Sejujurnya, Indah juga merasakan hal yang aneh pada dirinya sendiri.


Dia juga sebenarnya takut jika berduaan saja dengan Jamal seperti tadi. Tapi rasa takutnya itu bertolak belakang dengan kenyamanan yang dia rasakan.


Apalagi saat Jamal menyentuh bibirnya. Ada gelegar aneh yang muncul di dalam hatinya dan juga perasaannya pada saat itu.


Entah apa itu, padahal Indah sadar, jika apa yang tadi mereka berdua lakukan adalah salah. Namun tubuhnya seakan mengakui, jika dia justru menginginkan hal yang lebih.


"Hhh... kenapa Aku seakan-akan pasrah dengan berharap mas Jamal melakukan sesuatu yang lebih tadi? Indah... sadar Indah. Sebentar lagi juga mas Jamal jadi suami Kamu. Pasti mas Jamal juga merasa gak nyaman jika melakukan apa-apa yang memang seharusnya belum diperbolehkan."


Indah merutuki dirinya sendiri, dengan apa yang dia pikirkan dan bayangkan tadi.


Ternyata, di perjalanan pulang dari rumah Indah, Jamal juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Indah.


'Kenapa tadi Aku bodoh sekali. Apa Indah merasa takut berdekatan denganku setelah tadi? Padahal tinggal dua minggu lagi kami sah sebagai suami istri. Aku bisa bebas melakukan apa saja kan?'


"Hhh... tapi, ahhh... kenapa tadi Aku sangat ingin menciumnya? Padahal selama ini, Indah juga ada bersamaku sepanjang hari. Saat dia kerja dulu. Aku... apa yang Aku rasakan tadi ya? Ahhh, apakah Indah juga merasakan hal yang sama seperti yang Aku tadi?"


"Jadi gak sabar pengen cepet-cepet nikah."


Jamal berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati. Dengan apa yang dia inginkan dan rasakan pada saat bersama dengan Indah.


Dia merasa dua minggu kedepannya adalah waktu yang sangat lama.


Tin tin!


Dari arah belakang, ada suara motor yang ingin menyalip Jamal.


Dengan kode seperti ini, Jamal akhirnya berjalan agak ke pinggir. Agar orang yang ada di belakangnya bisa jalan mendahuluinya.


"Mal! Dari rumah calon istri ya?" tanya kang Wahid , yang ternyata ada di belakangnya Jamal dan ingin mendahuluinya tadi.


"Oh iya Kang. Dari mana mau ke mana?"


Kang Wahid memberikan kode, supaya Jamal berhenti sebentar.


Setelah keduanya sama-sama berhenti, dan tetap duduk di atas motor masing-masing. Kang Wahid akhirnya berbicara tentang keadaan kang Kasan.

__ADS_1


Selama ini, meskipun rumah dan tanah kang Kasan sudah dijual Hendra pada Jamal, tapi kang Kasan masih menempati rumah tersebut. Karena memang seperti itulah kesepakatan bersama antara Jamal dengan Hendra pada waktu itu.


Hendra meminta ijin pada Jamal, supaya membiarkan bapaknya tinggal di rumahnya itu hingga dia dipanggil oleh Allah SWT. Karena bapaknya itu tidak mau ikut bersamanya ke kota.


Sedang kabarnya Hendra sendiri, gagal menikah dengan gadis pilihannya. Meskipun sudah membeli rumah di kota, hasil dari menjual rumahnya pada Jamal.


"Kang Kasan mau di boyong saudaranya Mal. Itu lho, yang dulu merawat Sholeh. Apalagi, Sholeh sudah tidak ada."


Adiknya Hendra, Sholeh, yang dulu pernah ngamuk di rumah Jamal. Kemudian di vonis gila, dan akhirnya di rawat di rumah sakit jiwa, memang telah meninggal dunia. Tak lama setelah Hendra menjual rumahnya. Karena pada saat itu, Sholeh memang dalam keadaan kritis dan Hendra perlu banyak uang untuk membiayai adiknya itu.


