Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )

Menjadi Petani Sukses ( Sistem Bertani )
Pengakuan Tarno


__ADS_3

Waktu berlalu, kehidupan terus berjalan sebagaimana mestinya. Sama seperti kehidupan yang dijalani oleh Jamal.


Saat ini, Kentang berwarna, sudah mulai panen lagi. Dengan semua catatan pesanan online yang sangat banyak. Dari berbagai daerah juga.


Karena Jamal sudah memiliki truk sendiri, akhirnya distribusi kentang berwarna juga semakin cepat. Dengan jangkauan yang lebih luas dan bisa memuat lebih banyak, untuk diberikan kepada distributornya.


Semua dikerjakan secara profesional, karena Jamal juga merekrut beberapa karyawan yang ahli di bidangnya.


Gudang untuk tempat parkir truk juga sudah jadi. Sehingga membuat karyawannya yang dari luar kota, bisa menginap di tempat itu, sebab dibangun juga kamar-kamar. Untuk istirahat mereka.


Jamal tidak mungkin bisa mengerjakannya semuanya sendiri, bersama dengan istrinya. Apalagi, anak-anak mereka juga sudah semakin tumbuh besar.


Ditambah lagi, sudah tidak ada Lina di antara mereka. Yamg dulunya lebih banyak berdiam diri di rumah. Dengan menjaga anak-anak.


Untungnya, ada dua orang tetangganya yang mau bekerja setiap hari. Dengan datang ke rumah Jamal, untuk menjaga anak-anak mereka. Tanpa harus menginap pada malam harinya, sebab, mereka berdua sudah memiliki keluarga sendiri.


Meskipun awalnya anak-anak belum terbiasa, tapi lama-lama mereka bisa terbiasa juga, bersama dengan dua pengasuh barunya itu.


Apalagi, Jamal dan juga Indah, lebih sering mengerjakan pekerjaan mereka dari rumah. Sebab tidak harus terjun langsung ke lahan kentang setiap harinya.


Tapi jika pada malam hari, di waktu-waktu tertentu, Jamal akan pergi pada malam hari. Untuk mencegah hama-hama yang akan menyerang tanaman kentangnya.


Sebab, hama atau penyakit pada tanaman kentang, bukan hanya kentang saja sebenarnya, akan lebih sering datang pada malam hari.


Sama seperti malam ini, Jamal sudah bersiap untuk berangkat ke lahan kentang.


Meskipun tidak mendapat misi dari sistem, Jamal sudah terbiasa pergi pada malam hari di waktu tertentu. untuk mencari ulat-ulat penggerak.


Ini dilakukan oleh Jamal, demi kualitas kentang berwarna miliknya.


Kentang berwarna ini adalah kentang khusus, yang hanya dirinya saja yang bisa membudidayakannya. Sebab, pada saat ada orang yang meminta bibit padanya. Kentang berwarna itu tidak ada yang bisa tumbuh dengan baik.


Akhirnya, tidak ada orang lain yang berusaha untuk menyaingi jamal, dalam usahanya membudidayakan kentang berwarna.


Bahkan, dia berencana untuk mematenkan kentang berwarna menjadi hak miliknya saja. Sehingga tidak akan ada yang bisa membuat kentang berwarna selain dari lahannya Jamal.


"Jamal. Mau ke mana?" tegur Tarno, pada saat bertemu dengan Jamal di jalan.


"Eh No. Ini mau ke lahan kentang. Baru pulang ya Kamu?"


"Iya ini. Maklumlah, namanya juga kuli," sahut Tarno berusaha untuk merendah.


"Halahhh... kuli dari mana? Kuli yang menerima uang masuknya. Hahaha..."

__ADS_1


Keduanya akhirnya berbincang sebentar, di pinggir jalan desa G. Jalan yang menghubungkan antara perkampungan dengan persawahan.


"Oh ya No, Aku dengar Kamu kemarin sedang ada proyek di Bali. Bus-bus pariwasata Kamu di kontrak ke sana ya?"


Jamal ingat, jika kemarin dua pengasuh anak anaknya membicarakan tentang anaknya mantan lurah tersebut. Sebab, bapaknya Tarno sudah tidak menjabat sebagai lurah lagi, tapi sudah pensiun.


"Hehehe... Iya. Aku di sana ada sepuluh hari. Ya, namanya kuli kernet. Jadi ikut aja sih, ke mana bus itu pergi."


Tarno memang sering mengikuti rombongan bus miliknya, jika ada kegiatan keluar kota atau keluar pulau. Karena di sewa oleh pihak-pihak tertentu.


"Enak ya No. Kerjanya jalan-jalan terus udah gitu dibayar lagi!"


Jamal memuji pekerjaan Tarno, yang menurutnya enak dan mudah.


"Hahaha... ya enak gak enak Mal! Namanya juga kerja. Tapi, bagaimanapun juga, lebih enakan Kamu menurutku."


Jamal memiringkan kepalanya, mendengar pernyataan yang diucapkan oleh tarno barusan. Dia tidak pernah menyangka, jika kehidupan dan pekerjaannya ini di impikan seorang Tarno.


Teman sekaligus tetangganya sedari kecil, yang menurut sama sendiri adalah anak yang paling beruntung pada waktu itu.


