
Sistem bertani dari planet XMoon, dengan kode series XX1111, telah diperbarui dengan kode series XX2121.
Cek in : Setiap hari
Hadiah : Kosong
Kemampuan : 75%
Kekayaan : 567.890.133,4
Pesona : 85%
Kecerdasan : 70/100
[ Ding ]
[ Silahkan klik untuk cek in Tuan ]
'Ok!'
[ Ding ]
[ Cek in selesai ]
[ Silahkan pilih misi tantangan ]
Meneruskan misi lanjutan
Kembali ke masa awal
Tidak ambil
Tittt.....
_____________
"Hosh... hosh... hosh..."
"Mas. Mas Jamal kenapa?"
Jamal terbangun dari tidurnya, dengan nafas tersengal-sengal. Sama seperti orang yang baru saja selesai lari dalam jarak yang cukup jauh. Sehingga tidak bisa bernafas dengan normal.
Indah juga ikut terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara suaminya yang tadi berteriak-teriak tidak jelas.
Sepertinya, Jamal baru saja mengalami mimpi. Yang membuatnya seperti orang yang baru saja selesai lari jarak jauh.
"Hosh hosh hosh..."
Jamal masih berusaha untuk menormalkan pernafasannya, dengan dibantu oleh Indah yang memberikan aba-aba.
__ADS_1
"Tarik nafas Mas, tahan, buang nafas pelan-pelan..."
"Ulangi lagi Mas. Ayo!"
Jamal mengikuti instruksi yang diberikan oleh Indah, supaya bisa lebih tenang.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Mas Jamal mimpi apa?" tanya Indah sekali lagi, dengan pertanyaan yang sama seperti yang dia ajukan tadi.
"Hhh... tidak ada Yang. Mungkin, Aku hanya sedang capek sehingga mimpinya kemana-mana." Jamal berusaha untuk menutupi mimpinya, yang baru saja dialaminya pada Indah.
Dia tidak mau, menceritakan tentang mimpinya yang berhubungan dengan sistem.
Sudah lama sekali dia tidak menengok ke planet XMoon sana. Dia juga udah lama tidak berhubungan dengan Sonya secara intim. Jadi, jamal tidak mau berpikir yang aneh-aneh, tentang mimpinya kali ini.
Apalagi Indah hanya tahu, jika dia memiliki sistem itu hanya untuk sekedar belajar atau mencari informasi tentang berbagai ilmu pengetahuan tentang bertani. Bukan tentang hal lainnya.
Jamal tidak mau, jika Indah merasa dia sedang kangen, atau ingin bertemu bersama Sonya. Hanya karena sebuah hasrat yang telah lama tidak tersalurkan, bersama dengan Sonya di planet XMoon. Bisa-bisa, Indah akan merasa cemburu atau marah. Jika tahu kebenaran tentang keadaan yang sebenarnya.
Itulah sebabnya, Jamal hanya berkata jika dia sedang dalam keadaan capek saja.
Drettt drettt drettt!
Drettt drettt drettt!
Ponsel Jamal yang ada di atas meja bergetar. Tanda jika sedang ada panggilan masuk untuknya. Sebab, jika pada malam hari ponselnya hanya akan digetarkan saja, sehingga tidak ada suara dering telpon yang akan mengganggu tidurnya.
"Siapa Mas?" tanya Indah, saat jamal mengambil ponsel tersebut.
"Tidak tahu," jawab Jamal singkat.
Bukannya mau menutup-menutupi, siapa yang saat ini sedang menghubunginya. Tapi karena Jamal memang tidak tahu, siapa yang saat ini sedang menelponnya malam-malam begini. Sebab, tidak ada nama atau profil yang jelas dari si penelpon.
Tapi, Jamal juga tidak bisa berbicara dengan si penelpon tersebut, karena pada saat Jamal mau mengangkatnya, panggilan tersebut sudah putus.
"Ck! tidak usah dipikirkan Yang. Mungkin saja orang iseng atau salah pencet tadi."
Jamal mengajak istrinya untuk kembali tidur, dan tidak memikirkan tentang si penelpon yang tidak jelas.
Indah juga tidak mau memikirkan hal apapun, karena dia memang masih sangat mengantuk. Sehingga langsung masuk ke dalam pelukan suaminya, supaya bisa cepat tertidur lagi.
Melihat Indah yang sudah kembali tertidur, Jamal berusaha untuk mengingat-ingat kembali, nomor siapa kira-kira yang tadi menghubungi dirinya saat malam-malam.
Tapi karena Jamal tidak mengingat apapun, akhirnya Jamal ikut tertidur. Dalam keadaan masih memeluk Indah.
*****
Pagi ini diperkirakan Dewi Riani datang, sesuai dengan rencana yang sudah disepakati bersama, saat menelpon kemarin.
Sedangkan Jamal sendiri, juga sudah bersiap-siap untuk membuat laporan pada pihak kepolisian. Karena akun yang kemarin menghilang itu, tidak ada niatan baik untuk memberikan konfirmasi.
Pihak agen juga tidak ada yang tahu, dan tidak bisa membantu. Sebab akun tersebut, katanya, tidak pernah memesan kentang sama sekali lewat mereka.
Justru para agen bertanya pada Jamal, mungkin saja orang tersebut memesan langsung pada Jamal sendiri.
Tapi Jamal jelas tidak tahu, karena dia tidak pernah melakukan mengirim pesanan pada pelanggan atau konsumen secara langsung, atau perorangan. Selalu melalui agen yang resmi, supaya terurus dengan baik.