Untungnya, Jamal juga mau membayar rumahnya dengan harga tinggi. Dan membiarkan kang Kasan tetap tinggal di rumahnya itu.


"Lha Hendra nya pulang gak Kang?" tanya Jamal, yang menanyakan tentang keberadaan Hendra saat ini.


"Belum Mal. Dia mungkin pulang mendekati waktu Kamu nikahan nanti. Dia kan sudah tahu, jika Kamu mau menikah dengan Indah."


"Miris Yo Mal, nasibnya kang Kasan dan Hendra. Padahal mereka dulunya adalah orang-orang yang berada dan selalu merasa kaya di bandingkan dengan orang lain."


"Ternyata roda kehidupan itu memang benar-benar berputar. Dan saat ini kamulah yang sedang ada di atas Mal. Salut Aku Mal dengan ketekunan dan kesabaran Kamu selama ini."


Kang Wahid justru berbicara panjang lebar, tentang keadaan kang Kasan, Hendra dengan Jamal juga.


"Alhamdulillah Kang. Ini juga belum ada apa-apanya kok." Jamal tetap merendah dan tidak merasa berada di atas angin.


"Itulah hebatnya Kamu Mal. Anak muda yang tetap istiqamah ada di desa G ini, dan akhirnya bisa sesukses sekarang."


"Ya sudah. Aku lanjut dulu ya!"


"Iya Kang, hati-hati."


Setelah menepuk pundak Jamal, kang Wahid pamit untuk melanjutkan perjalanan lagi.


Mungkin kang Wahid mau ke sawahnya, atau pergi ke pasar. Karena jalan ini memang menuju ke arah persawahan, dan kang Wahid juga punya sawah di sana.


*****


Malam ini, Jamal kembali mengaktifkan Sistem Bertani miliknya, untuk mempelajari beberapa hal penting terkait pekerjaan dan usaha barunya. Yaitu pengilingan padi.


[ Ding ]


[ Selamat malam Tuan ]


[ Apakah ada yang mau Tuan tanyakan ]

__ADS_1


'Apa semua alat yang Aku pesan sudah siap untuk dikirimkan?'


[ Ding ]


[ Sesuai dengan pesanan Tuan ]


[ Mesin datang bertahap, sesuai dengan kebutuhan dan tempat yang disediakan ]


'Baiklah. Aku akan mempelajari beberapa hal yang bisa Aku lakukan nantinya.'


[ Ding ]


[ Pembelajaran terkait dengan pengilingan padi modern siap ]


[ Ding ]


1%


10%


20%


30%


40%


50%...


Dan seterusnya hingga mendapatkan gambaran tentang apa yang diinginkan.


Di layar transparan sistem, Jamal bisa melihat bagaimana cara kerja mesin-mesin pengilingan padi yang canggih dan besar-besar bentuknya.


Bahkan, ada mesin pengering padi yang baru saja di panen.


Jadi, padi tetap bisa dikeringkan setelah di panen. Meskipun pada waktu itu adalah musim hujan dan tidak ada panas matahari untuk proses menjemur.


Secara umum, mesin-mesin yang digunakan dalam usaha industri jasa penggilingan padi adalah mesin pemecah kulit/sekam, (huller atau husker), mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (brown rice separator), mesin penyosoh atau mesin pemutih (polisher), mesin pengayak bertingkat (sifter).


Tapi di pengilingan padi lama, tenaga yang digunakan masih berupa tenaga manusia. Yang mengoperasikan mesin-mesin tersebut. Dengan kapasitas yang kecil.


Sedangkan Jamal menginginkan sebuah mesin canggih, yang tidak perlu banyak tenaga. Untuk memproses padi menjadi beras, yang siap untuk konsumsi secara umum dan berskala besar.


Itulah sebabnya, Jamal memesan mesin penggiling padi yang serba modern dan besar. Agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal juga. Karena selain untuk digunakan sebagai tempat proses padi sawahnya Jamal sendiri, bisa juga di sewa orang lain di sekitar Jamal.

__ADS_1


Apalagi mesin pengering padi, yang sangat penting pada saat musim panen. Tapi bersamaan dengan musim penghujan juga.


__ADS_2