Sebab, Tarno terlahir dari keluarga yang berada. Sehingga selalu berkecukupan sedari kecil, dan menjadi tolok ukur kebagian anak-anak di masa kecilnya Jamal sendiri.


Menurut Jamal, Tarno adalah sosok seorang anak yang paling bahagia di masa lalunya. Karena selalu memiliki uang saku yang cukup banyak setiap berangkat sekolah, pakainnya selalu bersih, dan sepatunya selalu baru saat naik kelas.


Akhirnya, Tarno mengatakan pemikirannya tentang kehidupan Jamal. Yang menurutnya sekarang ini lebih enak dibandingkan dirinya.


Mulai dari penerjemah yang selalu berhasil, kehidupan keluarga Jamal yang menurutnya sudah sangat bahagia. Di tambah lagi, kemarin-kemarin, Jamal sempat memiliki dua istri juga.


"Pasti Kamu sangat bahagia kan Ma? Padahal, Aku sempat berpikir meminta Lina, untuk Aku jadikan istri."


Kalimat terakhir Tarno, semakin pelan saat mengutarakan keinginannya itu.


Jamal menyipitkan matanya, mendengar pengakuan Tarno malam ini. Karena dia memang tidak pernah mengetahui, jika temannya itu menaruh hati dengan istri keduanya.


"Maaf No. Aku gak tahu, jika Kamu menyukai Lina. Kenapa Kamu tidak meminta Lina untuk menjadi istri Kamu, sewaktu Hendra sudah dinyatakan meninggal. Bahkan, cukup lama juga lho, Lina itu menjanda!"


Tarno tersenyum miris, mengingat jika dia tidak berani menghadapi Lina, yang dulunya memang sedikit arogan karena sombong.


Meskipun dia termasuk orang kaya, tapi wajahnya tidaklah setampan Jamal maupun Hendra. Sehingga tingkat kepercayaan dirinya, untuk mendekati seorang wanita tidak begitu besar.


Dia akan merasa rendah diri, jika melihat keadaan wajahnya. Yang dia pikir jauh dari kata tampan.


"Besok-besok, jika Kamu menyukai wanita itu ngomong saja. Soal ditolak atau diterima itu resiko. Kita laki-laki No. Wajar saja jika ada wanita yang menolak. Tapi, menurutku rugi. Jika ada wanita yang menolak mu!"

__ADS_1


Kening Tarno mengeryit heran, mendengar pernyataan Jamal ya membicarakan soal wanita.


"Maksudnya rugi bagaimana?" tanya Tarno ingin kejelasan.


"Hahaha... ya rugi, udah orang kaya, entar di ajak jalan-jalan terus! Mana ada wanita sekarang yang tidak tertarik?"


Tarno tersenyum tipis mendengar jawaban yang diberikan oleh Jamal.


"Hehehe... Tapi Mal, kemarin itu waktu ada di Bali, Aku kenalan sama seorang wanita cantik. Katanya, dia dari kota ini lho!"


Tarno bercerita dengan antusias, tentang wanita yang dikenalnya saat berada di Bali.


"Terus, Kamu gak nanya alamat rumahnya?"


"Aku kelupaan tanya Mal! Minta nomor handphone miliknya saja, Aku lupa! Aku... udah grogi duluan sih," keluh Tarno, menyesali semua hal yang dia lupakan.


"Wah repot itu. Bagaimana caranya, Kamu bisa melacak rumahnya? ika kamu tidak tahu nomor teleponnya atau alamat rumahnya."


Tarno justru nyengir kuda, menyadari kesalahannya yang tidak bisa diperbaiki.


"Terus, Kamu nggak tahu apa-apa lagi datang dia?" tanya Jamal, yang sepertinya tertarik dengan cerita tarno. Soal sosok wanita yang dikenalnya saat berada di Bali.


"Kalau tidak salah... namanya itu, Kadek Ajeng. Khas Bali ya Mal?"


Deg!


Mendengar nama yang disebutkan oleh Tarno, Jamal justru teringat dengan Ajeng, yang dulu pernah dia temui di Bali. Di saat dia dalam perjalanan ke bandara bersama dengan Indah, setelah selesai melakukan honeymoon.


'Ajeng, apa Ajeng nya Tuan Wiro sudah pulang? Jangan-jangan, itu adalah Ajeng nya Tuan Wiro? Bukannya tadi Tarno bilang, jika dia berasal dari kota ini juga?'


"Mal. Woiii Mal!"


"Eh.. iya No. Bagaimana?"


"Ck! Kamu ini malah melamun. Aku kan sedang menjelaskan sama Kamu, tentang nama wanita itu. Namanya itu khas orang-orang Bali sana, tapi kenapa dia mengaku berasal dari kota ini?"


Jamal juga sedari tadi sedang memikirkan hal itu, sama yang sedang dibikin oleh Tarno.


Tapi dia tidak mau membuat prasangka terlebih dahulu. Karena belum tentu, wanita yang ditemui oleh Tarno, adalah Ajeng anaknya tuan Wiro dan Nyonya Yenny.


"Tapi... katanya dia janda No."


Deg!

__ADS_1


Jantung Jamal kembali berdegup kencang, di saat Tarno kembali memberikan penjelasan, jika wanita yang dikenalnya saat itu adalah seorang janda.


__ADS_2