Jadi, menurut beberapa orang agen, akun tersebut adalah akun bodong atau palsu. Yang memang berniat melakukan penipuan. Sama seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini di media sosial.
Itulah sebabnya, Jamal mencoba untuk melacaknya, dengan melaporkan akun tersebut dan juga nomor rekening yang kemarin dia transfer, pada pihak yang berwajib. Agar segera diselidiki, sehingga tidak menimbulkan keresahan, dan mencegah kejadian yang sama kedepannya nanti.
Jamal juga sudah melampirkan beberapa bukti, yang bisa digunakan oleh pihak kepolisian untuk mengusut dan menyelidiki laporannya.
"Indah ikut gak Mas?"
__ADS_1
"Kamu di rumah saja Yang. Nanti gak ada orang di rumah. Jika Dewi Riani datang, gak ada siapa-siapa, malah gak ada yang memberikan penjelasan padanya."
Akhirnya, Indah menurut. Dia tidak ikut bersama dengan Jamal ke kantor polisi.
"Hati-hati Mas," pesan Indah, sebelum Jamal meninggalkan halaman depan rumah.
Setelah Jamal pergi, Indah melihat anak-anaknya yang sudah bermain bersama kedua pengaruhnya. Dia juga ikut menemani mereka sebentar, sebelum melakukan aktifitasnya lagi.
Tapi kali ini, dia tidak pergi ke dapur atau masuk ke dalam rumah, untuk melakukan pekerjaan rumah. Melainkan mencari handphonenya, kemudian masuk ke Chanel Jamal Farm News. Untuk mengetahui, bagaimana cara akun yang kemarin sudah menipu suaminya.
Ternyata Indah menemukan kejanggalan, dari akun tersebut. Sebab, kemarin suaminya mengatakan, jika akun tersebut sudah dihapus dan tidak ada lagi. Tapi ternyata, baru beberapa menit yang lalu dia aktif.
"Siapa sebenarnya dia ya?" gumam Indah, sambil mencoba menelusuri akun tersebut histori akun tersebut.
Sayangnya, akun tersebut tidak banyak mengepost berita atau cerita, sehingga dia kesulitan untuk melacaknya. Pertemanan akun tersebut, jika tidak banyak.
"Fik, ini akun pascol. Yang kemungkinan besar memang biasa melakukan penipuan."
Akhirnya, Indah membuat asumsi sendiri bahwa, akun tersebut sebenarnya hanyalah akun palsu, dari seseorang yang kemungkinan besar mengenal Jamal secara langsung, atau setidaknya mengenal lebih baik daripada akun-akun yang lainnya. Yang memang orang-orang di luar sana, yang tidak pernah mengenal siapa Jamal, kecuali dari Chanel ini.
"Kira-kira, siapa ya akun tersebut?"
Indah kembali bertanya-tanya, karena masih penasaran dengan akun tersebut.
Tapi karena tidak menemukan jawaban apapun, akhirnya Indah menyerah juga. Dia menyerahkan urusan ini pada suaminya, yang saat ini sedang melaporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib.
Dia hanya bisa berharap, agar kasus ini cepat terselesaikan dengan cepat.
"Mbak. Mbak Indah!"
Salah satu pengasuh anaknya, datang mencari keberadaannya.
"Ya Mbak, ada apa?"
"Ada tamu mbak Indah," jawab pengasuh tersebut, dengan menunjuk ke arah luar rumah. Di mana ada seseorang yang baru saja datang.
"Oh ya, terima kasih ya Mbak!"
Indah berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah luar rumah.
Ternyata, yang baru saja datang adalah Dewi Riani, yang memang sudah berencana untuk datang pagi ini.
"Oh mbak Dewi. Mari masuk Mbak! Maaf ya, Saya malah lupa jika mbak Dewi mau datang pagi ini," terang Indah, dengan mempersilahkan tamunya itu untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
Dewi Riani, hanya mengangguk dan membutuhkan badannya sedikit. Sebelum masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, Indah menghubungi suaminya untuk memberitahu, jika Dewi Riani sudah sampai di rumah.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Tapi beberapa kali melakukan panggilan, Jamal tidak juga menerima panggilan tersebut.
"Mungkin sedang berada ada di jalan, jadi mas Jamal tidak bisa menerima telpon." Indah bergumam sendiri, karena jamal tidak menerima panggilannya.
"Tidak apa-apa Mbak Indah. Mungkin, Bos Jamal sedang ada keperluan penting di luar sana," ujar Dewi Riani, yang mendengar gumaman Indah.
"Eh iya. Ini tadi, Mas Jamal sedang ke kantor polisi." terang Indah memberikan penjelasan kepada Dewi Riani.
"Ke kantor polisi?" tanya Dewi Riani kaget.
"Iya. Mas Jamal mau melaporkan suatu kejadian, yang membuat kami rugi."
Dewi Riani, mendengarkan dengan mengerutkan keningnya, memikirkan apa kira-kira yang terjadi pada calon Bos nya itu.
__ADS_1
"Sebenarnya bukan masalah seberapa besar uangnya, tapi ini untuk mencegah kejadian yang sama, supaya tidak terulang lagi kedepannya nanti."
Meskipun sebenarnya Dewi Riani tidak begitu paham dengan maksud perkataan dan penjelasan Indah, tapi dia hanya bisa mengangguk saja. Karena dia berpikir jika itu hanya urusan Bos-bos.